Oleh : Prof. Ir. Budi Indarsih, M.Agr.Sc., Ph.D*
Permintaan telur dan bibit puyuh jepang (Coturnix coturnix japonica) semakin meningkat di Indonesia, khususnya di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Telurnya banyak dimanfaatkan untuk pembuatan bakso isi telur, sedang tidak sedikit anak puyuh jantan yang menjadi perburuan penghobi untuk dijadikan kontestan dalam lomba suara. Meningkatnya permintaan bibit puyuh memberikan tantangan bagi usaha pembibitan untuk menyediakan DOQ (Day Old Quail). Salah satunya dalam menghadapi kendala pada pasokan listrik untuk pemanas. Kurangnya pasokan listrik, pasokan listrik yang tidak teratur atau terputus-putus, sering menyebabkan terjadi pemadaman listrik.
Oleh karena itu, sebagai strategi alternatif, diperlukan inkubator yang tidak menggunakan listrik untuk memenuhi permintaan tersebut. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa suhu rendah selama inkubasi berdampak negatif pada perkembangan embrio (Ben-Ezra dan Burness, 2016) dengan konsekuensi seperti tertundanya penetasan (Bertin et al 2018), kematian embrio dini (Nakage et al 2003) atau rendahnya tingkat kelangsungan hidup (Laenoi dan Buranawit 2016). Artinya, terputusnya atau gangguan pasokan listrik selama inkubasi mengakibatkan rendahnya daya tetas dan daya hidup DOQ.
Keuntungan lain dari memiliki inkubator non-listrik adalah peternak kecil yang tinggal di daerah terpencil dan pedesaan dapat mengembangkan usaha penetasan ini tanpa khawatir listrik padam. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa sistem penetasan tradisional menggunakan sekam padi (Dessie 1995; Roy et al 2004; Sumy et al 2012) dan pasir (Sumy et al 2012; Kassu dan Beyero 2015) sebagai pemanas menghasilkan daya tetas lebih dari 50% pada ayam dipelihara ekstensif (Sumy dkk 2012). Namun, serbuk gergaji sebagai media penempatan dan penghangat telur belum banyak diteliti sebelumnya.
Serbuk gergaji sangat murah dan berguna bagi peternak kecil yang tidak memiliki akses terhadap permodalan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan oleh salah satu tim peneliti Fakultas Peternakan Universitas Mataram bertujuan untuk menentukan ketebalan serbuk gergaji yang optimal sebagai pemanas inkubator tradisional yang menghasilkan daya tetas cukup tinggi.
Proses persiapan mesin tetas
Menetaskan telur puyuh fertil dengan serbuk gergaji dibutuhkan bantuan kompor minyak tanah sebagai sumber panasnya. Penelitian ini menggunakan tiga buah kompor minyak tanah yang diletakkan di tengah-tengah kotak penetasan, sesuai dengan laporan Dessie (1995). Untuk menciptakan kelembaban, panci plastik diisi air (Gambar 1). Suhu inkubator serbuk gergaji dijaga antara 37,5oC dan 39oC dengan kelembaban relatif antara 70% dan 75%.
Rangka inkubator (panjang 90 cm dan lebar 70 cm) terbuat dari kayu biasa dan dilengkapi rak kawat untuk menampung serbuk gergaji dan telur (Gambar 2). Satu rak penetasan terdiri dari sembilan counter kecil berukuran 30 x 23,3 cm. Ketinggian rak penetasan dari lantai adalah 50 cm. Inkubator ditutup dengan karpet hitam agar panas kompor minyak tanah dapat merata ke seluruh ruangan inkubator. Percobaan menerapkan tiga ketebalan serbuk gergaji yang berbeda (2, 3, dan 4 cm). Ketiga kotak kecil dalam inkubator diisi dengan 100, 150 dan 200 g serbuk gergaji sehingga diperoleh ketebalan serbuk gergaji yang diperlukan seperti yang dimaksud.
Telur dibalik dua kali sehari dengan interval 12 jam. Telur yang diteropong pada hari ke-5 tidak menunjukkan perkembangan embrio (infertil), kemudian diulangi pada hari ke-10 dan ke-14 untuk menghitung kematian embrio awal dan menengah (Gambar 3). Mati dalam cangkang dihitung untuk telur fertil yang belum menetas sebagai kematian embrio akhir.
Inkubator listrik
Inkubator yang digunakan berukuran kecil dengan kapasitas 300 butir telur. Dipilih bahan kayu lapis untuk inkubator konvensional sebagai kontrol (Gambar 4) karena bahan ini paling umum digunakan dalam penetasan komersial oleh usaha skala kecil. Telur fertil yang digunakan berasal dari sumber yang sama.
Meskipun tidak ada perbedaan (p>0,05) hasil penetasan karena ketebalan serbuk gergaji yang berbeda, telur puyuh fertil yang diinkubasi dengan serbuk gergaji tebal 2 cm menunjukkan daya tetas tertinggi dihitung berdasarkan jumlah telur fertil yang ditetaskan dengan kematian embrio terendah (Tabel 1). Dengan tebal 2 kemungkinan menghasilkan panas yang lebih merata karena lapisan tipisnya mudah ditembus oleh sumber panas sehingga pada akhirnya merangsang perkembangan embrio telur fertil.
Tabel 1. Pengaruh ketebalan serbuk gergaji sebagai pemanas terhadap kinerja penetasan |
|||||
Perlakuan |
|||||
Parameter (%) |
Ketebalan serbuk gergaji (cm) |
||||
2 |
3 |
4 |
SE |
p value |
|
Daya tetas ( berdasarkan jumlah telur yang ditetaskan) atau HS |
70.8 |
71.5 |
68.3 |
7.0 |
0.28 |
Daya tetas berdasarkan telur fertil (fertil egg basis) atau HF |
87.1 |
81.7 |
76.8 |
2.8 |
0.31 |
Kematian embrio awal (early embryonic mortality |
2.7 |
2.2 |
8.5 |
2.8 |
0.06 |
Kematian embrio tengah (intermediate mortality) |
0.9 |
3.3 |
2.2 |
1.5 |
0.24 |
Kematian embrio akhir (late embryonic mortality atau dead in-shell) |
9.3 |
12.9 |
12.5 |
3.3 |
0.13 |
SE: standard error |
|||||
Pengaruh sumber panas terhadap persentase daya tetas telur fertil (HF), daya tetas dihitung berdasarkan jumlah telur yang ditetaskan (HS). HF pada inkubasi serbuk gergaji sebesar 81,9% dan pada inkubator listrik sebesar 85,0%. Hal ini menunjukkan bahwa serbuk gergaji sebagai media perpindahan panas dari sumber panas ke inkubator mampu memberikan suhu inkubator mencapai kurang lebih 38oC sesuai yang diharapkan dan mempertahankan suhu inkubator pada 37,5 ± 0,5oC yang merupakan syarat suhu optimal untuk penetasan telur puyuh (Ben-Ezra dan Burness 2016). Hal ini sejalan dengan laporan French (2009) yang menyatakan bahwa suhu inkubator antara 37oC dan 38oC sangat penting untuk perkembangan embrio normal.
Alasan lain yang mungkin menjelaskan tidak ada perbedaan antara suhu inkubator serbuk gergaji dibandingkan dengan inkubator listrik adalah tidak adanya perbedaan kematian embrio (awal, menengah, dan akhir) yang diamati (Tabel 2). Studi Abdelfattah (2019) mengamati peningkatan kematian dini dan menengah pada inkubator suhu tinggi (41oC) dan suhu inkubator mempengaruhi suhu embrio (Lourens 2008), dan salah satu efek negatif dari hipertermia adalah kehilangan air telur yang berlebihan (Nakage et al 2003). Pernyataan tersebut terbukti dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suhu inkubator merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi daya tetas. Peneliti sebelumnya (Joseph dkk, 2006 dan French, 2009) juga melaporkan pengaruh signifikan suhu cangkang telur selama inkubasi terhadap daya tetas.
Tabel 2. Perbandingan hasil penetasan telur puyuh menggunakan sumber panas berbeda |
||||
Parameter (%) |
Perlakuan sumber panas |
|||
Serbuk gergaji |
Listrik |
SE |
p value |
|
Daya tetas ( berdasarkan jumlah telur yang ditetaskan) atau HS |
70.2 |
75.6 |
3.5 |
0.18 |
Daya tetas berdasarkan telur fertil (fertil egg basis) atau HF |
81.9 |
82.4 |
5.9 |
0.27 |
Kematian embrio awal (early embryonic mortality |
4.5 |
2.5 |
2.6 |
0.07 |
Kematian embrio tengah (intermediate mortality) |
2.1 |
4.0 |
1.4 |
0.21 |
Kematian embrio akhir (late embryonic mortality atau dead in-shell) |
11.6 |
11.9 |
4.5 |
0.12 |
SE: standard error |
||||










