POULTRY INDONESIA, Malang – Permasalahan jagung seperti permasalahan tahunan yang hadir setiap bulan Agustus – September. Oleh karena itu diperlukan strategi solusi agar permasalahan ini bisa tertangani dengan baik dan perunggasan juga tetap bertahan.
Hal ini seperti disampaikan oleh Dr. Ir. Indyah Aryani, MM, selaku Kepala Dinas Peternakan, Provinsi Jawa Timur ketika mengisi kuliah tamu di Fakultas Peternakan, Universitas Brawijaya, Malang ( 31/8) dengan tema “Tantangan dan Peluang Menuju Peternakan di Jawa Timur yang Maju”.
Menurutnya, alternatif solusi pada permasalah jagung ini adalah dengan memberikan subsidi. Subsidi itu merupakan selisih antara harga pasar jagung, dengan harga yang ditetapkan oleh Badan Pangan Nasional (Bapanas).
“Kalau harga jagung di pasar Rp6.200,00-6.300, 00 per kilogram, sedang harga dari Bapanas Rp5000, 00 per kilogram, maka subsidi yang diberikan pemerintah adalah Rp1.200,00-1.300,00 per kilogram,” terangnya.
Indyah mengungkapkan bahwa kebijakan subsidi ini sudah dilakukan tahun lalu. Sedang tahun ini sedang diajukan. Dimana syaratnya adalah peternak yang memiliki populasi 11.500 ekor ke bawah, dengan mekanisme melalui koperasi atau asosiasi.
“Selain itu, kami juga sudah membuat pabrik tepung telur di Blitar sebagai solusi jika harga telur jatuh,” tegasnya.
Indah juga mengakui bahwa permasalahan di perunggasan cukup komplek, terutama permasalahan bahan pakan yang masih impor. Menurutnya sebanyak 30 persen dari bahan pakan adalah impor, dimana harganya sangat dipengaruhi oleh nilai dolar. Jika dolar sedang naik, maka harga pakan pun cenderung akan naik.
“Kalau pakan naik, implikasinya daging dan telur ayam juga akan naik,” tegasnya.
Lebih lanjut, dirinya melihat bahwa importasi ini juga dipengaruhi oleh kondisi negara eksportir, sebagai contoh Rusia dan Ukraina yang sedang mengalami konflik. Sedang mereka adalah negara penghasil dan eksportir serealia dunia.
“Kalau mereka konflik, maka tidak ada yang bercocok tanam, seperti beberapa waktu lalu ada pengiriman MBM dan DDGS dari Rusia kemudian dibom oleh Ukraina. Akhirnya terjadi gejolak harga pakan, akibatnya harga telur naik, harga daging ayam naik dan terjadi inflasi,” terangnya.
Menurutnya semua itu disebabkan oleh belum adanya kemandirian dalam pemenuhan bahan pakan dalam negeri. Sebagai contoh sumber protein yang juga masih impor. Padahal Indonesia mempunyai sumber daya laut yang luar biasa, ikannya juga banyak yang seharusnya bisa dimanfaatkan.
“Kami sedang mencari investor yang mau bekerja sama dalam pengolahan ikan menjadi tepung ikan. Kami mempunyai banyak lahan milik Pemprov yang bisa digunakan,” pungkasnya.