POULTRYINDONESIA, Jakarta – Perubahan iklim yang semakin nyata terlihat, mendorong harga berbagai komoditas menjadi tidak stabil, dengan margin dan adanya gangguan pasokan. Disisi lain kontaminasi mikotoksin menjadi ancaman yang semakin meningkat bagi produsen ternak dan produsen pakan.
Atas dasar tersebut, Selko yang merupakan salah satu merk dagang feed additive dari Nutreco menyelenggarakan webinar bertajuk “Global Mycotoxin Review 2022 update and outlook for 2023” yang diselenggarakan secara daring, Selasa (31/1). Kegiatan ini diselenggarakan sebanyak dua sesi pada 09.00 dan 16.00 CET. Selko berupaya untuk memberikan informasi mengenai data dan tren global, serta perbandingan konsentrasi mikotoksin dalam bahan mentah dan pakan sesuai dengan fokus wilayah Asia, Afrika, Eropa dan Amerika.
Dalam webinar tersebut Selko menjabarkan berbagai macam mikotoksin yang ditemukan pada lebih dari 50.000 sampel bahan baku dan pakan jadi yang rutin dilakukan setiap tahunnya. Pedro Caramona selaku Global Business Director Feed Safety & Quality Selko menyebutkan bahwa kondisi iklim saat ini sangat berpengaruh dengan keberadaan mikotoksin di lingkungan dan tidak bisa dihindari.
Baca Juga: Penggunaan Teknologi untuk Mencapai Efisiensi
“Keberadaan mycotoxin sangat kompleks maka dibutuhkan preventive dan melakukan quality control pada bahan baku yang digunakan. Saat ini sangat dibutuhkan solusi, Selko memiliki memiliki data realtime  yang didapatkan lebih dari 200 lokasi di seluruh dunia. Kami memiliki data mycotoxin terhadap lebih dari 50.000 bahan mentah dan sampel pakan lengkap,” ucap Pedro.
Big data yang dimiliki Selko dapat membantu para para produsen pakan, supplier, serta para stakehloder lain untuk lebih memahami kondisi saat ini.
“Adanya data ini dapat digunakan dalam menganalisa dan melihat hubungan dengan tren global yang sdang terjadi pada mycotoxin. Hal ini tentu sangat menarik, hubungan antara perubahan iklim dan melihat hal-hal yang terjadi lainnya diberbagai wilayah seperti Asia, Afrika, Amerika dan Eropa dapat menjadi fokus kita dalam mengatasi mycotoxin” ujarnya.
Selanjutnya, Dr. Swamy Haladi, Phd  selaku Global TEchnical/ Commercial Manager Mycotoxin Risk Management Program, Selko dalam persentasinya menyebutkan bahwa diperlukan strategi untuk mengurangi risiko keberadaan mycotoxin yang terus berkembang dengan cara yang menarik dan  efektif untuk meminimalkan dampak mycotoxin untuk mempertahankan produksi protein hewani. Ia mengungkapkan ditemukan 31- 69% kontaminasi mycotoxin dari berbagai sampel yang telah diteliti.
“Para pengimpor biji-bijian harus mewaspadai ancaman mycotoxin dari berbagai wilayah, seperti keberadaan Aflatoxin yang menjadi kontaminan utama di Asia sementara Fumonisin menunjukkan kontaminasi tertinggi di Amerika Latin dan di Amerika Utara menunjukkan kontaminasi tertinggi untuk semua mikotoksin lainnya,” terangnya.
Haladi mengingatkan dengan adanya perubahan iklim yang terjadi perlu dilakukan evaluasi konsentrasi mycotoxin secara rutin, karena menunjukan meningkatnya variasi dan konsetrasi mycotoxin pada bahan baku pakan yang ada.
“Pada akhir tahun 2022, konsentrasi T-2HT2 dan fumonisin mulai meningkat dan karenanya kita perlu mewaspadai mikotoksin ini pada paruh pertama tahun 2023,” ujar Haladi.