Oleh : Dr. Ir. Jolyanis Lainawa, M.Si.*
Konsep pertanian kooperasi pada hakikatnya adalah usaha kolaboratif melalui suatu sistem manajemen. Konsep ini menggabungkan peternakan kecil hingga menjadi usaha dengan skala lebih besar yang memenuhi skala ekonomi, sehingga menjadi lebih efisien, produktivitas tinggi, produk homogen, dan kualitas produksi yang lebih tinggi. Dengan demikian dapat menghasilkan produk yang dapat berdaya saing.
Langkah strategi prioritas dalam pengembangan agribisnis ayam kampung di Sulawesi Utara adalah mendidik dan melatih peternak, meningkatkan jaringan kemitraan agribisnis, meningkatkan peran kelembagaan agribisnis dan kelembagaan sosial.
Menurut Sri Nuryanti (2005), koperasi pertanian memiliki beberapa kriteria yang sesuai dengan karakteristik Keanekaragaman biofisik-sosial pertanian Indonesia. Untuk setiap ruang membutuhkan desentralisasi dan manajemen “dari bawah ke atas”. Lebih lanjut, menurut Sri Nuryanti, konsep koperasi tani merupakan manajemen yang sangat penting untuk menguatkan para peternak melalui berkelompok, rekayasa sosial, rekayasa ekonomi, rekayasa teknologi, dan rekayasa nilai tambah produk.
Dalam teori strategi koperasi menurut Hitt et al (2004), penggunaan teori ini dapat digunakan untuk mencapai tujuan bersama, dalam hal ini berbagi tujuan atau goals. Selanjutnya, Hill et al juga menekankan bahwa menggabungkan beberapa sumber daya dan kemampuan dapat menciptakan keunggulan yang lebih kompetitif. Menurut Cline (2001), keuntungan penting yang diperoleh dari strategi kolaborasi ini adalah bahwa perusahaan dapat mendapatkan akses dari mitranya. Karena menurut Rudberg dan Olhager (2003), memiliki akses ke beberapa mitra dapat meningkatkan keunggulan yang kompetitif, sebab mempunyai kumpulan sumber daya dan bersifat berkembang secara bersama. Yang pada gilirannya, pengembangan tersebut akan merangsang inovasi produk yang berdaya saing.
Dari hal tersebut, penulis tertarik dan telah meneliti konsep koperasi sebagai model strategi bisnis ayam kampung di Sulawesi Utara. Ayam buras atau ayam kampung merupakan salah satu jenis unggas yang potensial dikembangkan di Sulawesi Utara. Ayam kampung sudah lama dipelihara oleh masyarakat di Sulawesi Utara, terutama mereka yang tinggal di daerah pedesaan dan pinggiran kota (sub-urban). Ayam ini menjadi salah satu hewan ternak yang dwifungsi atau dapat dimanfaatkan sebagai ayam petelur maupun pedaging.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan, perkembangan populasi ayam kampung di Provinsi Sulawesi Utara meningkat dari tahun ke tahun. Dalam laporannya Muladno (2015), menunjukkan bahwa ayam kampung memiliki prospek pasar yang sangat baik karena didukung oleh karakteristik produk dari ayam kampung berupa daging dan telur yang digemari masyarakat Indonesia. Harganya pun masih terbilang relatif terjangkau, ditambah dengan akses perolehan yang mudah. Komoditas ini merupakan salah satu pendorong utama pasokan protein hewani nasional, sehingga prospeknya harus dimanfaatkan untuk memberdayakan peternak pedesaan melalui penggunaan sumber daya yang lebih optimal.
Roosganda dan Rusdiana (2012) melaporkan bahwa perkembangan ayam kampung di Indonesia masih diperlukan peningkatan baik dari segi teknologi pemeliharaan, kesehatan ternak, permodalan dan pendampingan pemasaran. Pentingnya pengembangan usaha budi daya ayam kampung dengan pendekatan model agribisnis. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas guna memenuhi kebutuhan konsumsi manusia. Model pemeliharaan tradisional yang dipertahankan oleh peternak ayam kampung di Sulawesi Utara secara turun temurun gagal menangkap peluang usaha.
Oleh karena itu, diperlukan suatu model strategi yang tepat bagaimana cara memelihara sistem peternakan ayam kampung di Provinsi Sulawesi Utara yang berorientasi pada pendekatan sistem agribisnis konsep kooperasi. Pemangku kepentingan yang terlibat dalam kegiatan agribisnis ayam kampung harus terwakili dari unsur-unsur yang saling mendukung yaitu peternak, pengusaha atau investor dan pemerintah. Riset ini dilakukan untuk membuat model pengembangan sistem agribisnis dengan mempertimbangkan faktor sosial, ekonomi, teknologi dan peningkatan nilai tambah.
Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan studi kasus dengan metode analisis deskriptif dan analisis perumusan strategi tiga tahap. Tujuannya adalah untuk menggambarkan, merangkum berbagai kondisi, situasi, atau berbagai fenomena realita serta rumusan strategi usaha peternakan ayam kampung di Sulawesi Utara. Dalam penelitian ini, data primer dikumpulkan dan diperoleh secara langsung melalui observasi, dan wawancara dengan pihak yang dianggap memahami permasalahan agribisnis ayam kampung di Sulawesi Utara.
Mereka adalah ketua kelompok tani di Kabupaten Minahasa dan Bolaang Mongondow sebanyak tiga orang, Dinas Pertanian dan Peternakan Provinsi Sulawesi Utara, serta dua Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Sam Ratulangi yang aktif melakukan penelitian dan dedikasi tentang agribisnis ayam kampung. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dan diperoleh dari artikel atau literatur yang relevan, internet dan data Badan Pusat Statistik. Analisis data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif dan analisis perumusan strategi tiga tahap yang meliputi analisis lingkungan eksternal (EFE) dan lingkungan internal (IFE), analisis matriks IE (Internal-Eksternal) dan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat).
Analisis pengembangan bisnis ayam kampung di Sulawesi Utara
Pemeliharaan ayam kampung di Sulawesi Utara dapat ditemukan di seluruh desa, dan merupakan salah satu jenis unggas lokal yang umumnya dipelihara sebagai penghasil telur tetas, telur konsumsi, dan daging. Biasanya, usaha ini dilakukan secara sambilan, kemudian sewaktu-waktu dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Berdasarkan hasil survei menunjukkan bahwa ayam kampung memiliki prospek usaha yang menjanjikan, baik secara ekonomi maupun sosial. Karena selain sebagai sumber pangan bergizi tinggi (daging dan telur), potensi permintaan pasarnya relatif tinggi, terutama bagi konsumen perkotaan di Provinsi Sulawesi Utara.
Secara umum, terdapat 3 sistem pemeliharaan ayam kampung di Provinsi Sulawesi Utara yaitu sistem ekstensif (tradisional) yang biasa dilakukan oleh rumah tangga petani pedesaan, dimana ayam kampung diberikan akses bebas di sekitar lingkungannya untuk memperoleh makanannya. Dengan begitu, kebutuhan gizinya secara alami tercukupi dengan sumber daya yang tersedia di sekitar lingkungannya, dengan perhitungan teknis dan ekonomis. Sistem perkandangannya pun juga terbilang sederhana, hanya cukup untuk menjadi tempat berlindung. Kemudian, sistem semi intensif, dimana peternak menyediakan kandang atau pagar ayam kampung dan mulai memberi pakan tambahan. Selanjutnya sistem intensif, dimana ayam kampung dikandangkan sepanjang hari, pemberian pakan dan pencegahan penyakit dilakukan secara teratur dan intensif oleh peternak.
Berdasarkan analisis, sekitar 80 % sistem pemeliharaan ayam kampung di Sulawesi Utara merupakan sistem ekstensifikasi tradisional. Untuk mengembangkan usaha menjadi sistem agribisnis (intensif), peternak masih menghadapi kendala modal, pengetahuan teknologi dan akses pemasaran. Hal lain adalah peternak merasa nyaman dengan sistem pemeliharaan tradisional ekstensif, sebab tidak membutuhkan modal yang besar dan tujuan beternak ayam hanya untuk kebutuhan konsumsi.
Tabel 1. Nilai IFE (Internal Factors Evaluation)
No. |
Strength (Kekuatan) |
Bobot (%) |
Nilai |
Skor |
Rank / peringkat |
1 |
Potensi limbah pertanian sebagai pakan |
0.265 |
3 |
0.796 |
I |
2 |
Sumber daya manusia |
0.263 |
2 |
0.526 |
II |
3 |
Sumber daya lahan |
0.262 |
2 |
0.486 |
III |
4 |
Regulasi pemerintah |
0.210 |
2 |
0.420 |
IV |
Sub-total |
1.000 |
2.228 |
|||
No. |
Weakness (Kelemahan) |
Bobot (%) |
Nilai |
Skor |
Rank / peringkat |
1 |
Jaringan mitra |
0.175 |
1 |
0.175 |
II |
2 |
Inovasi teknologi |
0.173 |
2 |
0.346 |
IV |
3 |
Badan sosial |
0.194 |
1 |
0.194 |
VI |
4 |
Institusi agribisnis |
0.191 |
1 |
0.191 |
V |
5 |
Pengetahuan peternak |
0.157 |
1 |
0.157 |
I |
6 |
Fasilitas produksi |
0.110 |
2 |
0.220 |
III |
Sub-total |
1.000 |
1.283 |
|||
Total skor (strength + weakness) |
3.511 |
||||
Berdasarkan hasil IFE (Tabel 1), model konsep koperasi pertanian yang meliputi rekayasa sosial, rekayasa ekonomi, rekayasa teknologi dan rekayasa nilai tambah dapat menjadi faktor kekuatan utama. Sedangkan kekuatan pendukungnya adalah potensi limbah pertanian sebagai pakan ternak. Hal ini dikarenakan Provinsi Sulawesi Utara merupakan daerah pertanian tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan. Faktor kekuatan lainnya antara lain ketersediaan sumber daya manusia, sumber daya lahan dan komitmen serta program pemerintah dalam pengembangan peternakan ayam kampung. Disisi lain, kekurangannya adalah kurangnya pengetahuan beternak ayam kampung secara modern (intensif), kurangnya jaringan kemitraan dari hulu ke hilir, sulitnya memperoleh sarana produksi khususnya DOC, lemahnya inovasi teknologi, minimnya sistem kelembagaan dan badan sosial agribisnis.
Tabel 2. Nilai EFE (External Factors Evaluation)
No. |
Opportunity (Peluang) |
Bobot (%) |
Nilai |
Skor |
Rank / peringkat |
1 |
Komitmen pemerintah melalui programpemenuhan pangan asal ternak danpertanian agribisnis rakyat |
0.261 |
3 |
0.783 |
V |
2 |
Pengalaman beternak ayam kampung |
0.181 |
2 |
0.362 |
IV |
3 |
Harga jual lebih tinggi dari ayam kampung |
0.166 |
3 |
0.498 |
II |
4 |
Preferensi konsumen terhadap rasa daging ayam kampung |
0.196 |
3 |
0.588 |
I |
5 |
Daya tahan ayam kampung lebih kuat dan lebih adaptif terhadap perubahan cuaca |
0.196 |
2 |
0.392 |
III |
Sub-total |
1.000 |
2.623 |
|||
No. |
Threats (Ancaman) |
Bobot (%) |
Nilai |
Skor |
Rank / peringkat |
1 |
Kompetisi dengan perusahaan besar |
0.275 |
1 |
0.275 |
IV |
2 |
Menurunnya angka tenaga kerja di sektor peternakan |
0.180 |
1 |
0.180 |
I |
3 |
Adanya wabah penyakit |
0.180 |
2 |
0.360 |
II |
4 |
Kompetisi penggunaan dan alih fungsi lahan |
0.185 |
1 |
0.185 |
III |
5 |
Perubahan iklim yang memengaruhi pengadaan pakan dankesehatan Hewan |
0.180 |
2 |
0.360 |
II |
Sub-total |
1.000 |
1.360 |
|||
Total skor (opportunity + threats) |
3.983 |
||||
Berdasarkan hasil EFE (Tabel 2), peluang (opportunity) utama dalam pengembangan agribisnis adalah preferensi konsumen terhadap rasa daging ayam kampung, diikuti dengan harga jual yang lebih tinggi dibandingkan broiler, memiliki daya tahan tubuh yang kuat terhadap perubahan lingkungan, pengalaman turun-temurun beternak peternakan ayam kampung, dan komitmen pemerintah melalui program pemenuhan pangan asal ternak dan pertanian agribisnis rakyat.
Sedangkan faktor ancaman untuk beternak ayam kampung di Sulawesi Utara adalah penurunan tenaga kerja di sektor peternakan, perubahan iklim yang memengaruhi pengadaan pakan dan kesehatan ternak, adanya wabah penyakit, persaingan penggunaan lahan dan alih fungsi lahan, serta ketatnya persaingan dengan perusahaan besar.
Tabel 3. Matriks IE (Internal dan Eksternal) klaster agribisnis di Provinsi Sulawesi Utara
Total nilai IFE |
||||
Total nilai EFE |
Kuat(3.0 – 4.0) |
Sedang(2.0 – 2.99) |
Lemah(1.0 – 1.99) |
|
Tinggi(3.0 – 4.0) |
I(Grow and Build) |
II(Grow and Build) |
III(Keeping and Maintaining) |
|
Sedang(2.0 – 2.99) |
IV(Grow and Build) |
V(Keeping and Maintaining) |
VI(Harvestor Divestment) |
|
Rendah(1.0 – 1.99) |
VII(Keeping and Maintaining) |
VIII(Harvestor Divestment) |
IX(Harvestor Divestment) |
|
Tabel 4. Matriks SWOT agribisnis ayam kampung di Sulawesi Utara
Strengths (Kekuatan) – S |
Weakness (Kelemahan) – W |
|
|
1. Jaringan mitra |
|
|
2. Inovasi teknologi |
|
|
3. Badan sosial |
|
|
4. Institusi agribisnis |
|
5. Pengetahuan peternak |
||
6. Fasilitas produksi |
||
Opportunities (Peluang) – O |
StrategI SO (agresif) |
StrategI WO (diversifikasi) |
|
|
|
|
||
|
||
|
||
|
||
Threats (Ancaman) – T |
StrategI ST (diferensiasi) |
Strategi WT (defensif) |
|
|
|
|
||
|
||
|
||
|










