POULTRYINDONESIA, Padang – Peluang peternakan unggas terbilang masih sangat besar, mengingat masih rendahnya konsumsi protein hewani dari daging dan telur ayam. Hal ini seperti disampaikan oleh Dr. Ir. Audy Joinaldy, S.Pt., M.Sc., M.M., IPM, ASEAN.Eng dalam sebuah seminar secara online via platform Zoom Meeting,dengan tema ” Membangun Jiwa Entrepreneur Millenial di Bidang Peternakan” yang diadakan oleh Fakultas Peternakan, Universitas Andalas, Padang pada, Kamis (24/2).
Baca juga : Mipi Adakan Audiensi dengan Dirjen Peternakan
Menurut Audy, untuk konsumsi daging ayam masyarakat Indonesia sebesar 12 kg/ kapita / tahun, yang masih tertinggal dengan Thailand yang mencapai 21 kg/ kapita/ tahun, Singapura 32 kg/ kapita/ tahun bahkan Malaysia 40 kg/ kapita/ tahun.
“Jangan hera jika kita t karena konsumsi protein hewani kita rendah. Misal, konsumsi masyarakat Indonesia yang mencapai 270 juta penduduk, naik sebesar satu kilogram saja, maka sudah berapa banyak kandang yang akan dibutuhkan, berapa banyak pakan yang dibutuhkan, dan tentunya semua bisa memberikan efek domino, seperti pembukaan lowongan pekerjaan yang sangat luas dan besar, sebab Indonesia adalah pangsa pasar yang besar,” tegasnya.
Sementara itu,untuk konsumsi telur ayam Indonesia sebesar 125 butir, masih tertinggal dari Thailand yang mencpai 175 butir, bahkan Malaysia 330 butir.
“Misal, kalau naik 5 butir saja, kemudian dikali 270 juta penduduk, maka sudah berapa milyar telur tambahan kebutuhannya, menurut data yang kami himpun konsumsi daging ayam masyarakat Indonesia hanya Rp.15.000 perbulan, dan telur Rp.12.000 per bulan, jadi ruang tumbuh peternakan masih besar,” jelasnya.
Padahal, secara harga protein hewani seperti telur harganya lebih murah dari protein nabati atau protein hewani dari ikan dan daging merah. Untuk harga pergram telur hanya Rp.140,sedang harga pergram tempe sebesar Rp.180,tahu pergramnya mencapai Rp.200, ikan laut mencpai Rp.260 bahkan daging sapi sampai Rp.600.
“Tantangan yang kita hadapi,sensus pendusuk yang terus tumbuh,sedang konsumsi yang masih rendah,sehingga peluang untuk dunia peternakan masih terbuka lebar,” pungkasnya.