Serangan Koliseptisemia (Sumber : Diseases and Disorder of the Domestic Fowl and Turkey, CJ. Randall, 1993)
Oleh: drh. Arief Hidayat*
Koliseptisemia atau biasa disebut sebagai kolibasilosis adalah penyakit infeksius menular pada unggas yang disebabkan oleh bakteri Escherichia coli (Avian Pathogenic Escherichia coli / APEC) sebagai agen primer maupun sekunder. Infeksi E. coli atau koliseptisemia ini dapat terjadi pada ayam pedaging dan petelur dari semua kelompok umur, serta unggas lainnya seperti kalkun dan itik (Charlton et al., 2000).

Ancaman koliseptisemia mempunyai arti ekonomi penting bagi industri perunggasan. Beberapa serotipe E. coli seringkali resisten terhadap satu atau lebih antibiotika. Sehingga perlu diingat kembali bahwa pengobatan pada kasus kolibasilosis yang berat, perlu dipertimbangkan dari berbagai aspek, terutama dari aspek ekonomi pengobatan

Ancaman koliseptisemia mempunyai arti ekonomi penting bagi industri perunggasan karena dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan, penurunan produksi, peningkatan jumlah ayam yang diapkir, juga penurunan kualitas karkas pada ayam pedaging. Disamping itu, adanya infeksi E. coli dapat merupakan faktor pendukung timbulnya penyakit kompleks pada saluran pernafasan, pencernaan, dan atau saluran reproduksi yang sulit ditanggulangi (Tabbu, 2000).
Dalam kondisi normal, E. coli terdapat di dalam saluran pencernaan ayam. Sekitar 10 -15 persen dari seluruh E. coli yang ditemukan di dalam usus ayam yang sehat, tergolong ke dalam serotype pathogen. Bagian usus yang paling banyak mengandung kuman tersebut adalah jejenum, ileum dan sekum. Jenis E coli yang terdapat di dalam usus tidak selalu sama dengan jenis yang ditemukan pada jaringan lain. Sebagai agen penyakit sekunder, E. coli sering mengikuti penyakit lain, misalnya pada berbagai penyakit pernafasan dan pencernaan yang menyerang ayam.
Kenyataan di lapangan, timbulnya kasus kolibasilosis diakibatkan oleh pengaruh imunosupresif dari Gumboro (terutama pada ayam pedaging), dan sebagai penyakit ikutan pada penyakit Chronic Respiratory Disease (CRD), Infeksi Coryza (Snot) dan Swollen Head Syndrome (SHS) (Tabbu, 2000). Penyakit ini dapat dimanifestasikan dalam bentuk kelainan organ seperti septicemia, enteritis, granuloma, omphalitis, sinusitis, airsacculitis, arthritis/synovitis, peritonitis, pericarditis, selulitis, dan Swollen Head Syndrome (SHS) (Zanella et al., 2000), oophoritis, salpingitis, panophthalmitis dan bursitis sternalis (Barnes dan Gross, 1997; Tabbu., 2000).
Bakteri E. coli tergolong bakteri gram negatif, tidak tahan asam, motil, memfermentasikan laktosa, serta merupakan basil yang tidak membentuk spora, dan berbentuk batang dengan ukuran 0,5 x 1.0 – 3.0 mikrometer. Bakteri ini juga tidak tahan terhadap keadaan kering dan desinfektan biasa, serta dapat mati pada suhu 60º C selama 30 menit. Serotipe bakteri yang banyak menyebabkan penyakit pada unggas adalah O1, O2, O35 dan O78 (Tabbu, 2000), dan dikenal memiliki tingkat patogenitas yang cukup tinggi (Charlton et al., 2000).
Bakteri E. coli O111 juga tergolong patogen karena dapat mengakibatkan kematian mendadak pada ayam yang ditandai dengan septikemia dan poliserositis fibrinosa (Zanella et al., 2000). Serotipe ini juga merupakan salah satu jenis yang patogen terhadap manusia dan dapat menyebabkan gastroenteritis pada bayi yang sifatnya fatal (Gupte, 1990). Bakteri E. coli keluar bersama feses dari tubuh dalam jumlah besar dan mampu bertahan untuk beberapa hari sampai beberapa minggu.
Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini dapat berkembang cepat dengan derajat kematian yang tinggi. Pada ayam, penyakit ini dapat terjadi melalui pencemaran makanan oleh feses dan telur tetas yang terkontaminasi oleh feses (floor eggs). Sumber penularan lainnya adalah infeksi indung telur atau salpingitis dimana kantong kuning telur merupakan titik pusat infeksi pada unggas. Penularan juga dapat terjadi secara kontak langsung antara ayam sakit dan ayam sehat.
Cara penularan tidak langsung dapat terjadi melalui kontak antara ayam yang sensitif dengan bahan-bahan yang tercemar oleh sekresi tubuh atau feses ayam yang menderita kolibasilosis. Penularan biasanya terjadi secara oral melalui pakan, air minum, debu, atau kotoran yang tercemar oleh E. coli. Kotoran atau debu yang mengandung bakteri E. coli dapat juga dihirup melalui saluran pernafasan sehingga akan terjadi infeksi pada saluran tersebut.
Ayam dengan umur muda cenderung lebih sensitif dibandingkan dengan ayam dewasa. Faktor pendukung timbulnya kolibasilosis antara lain adalah sanitasi atau desinfeksi yang kurang optimal, sumber mata air minum yang tercemar oleh bakteri, sistem perkandangan dan peralatan yang kurang memadai, serta adanya penyakit yang bersifat imunosupresif seperti Infeksius Bursal Disease atau Gumboro.
Baca juga : Debu Kandang dan Korelasinya terhadap Agen Penyakit dan Manajemen Pemeliharaan
Penyakit ini sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia, tetapi tingkat kejadian penyakit belum diketahui dengan pasti karena data jarang dipublikasi (Manual Penyakit Unggas, Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Direktorat Kesehatan Hewan, 2012). Gejala klinis penyakit ini tidak spesifik dan sangat tergantung dari umur ayam yang terserang, lamanya infeksi berlangsung, dan organ yang terserang.
Kematian pada ayam muda biasa terjadi setelah timbul gejala seperti anoreksia dan lesu dalam waktu yang singkat. Kematian anak-anak ayam dapat terjadi sampai usia 3 minggu dengan gejala omphalitis, oedema, dan jaringan sekitar pusar yang menjadi lembek seperti bubur. Pada anak ayam dapat juga menyebabkan radang sendi (synovitis) dan osteomyelitis.
Pada kejadian kolibasilosis enterik dan septisemik, mungkin tidak ditemukan gambaran kelainan patologi anatomi yang berarti. Bila kejadiannya begitu hebat, gambaran patologi anatomi yang mungkin ditemukan adalah hemoragic petechial dari submukosa ataupun subserosa dan gastritis maupun enteritis. Kadang juga ditemukan cairan berfibrin dalam persendian dan ruang-ruang serosa, pneumonia, meningitis atau omphalitis.
Bila terjadi meningitis, maka cairan serebrospinal akan tampak keruh. Pada kejadian kolibasilosis enterik atau enteric colibacillosis, kelainan yang tampak hanya berupa gastroenteritis saja. Pada unggas, kelainan yang mungkin ditemukan antara lain pericarditis berfibrin, peritonitis, kantong hawa yang menebal dan ditutupi cairan fibrin, salpingitis, ophthalmia, dan pada anak ayam ditemukan omphalitis, enteritis serta synovitis.
Jika embrio terinfeksi E. coli, makan kandungan yolk sac akan menjadi encer dan berwarna kuning kecoklatan atau menyerupai keju dan biasanya berbau busuk. Anak ayam yang terinfeksi akan menunjukkan warna kemerahan pada karkas dan jaringan subkutan. Perubahan yang mencolok adalah adanya yolk sac yang belum terserap dengan ukuran lebih besar dari normal dan isi serta viskositas yang abnormal. Warnanya pun menjadi hijau kecoklatan, lebih cair dan berbau tidak sedap, serta lebih kental.
Baca juga : Menekan Kejadian Infeksi Bronkhitis dengan Tindakan Preventif
Paru-paru ayam dengan penyakit kolibasilosis biasanya mengalami kongesti. Organ lain seperti hati dan limpa membengkak dengan warna merah kehitaman. Pada hati, sering ditemukan adanya perihepatitis dan nekrosis multifokal pada permukaannya. Pada saluran pencernaan, utamanya usus bagian depan, akan mengandung material encer berwarna kekuningan bercampur busa dan mukosa usus sering terlihat kongesti. Bakteri E. coli juga sangat memungkinkan untuk masuk ke dalam sirkulasi darah dan menginfeksi berbagai jaringan melalui luka pada usus atau saluran pernapasan.
Peneguhan diagnosa pada kejadian kolibasilosis tidaklah mudah, mengingat manifestasi penyakitnya mirip dengan penyakit sepsis yang lain. Oleh karena itu, isolasi dan identifikasi agen penyebabnya mutlak diperlukan. Pada unggas, kolibasilosis dapat dikelirukan dengan penyakit sepsis akut seperti Salmonellosis, Pasteurellosis, dan Staphylococcosis. Pencegahan dapat dimulai dari seleksi secara ketat ayam yang berkualitas pada awal pemeliharaan dan mencegah pencemaran bakteri pada debu, air minum, pakan, dan litter. Banyaknya media yang berpotensi menularkan bakteri E. coli harus menjadi perhatian tersendiri bagi para peternak.
Pengobatan kolibasilosis dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik. Untuk mengobati kolibasilosis dapat digunakan obat enrofloxacin, kanamisin, ampisilin, trimethoprim sulfametoksazol (Poernomo et al., 1992a dan Zanella et al, 2000). Namun, beberapa serotipe E. coli seringkali resisten terhadap satu atau lebih antibiotika. Untuk pengobatan yang efektif perlu dilakukan uji sensitivitas bakteri, karena antibiotika yang efektif pada satu kasus belum tentu dapat efektif pada kasus yang lainnya.
Ada satu penemuan pengobatan dengan pemberian bioaditif yang mengandung campuran ekstrak tepung cacing tanah Lumbricus rubellus, ekstrak daun mengkudu Morinda citrifolia dan bakteri asam laktat yang dapat menurunkan prevalensi kolibasilosis (APEC) sebesar 67.7% (Ade Erma Suryani et al, Widyariset, vol.17 No.2, Agustus 2014 hal. 233 – 244). Namun, perlu diingat kembali bagi para peternak bahwa pengobatan pada kasus kolibasilosis yang berat perlu dipertimbangkan dari berbagai aspek terutama dari aspek ekonomi pengobatan. *Technical Department PT. Mensana Aneka Satwa