POULTRYINDONESIA, Surabaya – Penggunaan antibiotik pada sektor peternakan khususnya unggas, tidak selamanya digunakan sebagai pengobatan, ada pula yang menggunakan antibiotik sebagai pencegahan. Namun, penggunaan antibiotik untuk pencegahan ternyata kurang tepat, sebab pemberian untuk pencegahan akan meningkatkan angka resistensi hingga tiga kali lipat, bila dibandingkan dengan pemberian antibiotik untuk pengobatan.
Hal tersebut disampaikan oleh oleh Dr. drh., Mustofa Helmi Effendi, DTAPH, dalam pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar dalam Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat Veteriner yang diselenggarakan oleh Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga, Surabaya, Rabu (6/10) melalui Zoom dengan judul: “Peningkatan Kesadaran Masyarakat tentang Potensi Penularan Antimicrobial Resistance (AMR) yang Bersumber dari Hewan dan Produk Hewan yang Berdampak pada Kesehatan masyarakat”.
Baca juga : Pencegahan dan Pengendalian Resistensi Antibiotik

Menurutnya, dalam penelitian yang ia lakukan setidaknya menggunakan dua indikasi penting dari dua bakteri patogen yang sangat erat kaitannya dengan AMR sebagai salah satu sifat virulensinya. Pertama, bakteri Staphylococcus aureus yang dapat menghasilkan MRSA. Kedua, bakteri Escherichia coli yang dapat menghasilkan Extended Spectrum Beta Lactamase (ESBL), yang merupakan bakteri resisten terhadap beberapa antibiotik.

“Cemaran MRSA dan ESBL sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat, yang akan meningkatkan potensi penyebaran infeksi agen AMR yang sulit diobati, “tegasnya.
Menurut Helmi dari penelitian yang ia lakukan, menunjukkan bahwa kejadian Escherichia coli penghasil ESBL pada ternak dengan pemberian antibiotik sebagai pencegahan penyakit lebih berisiko sebesar 24,9% atau 3 kali dibandingkan dengan penggunaan antibiotik sebagai pengobatan penyakit yang hanya sebesar 8,54%.
Menurutnya masalah AMR ini akan berdampak pada peningkatan angka mortalitas, morbiditas dan pembiayaan sistem kesehatan. Maka dari itu yang perlu diwaspadai adalah dari mana sumber infeksi penyakit tersebut. Pada sektor peternakan, antibiotik yang sering digunakan adalah sebagai Antibiotic Growth Promoter (AGP).
Penggunaan antibiotik ini berfungsi untuk mempercepat pertumbuhan ternak agar dapat tumbuh lebih besar dalam waktu yang cukup singkat. Selain itu, pemberian AGP juga sebagai upaya untuk mencegah ternak terkena penyakit infeksi. Namun jika antibiotik ini digunakan secara berlebihan maka dapat menyebabkan bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik tersebut. Beberapa antibiotik yang paling banyak digunakan sebagai AGP antara lain dari golongan tetracyclin, penicilin, macrolida, lincomysin, dan virginiamycin.
Lebih lanjut Helmi menjelaskan bahwa AMR sudah dikenal lebih dari lima puluh tahun yang lalu dan sekarang telah menjadi tantangan permasalahan terbesar abad ini. Kematian akibat bakteri patogen yang resisten terhadap antibiotik semakin meningkat dari tahun ke tahun. Banyak kasus infeksi yang semakin sulit diobati karena menurunnya tingkat efektivitas antibiotik.
“AMR dapat menyebabkan manusia terjangkit penyakit serius akibat kegagalan pengobatan, perpanjangan waktu pengobatan, dan biaya perawatan pasien meningkat karena jenis antibiotik yang digunakan akan lebih mahal. Seringkali pengobatan memerlukan beberapa kombinasi antibiotik untuk mengatasi infeksi. Selain itu juga dapat berujung pada peningkatan angka kematian karena terkadang tidak ada atau belum ditemukannya antibiotik terbaru yang dapat digunakan,” terangnya.
Masih menurut Helmi, adanya AMR dari hewan dan produk hewan yang berupa MRSA dan Escherichia coli penghasil ESBL perlu mendapat perhatian. Sebab, penggunaan antibiotik yang underuse, missuse dan overuse harus dihindari bersama. Setiap antibiotik dari dunia veteriner harus terkontrol dengan tepat dan akurat penggunaannya. Implementasi peraturan pemerintah berkaitan dengan penggunaan antibiotik harus dijaga dan sukseskan bersama.
Escherichia coli dapat bersifat multidrug-resistance (MDR) yaitu resisten terhadap minimal tiga golongan antibiotik yang berbeda. Antibiotik baru telah banyak dikembangkan oleh peneliti sebagai alternatif pengganti antibiotik lama yang sudah tidak efektif. Namun sifat MDR ini menyebabkan menyempitnya pilihan obat dan menjadikan pengobatan infeksi terhadap bakteri ini sulit dilakukan,” tegasnya.