POULTRYINDONESIA, Jakarta – Meningkatnya resiko kontaminasi mikotoksin sepanjang 2025 membuat para pelaku industri pakan meningkatkan pengetahuannya. Untuk mewadahi hal tersebut, Trouw Nutrition menyelenggarakan webinar bertajuk “Global Mycotoxin Review 2025 Update and Outlook for 2026” secara daring pada Kamis, (5/2).
Acara tersebut dipandu oleh Marcella Wiegand Bruss selaku Manager Marketing & Communications dan menghadirkan dua narasumber utama, yakni Dr. Swamy Haladi selaku Global Category Manager untuk Risk Management Mold & Mycotoxin, dan Mr. Avinash Bhatt selaku Technical Specialist dari Master Lab. Secara umum mereka menyampaikan perkembangan prevalensi mikotoksin, bagaimana cara meningkatkan kemampuan diagnosis berdasarkan machine learning, serta strategi mitigasi yang dapat diterapkan langsung di lapangan.
Dalam pemaparannya, Dr. Swamy Haladi menegaskan bahwa mikotoksin kini menjadi penting dalam pengambilan keputusan industri pakan ternak. Ia menyoroti bahwa tahun 2025 menunjukkan tren yang patut diwaspadai, terutama peningkatan prevalensi Zearalenone untuk tahun kedua berturut-turut, sementara Fumonisin tetap berada pada level kontaminasi tinggi secara global.
“Perubahan pola ini kemungkinan dipengaruhi oleh kombinasi faktor perubahan iklim, kondisi penyimpanan, dan dinamika perdagangan bahan baku. Dan perlu diingat bahwa risiko mikotoksin tidak hanya berasal dari jagung. Bahkan bahan baku dengan tingkat penggunaan kecil dalam formulasi pakan dapat memberikan kontribusi terhadap total paparan toksin”.
Lebih lanjut, Dr. Swamy menekankan pentingnya data dalam membuat keputusan. Untuk mengetahui paparan mikotoksin, ia menyarankan metode rapid test karna dinilai efektif untuk skrining awal, dan untuk validasi lanjutan, bisa melalui LC-MS/MS atau HPLC.
Ia juga memperingati peserta dengan paparan masked mycotoxins dan emerging mycotoxins, seperti enniatins dan beauvericin, yang dalam studi awal menunjukkan prevalensi tinggi di berbagai sampel. Menurutnya, adanya toksin-toksin ini dinilai dapat memunculkan gangguan performa ternak meskipun kadar toksin utama seperti DON terdeteksi rendah.
Sementara itu, Mr. Avinash Bhatt memaparkan perkembangan teknologi terbaru model diagnosis mikotoksin berbasis machine learning. Ia menjelaskan bahwa model baru ini mampu menangkap variasi regional, faktor geografis, serta pengaruh kondisi iklim dengan tingkat akurasi yang lebih baik dibanding statistik tradisional.
“Prediksi kuartal pertama 2026 menunjukkan bahwa konsentrasi aflatoksin global diperkirakan berada pada kisaran moderat, sementara fumonisin diproyeksikan meningkat. DON juga tetap menjadi salah satu toksin yang mendominasi. Saya rasa update teknologi ini penting mengingat lingkungan sifatnya sangat dinamis,” jelas Avinash.
Ia juga menyoroti dampak mikotoksin terhadap performa dan kesehatan ternak. Gejala seperti peningkatan feed conversion ratio (FCR), penurunan average daily gain (ADG), gangguan reproduksi, hingga diare harus diwaspadai agar kontaminasi tidak menyebar luas.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia