Dirinya telah membuktikan bahwa tekad dan dedikasi dapat membawa perubahan besar. Melalui bendera Planet Farm, ia tak hanya sukses membangun peternakan ayam petelur pertama di NTT yang menembus pasar ekspor, tetapi juga menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Menjadi seorang wanita bukanlah sebuah hambatan untuk berkarir dan meraih kesuksesan di usaha perunggasan. Hal ini telah dibuktikan sendiri oleh Angelina, selaku pemilik CV Planet Farm yang berlokasi di Desa Maukabatan, Kecamatan Biboki Anleu, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur (NTT). Bergerak di bidang usaha ayam petelur, Angelina sukses menjadi sosok inspiratif di tengah berbagai peluang dan tantangan usaha yang harus dihadapinya.
Menurutnya nama di balik nama “Planet Farm” tersimpan berbagai harapan besar. Dimana dirinya berharap bumi sebagai salah satu planet di jagad raya ini dapat memberikan kesinambungan antara makhluk hidup dan manusia. Termasuk bagaimana usaha peternakan ini berjalan agar memberikan manfaat yang berkesinambungan bagi lingkungan sekitar. Selain itu, menurutnya nama “Planet” sendiri terasa indah didengar, seperti halnya bagaimana bintang-bintang sebagai planet di langit yang bersinar menghiasi gelapnya malam.
“Filosofi dari nama Planet Farm itu karena saya melihat bumi sebagai salah satu planet yang menjadi tempat tinggal semua makhluk hidup. Harapan saya, ada kesinambungan antara manusia dan makhluk hidup lain, termasuk bagaimana peternakan ini bisa mendukung keberlanjutan tersebut. Selain itu, nama Planet kami pilih karena terdengar indah dan menggambarkan harmoni seperti bintang-bintang yang bersinar di gelapnya malam,” jelas Angelina saat ditemui di area farmnya,
Meskipun berasal dari Surabaya dan tidak memiliki latar belakang pendidikan di bidang peternakan maupun kedokteran hewan, Angelina berhasil membuktikan bahwa tekad dan kerja keras mampu membawanya di titik saat ini. Peluang yang terbuka lebar untuk usaha peternakan ayam petelur di daerah NTT, menjadi faktor awal yang mendorongnya untuk mendirikan Planet Farm.
“Ya karena saya melihat peluang di NTT ini masih terbukalah dari pada di pulau Jawa. Dari situ saya tertantang. Walaupun sebagai wanita, saya berusaha dan memulai ini semua dari nol. Saya bertekad harus bisa. Dan meskipun saya aslinya orang Surabaya, dan tidak ada background peternakan maupun kedokteran hewan, cuma saya mau belajar berbagai hal dari A-Z,” terangnya.
Sembari bernostalgia, Angelina bercerita bahwa usahanya ini dimulai sekitar tahun 2017-2018 setelah melakukan riset mendalam. Dari riset tersebut dirinya menyadari bahwa kebutuhan telur di NTT, masih jauh dari kata cukup. Selain itu, dirinya juga melihat pasar Timor Leste sebagai peluang besar untuk bisa dijajaki. Jadi selain melihat pasar lokal di sekitar NTT, Planet Farm pun juga membidik pasar ekspor ke Timor leste.
“Kala itu, saya melihat pasar lokal di NTT serta potensi ekspor ke Timor Leste sebagai peluang besar. Terlebih desa Maukabatan ini merupakan perbatasan atau tetangga dari negara Timor Leste. Saya mau mengembangkan sesuatu yang orang lain belum memandang hal tersebut. Selain itu saya juga ingin mempunyai nilai tambah dari usaha orang lain. Dari hal tersebut nama Planet Farm bisa naik dan dilihat oleh orang. Jadi akan muncul pertanyaan dan ketertarikan, siapa sih Planet Farm itu? Dan lain sebagainya” tambahnya sembari bercanda.
Di tengah berbagai lika-liku usahanya, Angelina mengaku bahwa tantangan tentunya selalu ada. Namun dirinya yakin dan bertekad untuk membuktikan bahwa Planet Farm bisa meraih kesuksesan tersebut. Terbukti melalui dedikasi dan kerja keras, Planet Farm menjadi peternakan pertama di NTT yang berhasil menembus pasar ekspor ke Timor Leste.
“Memang tidak mudah. Sebelum berhasil ekspor saya melakukan riset pasar Timor Leste selama berbulan-bulan. Belum lagi saya harus memenuhi berbagai persyaratan dari 2 negara, seperti sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV), uji laboratorium, dan memastikan kesehatan ayam serta telur dan lain sebagainya. ” ungkap Angelina. Dan ibarat usaha tak menghianati hasil, kini Planet Farm telah rutin mengirimkan telur sebanyak dua truk tronton besar setiap dua kali dalam sebulan ke Timor Leste. Di samping juga memenuhi kebutuhan pasar lokal seperti ke daerah Belu, Kupang, dan Alor.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Januari 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










