POULTRYINDONESIA, Bangkok – Gelaran THAIFEX – ANUGA ASIA 2025 yang berlangsung pada 27–31 Mei di IMPACT Muang Thong Thani, Thailand, bukan sekadar pameran makanan dan minuman. Di balik deretan booth yang semarak dan sajian menggoda, berlangsung sebuah perbincangan besar: ke mana arah masa depan protein di Asia Tenggara. Di antara jejak kuat tradisi dan dorongan untuk berinovasi, kawasan ini tengah menimbang ulang keseimbangan antara protein hewani dan alternatif.
Menurut Wendy Lim, Manajer Umum Pameran Makanan dan Teknologi Pangan THAIFEX – ANUGA ASIA 2025, protein tetap menjadi tulang punggung industri pangan di Asia Tenggara. “Produk berbasis protein masih sangat umum, baik dari hewani maupun non-hewani. Di Thailand, misalnya, sektor daging sangat kuat, sampai kami membaginya dalam tiga sub-pameran terpisah: daging, makanan beku, dan fine food masing-masing dengan kekuatan dan keunikan tersendiri,” jelasnya.
Bergerak lewat Inovasi
Dominasi protein hewani masih terasa di hampir setiap sudut pameran. Produsen besar dari Asia Tenggara memamerkan tidak hanya daging ayam segar dan beku, tetapi juga solusi makanan yang siap saji, sehat, dan sesuai dengan gaya hidup urban. Inovasi rasa, pengemasan modern, dan fokus pada ekspor menjadi sorotan utama.
Dr. Sunisa Chatsurachai, Open Innovation Manager di Charoen Pokphand Foods, menggarisbawahi bahwa kenyamanan dan kecepatan adalah dua hal penting dalam preferensi konsumen saat ini. “Masyarakat urban saat ini sibuk bekerja hingga tidak sempat untuk memasak, produk siap saji seperti ready to eat menjadi solusi ideal, dimana konsumen hanya cukup memanaskan makanan tersebut dengan microwave. Produk ini menjawab kebutuhan konsumen yang sibuk namun tetap menginginkan rasa yang akrab dan bergizi,” ujarnya.
Bagi perusahaan seperti Saha Farm, pengembangan resep dan kualitas olahan menjadi alat untuk mempertahankan relevansi dan menjangkau pasar ekspor yang lebih luas. “Tantangan kami bukan hanya bersaing dengan produk lain, tapi bagaimana membuat produk kami standout di pasar global,” jelas Poonnapoj Permpongsri dari Divisi Pemasaran Internasional perusahaan tersebut.
Meningkatnya Ruang bagi Alternatif
Di sisi lain, protein alternatif mulai menunjukkan eksistensi yang lebih solid. Melalui zona khusus Future Food Experience di Hall 5, berbagai inovasi dari bahan nabati, fermentasi, dan teknologi pangan canggih mendapat sorotan melalui demo produk, uji cita rasa, hingga kompetisi “Alternative Protein Challenge” yang menghadirkan lebih dari 70 pembicara.
Shirley Lu, Managing Director Asia ProVeg International, menyebut bahwa sektor ini mengalami kebangkitan pasca pandemi. “Kami melihat pendekatan yang lebih adaptif. Produsen kini lebih fokus pada selera lokal dan kualitas protein, bukan sekadar menjual label ‘berbasis tumbuhan’,” ungkapnya.
Contoh keberhasilan lokal antara lain terlihat di Shanghai, di mana minuman seperti oat milk dan coconut milk kini menjadi pelengkap umum di banyak kafe. Sementara di segmen makanan ringan, tren hidup sehat mendorong munculnya produk nabati tinggi protein yang ringan dan praktis.
Meskipun pertumbuhannya menjanjikan, protein alternatif masih menghadapi tantangan klasik, seperti harga yang relatif lebih tinggi dan pengembangan rasa yang kompetitif. “Butuh investasi riset besar untuk menghasilkan rasa dan tekstur yang memuaskan,” jelas Dr. Sunisa. Namun demikian, ini bukanlah pertarungan kalah-menang. Baik protein hewani maupun nabati terus bergerak dengan cara masing-masing untuk menjawab kebutuhan konsumen yang kian beragam. Protein hewani tetap unggul dalam hal efisiensi produksi dan keterjangkauan, sementara protein alternatif menawarkan keberlanjutan dan inovasi sebagai nilai tambah.
Salah satu kekuatan protein hewani terletak pada kemampuan berinovasi dalam jalur tradisional. Perusahaan seperti Superior Quality Food menonjolkan produk halal untuk menjangkau pasar Muslim di Asia dan Timur Tengah. Sementara Saha Farm sedang mengembangkan produk unggas non-alergen, untuk konsumen dengan sensitivitas makanan.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa diferensiasi produk, baik dari sisi kesehatan, dan kenyamanan adalah kunci mempertahankan daya saing, tanpa harus mengubah bahan dasarnya secara drastis.
THAIFEX – ANUGA ASIA 2025 memperlihatkan bahwa pertumbuhan sektor protein bukanlah jalan satu arah, melainkan berkembang secara paralel dan saling melengkapi. Protein hewani dan alternatif hadir berdampingan, masing-masing menjawab kebutuhan berbeda dalam ekosistem pangan yang makin kompleks.
Seperti disampaikan Wendy Lim, “Kami menciptakan ruang bagi semua pelaku, karena industri makanan bukan hanya soal teknologi atau efisiensi, tapi juga soal rasa, budaya, dan hubungan emosional. Semua itu punya tempatnya sendiri.”