Oleh : Mujibur Rahman, S.Pt*
Kesuksesan budi daya unggas bukan hanya dipengaruhi oleh faktor genetik semata. Namun lebih dari itu, sejauh mana ketepatan manajemen pemeliharaan juga menjadi faktor kuat dalam penentu performa produksi dalam kandang. Tak terkecuali dalam manajemen pakan, yang merupakan komponen terpenting dalam penentuan tingkat efisiensi produksi budi daya.

Budi daya maggot dengan media limbah organik diharapkan mampu menjawab tantangan penyediaan bahan pakan sumber protein yang efisien dan bersaing, sekaligus mampu menjadi solusi dalam pengolahan sampah yang saat ini juga masih menjadi masalah. Namun demikian, perlu adanya kerja sama saling menguntungkan di setiap level masyarakat untuk dapat mencapai tujuan ini

Hal ini dikarenakan, biaya pakan menghabiskan sekitar 70% dari total biaya produksi ternak unggas. Untuk itu, pakan yang diberikan harus mempertimbangkan antara kualitas atau kecukupan nutrien dengan harga pakan tersebut. Sehingga, harga pakan diusahakan semurah mungkin dengan kualitas yang sebaik mungkin.
Lebih lanjut, penulis melihat bahwa salah satu permasalahan pada pakan unggas adalah mahalnya harga bahan pakan, sehingga secara otomatis membuat tingkat harga pakan pun juga tinggi. Hal ini tak lepas dari masih tingginya tingkat importasi bahan pakan dari luar negeri. Jika merujuk data dari Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menyebutkan bahwa komposisi bahan baku pada industri pakan terdiri dari 65% produksi lokal dan 35% merupakan bahan pakan impor. Apabila lebih diperinci lagi, dari angka tersebut Indonesia masih memiliki ketergantungan bahan pakan impor terutama untuk sumber protein.
Baca juga : Ditpakan Gelar Webinar Nasional untuk Kembangkan Koro Pedang dan Maggot
Tentu hal ini juga akan berkorelasi secara langsung terhadap tingkat daya saing industri perunggasan nasional. Untuk itu, berbagai pemangku kepentingan telah berupaya mencari alternatif pengganti bahan pakan sumber protein berbasis lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, bungkil inti sawit dan maggot menjadi bahan pakan yang banyak di teliti dan dikembangkan sebagai alternatif substitusi SBM maupun MBM yang selama ini masih tergantung dengan impor.
Potensi maggot sebagai bahan pakan unggas
Maggot adalah larva dari Black Soldier Fly (BSF) yang banyak dikembangkan untuk dapat menjadi alternatif (substitusi) bahan pakan sumber protein. Dari segi nutrisi, maggot memilliki kandungan protein cukup tinggi yakni sekitar 40-50 %, dengan kandungan lemak berkisar antara 14-15% (Tabel 1). Selain itu, kandungan asam amino, asam lemak dan mineral yang terkandung di dalam maggot juga tidak kalah dengan sumber-sumber protein lainnya, sehingga larva BSF merupakan bahan pakan ideal yang dapat digunakan sebagai pakan ternak.
Tabel 1. Analisis proksimat bahan pakan (dalam % berat kering)
Ingredients
Protein
Nitrogen-free extract
Fat
Crude Fiber
Ash
Fish meal
58.01±0.15
3.29±0.10
5.53±0.02
3.15±0.80
30.12±0.12
Maggot meal
44.89±0.32
9.87±0.21
14.67±0.23
9.82±0.50
20.75±0.25
Soybean meal
50.53±0.20
37.36±0.17
0.94±0.25
3.72±0.35
5.28±0.22
Corn gluten meal
9.67±0.22
84.41±0.12
0.34±0.24
3.99±0.29
1.59±0.28
Bran meal
11.29±0.13
49.36±0.03
8.03±0.18
21.08±0.32
10.24±0.16
Wheat flour
10.57±0.24
86.45±0.09
1.06±0.12
1.20±0.13
0.72±0.17
Sumber : Herawati, dkk (2020)
Kemudian apabila ditinjau dari umur, maggot memiliki persentase komponen nutrisi yang berbeda. Dalam sebuah publikasi ilmiah yang disusun oleh Rachmawati dkk. dengan judul “Perkembangan dan kandungan nutrisi larva Hermetia illucens (Linnaeus) (Diptera: Startiomyidae) pada bungkil kelapa sawit” menunjukan bahwa kadar bahan kering maggot cenderung berkorelasi positif dengan meningkatnya umur, yaitu 26,61% pada umur lima hari menjadi 39,97% pada umur 25 hari. Hal yang sama juga terjadi pada komponen lemak kasar, yaitu sebesar 13,37% pada umur lima hari dan meningkat menjadi 27,50% pada umur 25 hari. Kondisi ini berbeda dengan komponen protein kasar yang cenderung turun pada umur yang lebih tua.
Kandungan protein kasar maggot muda lebih tinggi dibandingkan dengan maggot tua. Kondisi ini diduga karena maggot yang masih muda mengalami pertumbuhan sel struktural yang lebih cepat sehingga mempunyai kandungan protein kasar yang tinggi. Namun, apabila ditinjau dari segi produksi, tentu maggot muda lebih kecil dari pada maggot umur tua, sehingga hal ini juga perlu dipertimbangkan.
Berdasarkan praktek lapangan, penulis melihat bahwa waktu efektif dalam pemanenan maggot adalah ketika umur 12-15 hari. Apabila pemanenan terlalu cepat, maka kuantitasnya akan menjadi rendah. Sedangkan jika waktu panen terlambat dan terlalu tua, maka maggot akan menjadi pupa yang diselimuti oleh kitin, sehingga kadar bahan kering meningkat dan ekstremnya tidak dapat digunakan untuk pakan. Selain itu, media pertumbuhan yang digunakan juga dapat mempengaruhi kandungan nutrien dalam maggot.
Dalam berbagai penelitian efektivitas tepung BSF dalam meningkatkan bobot badan ayam pedaging dibandingkan dengan pakan yang mengandung tepung ikan, menunjukan bahwa bobot badan ayam pada fase starter dan grower tidak berbeda nyata antara kelompok yang diberi pakan yang mengandung tepung BSF dengan kelompok yang diberi tepung ikan. Selain itu, substitusi tepung kedelai secara sebagian atau menyeluruh dengan tepung BSF tidak mempengaruhi asupan pakan, performan telur, bobot telur dan efisiensi pakan pada ayam petelur jika dibandingkan dengan pemberian pakan standar.
Studi lain juga diuji pada burung puyuh (Coturnix coturnix japonica) menunjukkan bahwa substitusi 50-75% tepung ikan dengan tepung BSF memberikan respon yang positif terhadap produksi dan bobot telur puyuh, tingkat konsumsi pakan serta konversi pakan. Hal ini dapat dipahami karena tepung BSF memiliki protein dengan karakteristik asam amino yang relatif sama dengan tepung ikan.
Kemudian dari sisi ekonomi, pemberian maggot sebagai pakan ternak juga terbilang cukup bersaing. Masih dalam publikasi yang sama, Rachmawati dkk. menyebutkan bahwa harga pelet berbasis maggot yang diproduksi di daerah Jambi adalah Rp 3.500,- per kilogram dengan harga bungkil kelapa sawit berkisar Rp 1.200,- per kilogram.
Baca juga : Menakar Maggot sebagai Pakan Unggas
Harga ini lebih murah dibandingkan dengan harga pelet komersial yang mencapai Rp 7.000,- hingga Rp 10.000,- per kilogram sehingga secara ekonomis cukup menguntungkan bagi peternak. Selain itu, siklus produksi maggot juga sangat cepat, di mana satu ekor lalat BSF dapat menghasilkan 500-900 telur dalam sekali reproduksi. Disisi lain, dari segi pemeliharaan juga terbilang cukup mudah dan tidak mengenal musim, sehingga menjadi nilai lebih bagi serangga yang satu ini.
Namun, apabila melihat lebih jauh, produksi maggot secara efisien perlu lebih ditingkatkan lagi, terlebih dalam hal produk tepung. Saat ini harga maggot hidup berada dikisaran Rp 6.000,- per kilogram, maggot kering dan tepung maggot diangka Rp 60.000,- per kilogram. Sedangkan, harga SBM impor saat ini berkisar antara Rp7.000,- hingga Rp 8.500,- per kilogram dan MBM Rp 9.000,- hingga Rp 11.000,- per kilogram.
Tentu jika diperuntukan sebagai pengganti SBM dan MBM, harga tepung maggot harus mampu bersaing. Media pertumbuhan maggot berbasis limbah organik merupakan salah satu langkah yang dapat diambil untuk meningkatkan efisiensi budi daya. Hal ini dikarenakan biaya produksi dapat ditekan apabila memanfaatkan limbah organik sebagai media pertumbuhan maggot.
Selain itu, ketersedian limbah organik yang melimpah, selalu ada dan tidak berkompetisi dengan kebutuhan manusia membuat media ini sangat cocok untuk maggot. Berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bahwa total jumlah sampah Indonesia di tahun 2019 mencapai 68 juta ton dengan sampah organik mencapai 60% atau sekitar 47,6 juta ton per tahun.
Oleh karena itu, budi daya maggot dengan media limbah organik selain diharapkan mampu menjawab tantangan penyediaan bahan pakan sumber protein yang efisien dan bersaing, sekaligus mampu menjadi solusi dalam pengolahan sampah yang saat ini juga masih menjadi masalah. Kendati demikian, keberadaan limbah organik yang sejauh ini belum dipisahkan dan masih tercampur antara organik dan anorganik, sehingga masih membutuhkan proses pemisahan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, kerjasama berbagai pihak perlu dilakukan, mulai dari tingkat terkecil seperti keluarga dan desa. *Chief Marketing Officer, PT Greenprosa Adikara Nusa
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2022 ini dilanjutkan pada judul “Budi Daya Maggot”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silakan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153