Di tengah persaingan usaha yang semakin ketat, efisiensi produksi menjadi hal mutlak bagi industri perunggasan tanah air. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan adaptasi teknologi serta dukungan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Tentu hal ini pun juga berlaku bagi pelaku usaha perunggasan di daerah NTB.

Sinergi antar pemangku kepentingan perlu diwujudkan untuk menentukan arah tujuan masa depan perunggasan NTB dan mencapainya.

SDM dan kelembagaan
Guru Besar Fakultas Peternakan, Universitas Mataram (Fapet Unram), Prof. Dr. Moh. Hasil Tamzil, M.Si saat ditemui Poultry Indonesia, di Mataram, Selasa (21/6) menjelaskan bahwa dalam pembangunan perunggasan daerah diperlukan sinergi positif dan konstruktif dari semua pihak, termasuk di dalamnya adalah peran akademisi. Dari segi SDM, Ia mengaku bahwa telah melakukan penelitian terkait profil peternak terkhusus layer di NTB pada tahun 2020. Dari penelitian yang telah Tamzil lakukan, diperoleh data bahwa peternakan layer di NTB didominasi oleh peternakan kecil dengan skala pemilikan berkisar antara 500 sampai 9.000 ekor. Pola produksi sudah mengarah pada penerapan good farming system.
“Untuk di pulau Lombok, peternak layer tergolong orang-orang berpendidikan. Pendidikan terbanyak adalah tamat Perguruan Tinggi (Strata 1 dan Diploma 3), kemudian diikuti oleh pendidikan SMA, serta SMP dan SD dengan persentase yang sama. Hal ini mengandung arti bahwa sangat memungkinkan pelaku bisnis ini melakukan improvisasi pengembangan kearah yang lebih maju,” jelasnya.
Namun demikian Tamzil berasumsi bahwa, masih rendahnya jumlah peternak dan skala kepemilikan ternak menyebabkan NTB masih belum swasembada telur konsumsi. Berbeda halnya dengan bisnis broiler yang lebih berkembang dengan sistem penerapan kemitraan inti plasma. Dimana sudah tidak sulit menemukan kandang closed house broiler di NTB. Tentu hal ini merupakan sebuah hal yang positif, mengingat cuaca NTB yang cenderung ekstrem, panas dan hujannya bisa terjadi secara tiba-tiba. Dalam hal ini Tamzil juga sangat mendukung adanya adaptasi yang dilakukan oleh peternak.
Pada kesempatan lain, Lalu Sapoan, peternak layer dari Lombok Timur mengaku bahwa saat ini semangat peternak layer di NTB mulai bangkit kembali, pasca adanya pandemi dan oversupply telur yang terjadi sekitar akhir tahun 2021 hingga awal tahun 2022. Dirinya bercerita bahwa saat itu, terjadi oversupply telur, dimana banyak telur dari luar daerah yang turut masuk ke NTB. Secara rutin, telur dari luar daerah sebenarnya memang telah masuk ke NTB hanya saja saat itu persentasenya lebih besar. Menurut Sapuan, hal ini tak lepas dari fenomena pandemi Covid 19, yang berbuntut pada berbagai kebijakan pembatasan, sehingga serapan telur di Jawa tersendat dan akhirnya dilarikan ke daerah timur.
“Dari fenomena ini, peternak layer yang merasa satu nasib menjadi kompak dan akhirnya bergabung dalam sebuah wadah asosiasi yang diberi nama Perhimpunan Peternak Unggas Rakyat NTB (Petarung). Pasalnya, sebelum adanya fenomena ini peternak layer di NTB berjalan sendiri-sendiri. Memang kalau di Lombok Timur kita sudah ada kelompok peternak, namun secara NTB baru kemarin terbentuk. Dari situ pun kita belajar bahwa dengan asosiasi, ternyata posisi kita akan lebih kuat dan suara kita lebih didengar oleh pemerintah dan lebih mendapatkan perhatian. Kita tidak bisa menyuarakan secara individu,” ceritanya kepada Poultry Indonesia, di kediamannya, Senin (20/6).
Setali tiga uang, Yudianto Yosgiarso, Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN) dalam acara deklarasi Petarung dan PPN di Raja Hotel Kuta Mandalika, Lombok Tengah, NTB, pada Sabtu (25/6) menyampaikan bahwa usaha yang ditempuh oleh peternak ayam layer di NTB sudah lebih dari cukup. Terutama disaat upaya untuk mengatasi kondisi terpuruk industri peternakan layer pada kurun waktu tahun 2020 sampai awal th 2022 yang disebabkan oleh berbagai hal, seperti pandemi Covid 19, over supplay DOC broiler, tingginya harga dan perang ukraina yang memicu kenaikkan harga  pakan setiap minggu. Menurutnya, berbagai beban ini banyak menghancurkan kelangsungan bidang usaha termasuk industri peternakan ayam layer.
“Meski peternak layer NTB sudah bergabung dan mempunyai wadah Petarung, sudah juga  melakukan audiensi dengan pemerintah setempat, dan bahkan telah melakukan beberapa kali unjuk rasa sekalipun, rasanya belum juga menjawab dan memberi solusi atas kesulitan-kesulitan yang terjadi. Hal ini memperkuat asumsi bahwa perhimpunan di daerah tidaklah cukup kuat  untuk mengatasi persoalan industri peternakan yang semakin mengglobal ini. Untuk itu perlu sebuah kolaborasi atau bahkan peleburan dengan sebuah asosiasi yang legal, kuat, memahami persoalan yang terjadi, dan memiliki banyak relasi dan cabang dimana-mana, serta mendapat kepercayaan dari pemerintah,” tegas Yudi.
Prospek ke depan
Industri perunggasan merupakan salah satu industri yang telah berhasil memenuhi kebutuhan dalam negeri melalui produksi domestik, bahkan surplus. Namun demikian, peluang peternakan unggas terbilang masih terbuka lebar, mengingat rendahnya angka konsumsi masyarakat terhadap protein hewani dari daging dan telur ayam yang berpotensi akan terus tumbuh. Bahkan, santer diwacanakan kampanye konsumsi telur dan daging ayam sebagai upaya pengentasan stunting yang masih terjadi.
Data menunjukkan, salah satu daerah yang tingkat konsumsi produk perunggasan masih rendah adalah daerah NTB. Hal ini selaras dengan hasil karya ilmiah yang diterbitkan oleh Esty, dkk pada tahun 2018 yang menyebutkan bahwa konsumsi pangan sumber protein hewani asal ternak masyarakat di wilayah NTB dan NTT untuk daging sapi, daging ayam, daging lainnya dan telur masih belum memenuhi kecukupan gizi sesuai dengan yang dianjurkan. Namun demikian masih dalam publikasi tersebut memproyeksikan bahwa tingkat konsumsi 2 daerah tersebut akan terus mengalami peningkatan.
Melihat fenomena tersebut I Putu Dicka Witrayana, seorang peternak layer dari Lombok Barat mengaku tidak mengetahui secara data tingkat konsumsi tersebut, tetapi memang dirinya sering melihat terkait upaya untuk mengecilkan angka stunting di NTB. Menurutnya terjadi sedikit anomali di Lombok, dimana masyarakat lebih suka beli emas, beli kalung, tetapi tidak demikian dengan makanan.
Baca Juga: Perunggasan NTB, Potensi yang Tersembunyi
“Kalau dari daya beli saya kira masyarakat di sini cukup tinggi. Mungkin kebiasan dan mindsetnya masih belum. Untuk, itu juga penting untuk terus adanya kampanye dan edukasi gizi tentang protein hewani asal unggas ini,” cerita Dicka saat ditemui Poultry Indonesia di kandangnya, Rabu (22/6).
Potensi dan perkembangan perunggasan NTB juga diakui oleh perusahaan. Marketing Manager Area NTB, PT Charoen Phokpand Indonesia, I Putu Junaidi saat ditemui Poultry Indonesia di daerah Mataram, Selasa (21/6) mengungkapkan bahwa perunggasan di NTB dalam kurun beberapa tahun terakhir sangat berkembang, dan sangat prospektif untuk dikembangkan. Dirinya mengaku bahwa dalam 2 tahun, karena efek pandemi perunggasan di NTB mengalami stagnasi, namun hal ini merupakan fenomena global, bukan hanya di NTB. Dan seiring dengan pembukaan pembatasan wilayah dan pelonggaran dari pemerintah memang mulai terasa kebangkitannya dan mulai pulih kembali.
“Prospek ini pun juga dapat dilihat dari semakin banyaknya perusahaan pakan yang masuk dan memasarkan produknya ke daerah NTB. Kalau dulu pakan yang beredar mungkin CPI dan Japfa saja. Namun kurang lebih 5 tahun terakhir telah masuk  banyak perusahaan pakan seperti Malindo, New Hope, Patriot, Haida, Star Feed, Pakindo dan Cargill. Potensi pengembangan perunggasan ini juga didukung oleh fasilitas jalan di NTB yang relatif sudah bagus. Selain itu sekarang  juga telah ada kapal dari Surabaya langsung ke Lombok, sehingga lebih memudahkan pengiriman pakan dari Jawa. Kalau dulu kita kan harus via Bali. Namun, sekitar 1 tahun terakhir sudah bisa langsung ke Lombok,” jelasnya.
Dengan dinamika perunggasan yang terjadi, Junaidi berharap semua stakeholder  bisa mendapatkan keuntungan, sehingga semua rangkaian aktivitas ini bisa terus berputar. Dirinya juga berharap kepada pemerintah, untuk bisa berperan sebagai mediator semua stakeholder perunggasan, baik itu peternak, akademisi, petani maupun perusahaan.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari rubrik Laporan Utama yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153