Perang dagang antara US dan Tiongkok terjadi sejak 2018 (Sumber: ship&ports)
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Perang dagang antara AS dan Tiongkok yang terjadi sejak 2018 memberikan keuntungan tersendiri untuk Argentina. Setelah bertahun-tahun mencoba melakukan kerja sama bilateral dengan Tiongkok, akhirnya Tiongkok mengumumkan Argentina menjadi salah satu negara yang akan memasok bungkil kedelai menggantikan kebutuhan yang biasanya dipenuhi oleh AS.
Perang dagang Amerika Serikat–Tiongkok dimulai setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan pada 22 Maret 2018, berkehendak mengenakan bea masuk sebesar US$50 miliar untuk barang-barang Tiongkok di bawah Pasal 301 Undang-Undang Amerika Serikat Tahun 1974 tentang Perdagangan, dengan menyebut adanya “praktik perdagangan tidak adil” dan pencurian kekayaan intelektual. Sebagai pembalasan, pemerintah Tiongkok juga menerapkan bea masuk untuk lebih dari 128 produk AS, termasuk yang paling utama sekali yakni kedelai, ekspor utama AS ke Tiongkok.
Negeri tirai bambu adalah importir terbesar di dunia dan pembeli terbesar AS untuk kedelai. Tiongkok merupakan produsen daging babi terbesar di dunia yang konsumen dan industrinya bergantung pada bungkil kedelai sebagai pakan utama.
Baca Juga: Perdagangan Bungkil Kedelai Argentina
Pada bulan September 2019 lalu, Tiongkok mengkonfirmasi 7 crushing plant untuk melakukan ekspor kedelai dan bungkil kedelai dari Argentina yaitu Bunge Ltd’s Bunge Argentina, LDC Argentina, Cargill Inc, Molinos Río de la Plata, Renova, T6 dan COFCO International Argentina.
Perang perdagangan AS-Tiongkok memperkuat tangan Argentina, mendorong Tiongkok untuk menandatangani perjanjian 10 September yang membuka jalan ekspor Argentina untuk Tiongkok. Tiongkok telah menyetujui impor pakan ternak dari berbagai negara untuk mengamankan pasokan di tengah sengketa perdagangan. Perusahaan konstruksi milik negara China, China Communications Construction Company Ltd., (CCCC) bahkan mempersiapkan tawaran untuk mengeruk Sungai Paraná Argentina, sebuah saluran utama untuk biji-bijian negara itu, ketika Cina berupaya mengunci pasokan dengan berinvestasi di pusat-pusat transportasi komoditas di seluruh dunia.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap dari Majalah Poultry Indonesia edisi Februari 2020 dengan judul “Perdagangan Bungkil Kedelai Argentina”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153