Arief mengatakan bahwa tantangan industri perunggasan Indonesia di sepanjang rantai nilai dari input, produksi, pengumpulan, logistik, pengolahan, hingga pasar dan konsumen menunjukkan pentingnya peningkatan daya saing industri pengunggasan melalui modernisasi dan koordinasi rantai nilai.
Arief mengatakan bahwa tantangan industri perunggasan Indonesia di sepanjang rantai nilai dari input, produksi, pengumpulan, logistik, pengolahan, hingga pasar dan konsumen menunjukkan pentingnya peningkatan daya saing industri pengunggasan melalui modernisasi dan koordinasi rantai nilai.
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Menimba ilmu tentu tidak terbatas oleh usia dan waktu, karena ilmu pengetahuan akan terus bermanfaat hingga kapanpun. Pada hari ini, Sabtu (11/06) IPB University menggelar Orasi Ilmiah untuk Guru Besarnya. Acara yang digelar secara daring dan luring ini menghadirkan Prof. Dr. Ir. Arief Daryanto, M.Ec yang merupakan Guru Besar Ilmu Ekonomi Pembangungan, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University. Dalam kesempatan ini, dirinya menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul “Strategi Peningkatan Daya Saing dan Rantai Nilai Inklusif Industri Perunggasan di Indonesia”.
Pada kesempatannya, Arief mengatakan bahwa subsektor peternakan khususnya perunggasan memiliki kontribusi yang penting terhadap PDB nasional (Produk Domestik Bruto Nasional), penciptaan lapangan kerja, sumber utama protein hewani, dan peningkatan nilai tambah melalui pengolahan. Menurutnya industri perunggasan merupakan pasar menarik (atraktif), karena potensi konsumsi protein dan nilai transaksi pasar yang besar, baik dalam era sebelum, pada saat, dan setelah pandemi (era kenormalan baru). 
Ia melanjutkan bahwa dalam industri perunggasan, peternak skala besar, menengah, dan kecil berperan krusial dalam penciptaan lapangan kerja, penurunan kemiskinan, dan pemenuhan gizi masyarakat. Meskipun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa model peternakan unggas di Indonesia terutama peternakan skala kecil masih bersifat tradisional, dan sedang bertransisi menuju model modern melalui integrasi yang mengarah pada terciptanya economies of scale.
Kemudian dalam rangka memenuhi permintaan daging ayam yang terus meningkat pasca pandemi, menurutnya industri protein hewani perlu melakukan modernisasi agar dapat berproduksi dengan lebih efisien, efektif, dan berdaya saing. Mencermati tren transformasi yang terjadi, menurut Arief perlu dilakukan upaya sistematis untuk meningkatkan daya saing sekaligus mempromosikan ketangguhan dan ketahanan (resiliensi) industri perunggasan Indonesia.
Baca Juga: Perunggasan Nasional Harus Belajar dari Negara Eksportir Unggas
Lebih dalam Arief melihat bahwa terdapat beberapa faktor yang memengaruhi transformasi perunggasan di Indonesia, yang dapat diidentifikasi dari sisi permintaan, penawaran, dan kebijakan publik. Dari sisi permintaan, perkembangan transformasi industri perunggasan antara lain ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, daya beli masyarakat, pertumbuhan populasi, perubahan demografi, dan urbanisasi. Dari sisi penawaran, faktor utama penentu transformasi industri perunggasan, antara lain perubahan iklim, teknologi pertanian pintar, integrasi rantai nilai, kesehatan, dan penyakit hewan. 
Disisi lain, dari sisi kebijakan dalam negeri, peraturan yang tumpang tindih di tingkat domestik berpotensi menimbulkan ekonomi biaya tinggi. Sedangkan dari sisi kebijakan perdagangan internasional, liberalisasi perdagangan akan mengurangi hambatan tarif dan meningkatkan hambatan non tarif.
“Saat ini, model peternakan unggas di Indonesia pada umumnya masih tradisional yang didominasi peternakan skala kecil yang relatif belum efisien, volume produksi rendah berfokus pada livebird, pembibitannya masih tradisional dan belum menggunakan rantai dingin. Dari sini perlu transformasi model baru yang dapat mengarahkan peternak skala kecil untuk melakukan integrasi skala kecil maupun menengah, pembibitan yang modern dan tidak hanya berbasis livebird, volume produksi sesuai dengan economies of scale, dan penggunaan rantai dingin. Tentu semua ini bertujuan untuk menciptakan resiliensi atau daya tahan dalam sistem pangan berkelanjutan melalui kemampuan menyangga, kemampuan adaptif, dan kemampuan transformatif,” ucap Arief.
Selanjutnya Arief mengatakan bahwa tantangan industri perunggasan Indonesia di sepanjang rantai nilai dari input, produksi, pengumpulan, logistik, pengolahan, hingga pasar dan konsumen menunjukkan pentingnya peningkatan daya saing industri pengunggasan melalui modernisasi dan koordinasi rantai nilai. Penambahan nilai sepanjang rantai nilai ini menurutnya bisa dilakukan melalui process upgrading, product upgrading, functional upgrading, channel upgrading, dan intersectoral upgrading.
“Untuk menganalisis “critical success factors” dalam rantai nilai di tingkat global, kerangka analisis Global Value Chain (GVC) banyak digunakan. Partisipasi suatu negara dalam GVC merupakan gabungan dari backward dan forward participation. Berdasarkan hasil analisis GVC, peningkatan nilai tambah dalam industri perunggasan dilakukan melalui cara-cara pengembangan teknologi baru, penemuan pengetahuan baru, dan perbaikan produk yang sudah ada,” tambahnya.
Ke depan Arief mengatakan bahwa peningkatan inklusivitas merupakan suatu keniscayaan untuk daya saing dan daya tahan industri perunggasan. Integrasi vertikal merupakan model strategi rantai pasok yang paling umum dan dilaksanakan oleh perusahaan skala yang lebih besar dengan menggunakan kerjasama atau kemitraan kontrak dengan para peternak yang saling menguntungkan. 
Inklusivitas industri perunggasan ini dilakukan melalui penerapan integrasi vertikal dengan cara penggunaan teknik produksi yang modern dan efisien, penerapan manajemen yang baik, dan penerapan pola-pola kemitraan (contract farming) untuk transfer teknologi dan penguatan peternak skala kecil. Ia juga menambahkan bahwa perubahan paradigma “from volume to value” diperlukan untuk meningkatkan diferensiasi produk industri perunggasan sehingga lebih berorientasi pada nilai tambah.
Perusahaan-perusahaan yang menerapkan model integrasi vertikal dan kemitraan kontrak terbukti menghasilkan peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kualitas produk. Konsumen dapat memperoleh produk dengan harga yang lebih murah, dan peternak mendapatkan perlindungan dari harga komoditas unggas ayam ras yang sangat fluktuatif. Alternatif lain yang dapat dilakukan adalah para peternak diarahkan untuk membentuk integrasi horizontal dalam usaha bersama atau koperasi,” tutur Arief. 
Lebih dalam Arief mengatakan bahwa pelaku usaha dalam industri perunggasan juga perlu menerapkan digitalisasi dan modernisasi di seluruh rantai pasokan. Kedua hal ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi lahan pertanian, mengurangi rasio konversi pakan, mengurangi masa pertumbuhan dan penggemukan, serta mengatasi sifat produk unggas yang perishable, seasonal, short shelf-life, dan voluminous
Sejalan dengan upaya di atas Arief menegaskan, peningkatan daya saing industri daging ayam membutuhkan perubahan model rantai pasokan dari yang bersifat tradisional ke model yang baru. Model baru memerlukan peningkatan kuantitas dan kualitas infrastruktur di daerah-daerah sentra produksi ayam, seperti efisiensi biaya logistik, peningkatan ketersediaan listrik dan air bersih di gudang penyimpanan, perbaikan kandang, dan penyediaan rantai dingin (cold chain). 
Selain itu, diperlukan pemanfaatan potensi pasar digital terutama di wilayah perkotaan dan sinkronisasi dan harmonisasi kebijakan domestik terkait impor ayam dan bahan baku pakan terutama jagung dan soybean meal. Selain itu, mia mengatakan perlu adanya koordinasi dengan Kementerian Perdagangan untuk dapat memaksimalkan kerjasama perdagangan bebas dan menurunkan hambatan non tarif yang ada.
Dalam kesempatan tersebut, turut dikukuhkan pula Prof. Dr. Ir. Iis Diatin, M.M,  yang merupakan Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Bidang Teknik Produksi dan Manajemen Akuakuktur yang membawakan orasi berjudul “Pengembangan Produksi dan Bisnis Budi Daya Ikan Hias dalam Rangka Mendukung Peningkatan Ekspor Indonesia”serta Prof. Dr. Ir. Miftahudin, M.Si selaku Guru Besar Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam yang membawakan orasi berjudul “Pemanfaatan Fisiologi Tumbuhan, Teknologi Genomik, Bioinformatika, dan Bioteknologi dalam Pencarian Gen Baru untuk Pengembangan Tanaman Toleran Cekaman Kekeringan dan Aluminium.