Kecintaannya kepada peternakan dan perikanan membawa Asep Anang menjadi sosok ahli genetika terkemuka yang telah mendedikasikan dirinya untuk pengembangan industri peternakan dan perikanan di Indonesia.
Nama Asep Anang tentu sudah tidak asing lagi bagi dunia peternakan dan perikanan nasional. Mempunyai gelar lengkap, Dr.agr. Ir. Asep Anang, M.Phil., IPU, merupakan seorang tokoh ahli genetika terkemuka di industri peternakan dan perikanan, dengan sederet prestasi dan pengalaman yang luar biasa. Rupanya, ketertarikannya terhadap dunia peternakan dan perikanan telah terlihat sejak Asep belia. Terlebih, kala itu ayahnya juga memiliki peliharaan ayam kampung, sehingga secara tidak langsung juga membuat dirinya mencintai sektor yang hingga saat ini terus digeluti.
“Dari kecil, layaknya anak-anak saya suka ke kolam, untuk mencari ikan. Dan ayah saya punya ayam kampung peliharaan di rumah. Jadi sebetulnya saya dari kecil memang telah bersinggungan langsung dengan dua sektor ini. Walaupun secara sekolah di peternakan, namun saat ini selain menekuni dunia peternakan, saya juga bekerja di perikanan. Tentu dalam hal genetika,” jelasnya saat di hubungi Poultry Indonesia secara daring, Rabu (6/10).
Kecintaannya pada sektor peternakan ini pun mengantarkan Asep untuk menempuh perkuliahan peternakan, tepatnya di Universitas Padjadjaran. Dirinya mengaku bahwa peternakan menjadi pilihan pertama, dengan kesadaran penuh tanpa paksaan siapapun. Setelah menyelesaikan pendidikan strata 1, Asep melanjutkan ke jenjang berikutnya dan mendapatkan gelar Master of Philosophy dari University of Edinburgh, Inggris. Tak puas di situ, dirinya memutuskan untuk meneruskan pendidikan di Martin Luther Universität, Jerman dan mendapatkan gelar Doctor agrarcultutarum.
Dalam perjalanan pendidikannya tersebut, Asep mengungkapkan bahwa keputusannya untuk fokus pada genetika didorong oleh tantangan dalam bidang tersebut yang menurutnya kurang diminati. Sebagai lulusan peternakan, ia memilih untuk mempelajari genetika ternak dengan kesadaran penuh akan kesulitannya. “Saya melihat banyak lulusan peternakan yang melanjutkan pendidikan itu mengambil jurusan yang banyak diminati orang lain. Dari situ saya berfikir harus bisa mengambil jurusan yang sulit, karena saya menyukai tantangan. Dan saya lihat genetika ini adalah ilmu yang tidak mudah, sehingga saya memilih fokus di genetika,” ujar Dosen Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran ini.
Dengan sederet pengalaman pendidikan tersebut, Asep memiliki pengalaman internasional yang cukup berkesan ketika melanjutkan studi doktoralnya di Jerman. Di sana, ia mendapat kesempatan besar untuk melakukan penelitian tentang seleksi galur murni pada ayam petelur, hingga mempresentasikan temuannya di Kanada untuk penemuan novel. Dan saat itu, dirinya adalah orang pertama dari Indonesia yang mengerjakan model evaluasi genetik di kancah internasional. Selain itu, pengalaman di Jerman juga membuka wawasannya akan perbedaan signifikan antara penelitian yang aplikatif dan yang hanya fokus pada akademis dan publikasi. Di sana pula, ia mulai bersemangat terjun dalam industri karena menemukan lingkungan penelitian yang mendukung tanpa tekanan publikasi.
“Pada saat melanjutkan S3, saya mendapat proyek di Jerman untuk seleksi galur murni ayam petelur di Lohmann Tierzucht. Setelah pulang ke Indonesia, di samping jadi dosen, saya juga menjabat sebagai kepala riset farm di Charoen Pokphand Indonesia. Hal ini membuka pikiran saya terkait besarnya jarak antara ilmu dan penerapannya. Saya tersadar bahwa selama ini yang kita lakukan hanya mendalami, meneliti, dan mengajarkan, tetapi jarang sekali hasilnya diterapkan. Di sana, saya melihat perkembangan yang sangat maju, di mana perusahaan bebas bereksperimen dan berkembang tanpa beban publikasi, yang membuat saya sangat senang. Semua penelitian saya didanai dan didukung secara penuh, termasuk riset mengenai aplikasi. Saat itulah, saya mulai tertarik untuk terjun ke industri. Awalnya, saya hanya berperan sebagai dosen yang sibuk dengan penelitian untuk publikasi, namun belum banyak aplikasi praktis yang menyentuh industri,” tambahnya.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi November 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi November 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










