Meskipun memulai dengan sumber daya terbatas, Ashab Alkahfi selaku co-founder perusahaan agritech Chikin Indonesia (Chikin) telah membuktikan bahwa mimpi besar bisa diwujudkan dengan langkah-langkah kecil yang konsisten. Melalui bendera Chikin, dirinya mampu mencatatkan berbagai prestasi yang gemilang dengan memberikan dampak positif dan warna baru bagi perunggasan Indonesia. Saat berbincang dengan Poultry Indonesia, Kamis (21/11) dirinya menceritakan bahwa Chikin didirikan sejak ia masih berstatus sebagai mahasiswa, tepatnya saat memasuki tingkat dua perkuliahan.
Meskipun latar belakang pendidikannya adalah pertanian, tepatnya jurusan Agroekologi, Ashab memilih fokus ke peternakan ayam karena pertimbangan modal awal yang lebih kecil dibandingkan sektor agribisnis lainnya seperti perkebunan. Dengan keyakinan bahwa ayam memiliki potensi besar untuk meningkatkan ketahanan pangan, Ashab mendirikan usaha peternakan ayam dari nol.
“Pada saat itu, saya memang ingin memiliki bisnis di sektor pertanian karena melihat peluang besar untuk memberikan dampak luas, terutama dalam ketahanan pangan. Namun, sektor pertanian saya pikir cenderung membutuhkan modal besar dan lahan yang luas, sehingga tidak memungkinkan bagi seorang mahasiswa untuk memulai bisnis seperti di perkebunan kopi atau sawit. Dari situ saya mempelajari berbagai peluang di sektor lain, seperti peternakan dan perikanan, dengan melakukan riset mendalam, hingga mencatat model bisnis dari lebih dari 50 lebih komoditas. Akhirnya, saya menyadari bahwa peternakan ayam memiliki potensi yang sangat besar, meskipun terdapat banyak tantangan di sektor ini,” ujarnya.
Kala itu, dirinya melihat bahwa salah satu masalah utama di perunggasan adalah rendahnya indeks konsumsi daging ayam per kapita di Indonesia, yang hanya sekitar 7 kilogram per tahun. Angka ini jauh tertinggal dibandingkan negara Asia lainnya, seperti Malaysia yang sudah mencapai lebih dari 40 kilogram per kapita. Rendahnya konsumsi ini menunjukkan bahwa akses masyarakat terhadap protein masih sangat terbatas. Selain itu dari segi budi daya pun, Ashab melihat bahwa masih terdapat banyak hal yang harus dioptimalkan.
“Melihat peluang ini, saya merasa usaha peternakan ayam masih memiliki ruang yang besar untuk berkembang. Dengan menyediakan akses pasar yang lebih luas dan meningkatkan efisiensi budi daya, saya yakin dapat memberikan dampak positif, baik bagi konsumen maupun peternak. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk memulai bisnis peternakan ayam dengan membangun kandang seadanya, dengan mengadopsi teknologi digital demi meningkatkan efisiensi usaha,” tambahnya
Bersama dua rekannya yang ia temui di UKM kewirausahaan kampus, mereka mulai merancang projectnya lalu mencari pendanaan dengan mengajukan dan mempresentasikan prototype pertamanya melalui salah satu program di kampusnya, Universitas Brawijaya. Dari prototype tersebut, Ashab berhasil mendapatkan pendanaan dari kampus sebesar 3 juta rupiah. Meski dianggap remeh oleh banyak orang, dana ini menjadi awal dari capain besar yang kini dirinya buktikan. “Tentu saat itu banyak yang ngetawain. Bagaimana bisa mau buat bisnis besar dan membantu banyak peternak cuma dengan modal 3 juta,” kenangnya sembari bercanda.
Namun, bukannya pesimis, Ashab justru melihat bahwa modal 3 juta tersebut merupakan langkah pembuka untuk mewujudkan bisnis yang lebih besar. Dari situ, dirinya memutar otak mencari cara untuk mendapatkan pendanaan tambahan, mulai dari mengikuti berbagai kompetisi bisnis, hingga mencari investor dari keluarga, teman, dosen, atau siapa pun yang dikenal. Akhirnya, dari dana yang terkumpul, Ashab dan temannya berhasil membangun kandang ayam pertama di Klaten, Jawa Tengah.
“Dari modal awal 3 juta itu, saya gunakan untuk membayar desainer dan membuat prototipe yang lebih baik. Prototipe ini kemudian saya ajukan ke program pendanaan yang lebih besar. Hasilnya, saya mendapatkan hibah mulai dari 30 juta hingga 300 juta, yang merupakan dukungan dari kampus dan pemerintah untuk mahasiswa yang memiliki ide bisnis. Di saat yang sama, saya juga menggalang dana dari keluarga dan teman untuk mendirikan kandang,” tandasnya.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Profil pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2024. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2024, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com










