POULTRYINDONESIA, Jakarta – Asia Livestock Hub bersama WVPA Malaysia menyelenggarakan webinar yang bertajuk “Molecular Basis for Antigenic Variation in H9N2 and Impact on Vaccination” melalui aplikasi Zoom, Jumat (19/11). Acara ini dihadiri oleh Dr. Teguh Yodiantara Prajitno selaku Senior Vice President, Japfa Comfeed Indonesia.
Baca juga : Patogenitas Gallibacterium anatis
Dalam sesi pemaparannya, Teguh mengatakan bahwa H9N2 adalah penyakit infeksius pada unggas yang disebabkan oleh virus dari golongan genus virus Influenza A, familia Orthomyxoviridae. Berdasarkan tingkat virulensinya, virus Avian Influenza (AI) H9N2 diklafikasikan sebagai Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI). Penyebaran virus AI cepat merebak secara luas dikarenakan buruknya pelaksanaan prinsip biosekuriti.
“Virus AI disebabkan oleh genom RNA tersegmentasi 8 gen dan 10 protein. Virus ini sangat bervariasi dan terdiri dari kombinasi 2 glikoprotein di permukaan, yaitu HA 1-18 dan NA 1-11. Infeksi virus H9N2 dapat menyebabkan masalah penurunan produksi telur yang sangat serius pada ayam ras petelur,” kata Teguh.
Lebih lanjut, Teguh memberikan keterangan bahwa AI H9N2 ini bukan merupakan hal yang baru. Pada tahun 1966 virus AI H9N2 ini pertama kali diisolasi dari kalkun di Wisconsin yang kemudian menyebar dengan cepat ke belahan dunia. Di Indonesia sendiri, virus AI H9N2 mulai terdeteksi pada tahun 2016.
“Virus AI H9N2 ini memiliki 3 sub grup utama di dunia yaitu G1, Y280/BJ94, dan Y439. Virus AI H9N2 ini merupakan kasus endemik di Asia dan Afrika,” beber Teguh.
Menurut Teguh, kartografi antigenik berfungsi sebagai memvisualisasikan perubahan antigenisitas. Kartografi antigenik dapat membantu untuk mengategorisasikan bibit virus untuk produksi vaksin sehingga dapat memprediksi kemanjuran vaksin berdasarkan titer dan luasnya respon antibodi.