Seminar yang diadakan ASOHI mengkaji tentang penerapan penggunaan antibiotik di lapangan pasca dua tahun pelarangan AGP
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Bertempat di Menara 165, Jakarta Selatan, Kamis (27/2), Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menggelar Seminar Nasional bertajuk “Peternakan Indonesia Pasca Dua Tahun Pelarangan AGP.”
drh. Andi Widjanarko mewakili Ketua acara yang berhalangan hadir, mengatakan bahwa sejak dua tahun ditetapkannya pelarangan antibiotic growth promoter (AGP) dalam pakan ternak, banyak yang mempertanyakan apakah implementasi ini sudah sesuai dengan tujuannya.
“Atas dasar itulah kami menyelenggarakan seminar ini, nanti kita akan lihat apakah sudah ada pengurangan atau penggunaan antibiotik di lapangan,” jelasnya.
Selanjutnya Ketua Umum ASOHI, drh. Irawati Fari, menyampaikan bahwa isu mengenai pelarangan AGP dimulai sejak tahun 2015. ASOHI bersama pemerintah mengawal tentang proses ini sampai dengan dikeluarkannya Permentan Nomor 14 Tahun 2017.
Saat itu dapat dikatakan merupakan hal yang tak mudah bagi ASOHI, karena ada tekanan beberapa perusahaan penyedia AGP, karena bisa dikatakan bahwa AGP menyumbangkan keuntungan yang cukup besar bagi perusahaan tersebut.
“Tidak terasa sudah dua tahun pasca pelarangan AGP dan sepertinya ini saat yang tepat untuk mengadakan seminar untuk mengevaluasi. Saya harap peretemuan hari ini menjadi suatu referensi yang dapat ditindaklanjuti dalam program aksi nasional nantinya,” ujar Ira.
Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertanian, melalui Direktur Kesehatan Hewan
Drh. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, Ph.D yang mewakili Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, mengungkapkan bahwa sinergitas antara pemerintah dan ASOHI telah tercermin dalam berbagai kegiatan berkenaan dengan obat hewan. Pihaknya tentu berharap ke depannya terdapat kerja sama dari semua pihak untuk mencari alternatif pengganti AGP yang efektif.
“Kerja sama yang erat dari para pakar dari perguruan tinggi serta balai penelitian dan peran serta pelaku bisnis dalam bidang peternakan dapat memunculkan inovasi-inovasi baru untuk mengganti AGP.”
Pemaparan seminar dibagi menjadi dua sesi. Pada sesi pertama diisi oleh tiga pemateri yang membahas dari sisi pengamatan penggunaan antibiotik di lapangan, surveillance resistensi, antibiotik pada beberapa daerah di Indonesia, antimicrobial resistance genes (ARG), dan dari segi farmakokinetik antibiotik serta residunya yang tertinggal dalam daging maupun telur.
Sesi kedua yang diisi oleh dua pemateri membahas tentang penggunaan AGP pada pakan, regulasi, beserta temuannya di lapangan.