Suasana webinar ASOHI
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung dari tahun 2020 sampai penghujung 2021 ini tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga mempengaruhi perekonomian khususnya ekonomi peternakan. Berangkat dari hal tersebut, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menyelenggarakan Webinar Nasional Outlook Bisnis Peternakan Asohi (WOBPA) 2022 dengan tema “Bersama Menghadapi Dinamika dan Percepatan Pemulihan” yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom, Kamis (16/12).
Baca juga : Poultry Indonesia Forum Ulas Potensi Industri Perunggasan 2022
Dalam sambutan nya, Drh. Akhmad Harris Priyadi selaku Ketua Panitia WOBPA 2022, mengucapkan, tujuan dilaksanakannya webinar ini untuk membantu stakeholders peternakan untuk turut serta bangkit dari keterpurukan krisis ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi Covid-19.
“Webinar ini dilaksanakan dengan maksud untuk mengembalikan esensi kebersamaan dari segenap stakeholders peternakan, mengingat disrupsi dan tantangan-tantangan yang terjadi sudah sedang dan akan kita rasakan bersama,” ucap Akhmad
Sambutan dilanjutkan oleh Drh. Irawati Fari selaku Ketua Umum Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) yang mengatakan bahwa walaupun Covid-19 masih terjadi hingga penghujung tahun 2021, namun dewasa ini, situasi sudah mulai membaik. Melihat dari situasi tersebut, ia berharap bahwa di tahun 2022 sudah mulai memasuki masa pemulihan ekonomi.
“Dengan melihat situasi saat ini yang semakin membaik, mudah-mudahan tahun 2022 mendatang kita masuk dalam masa pemulihan. Dengan tema ‘Bersama Menghadapi Dinamika dan Percepatan Pemulihan’ ini mengandung makna bahwa kita semua stakeholders peternakan harus bersama-sama dalam menghadapi berbagai dinamika dan berupaya melakukan percepatan pemulihan,” kata Irawati.
Kemudian, Brigjen Pol. Drs. Helmy Santika, S.H., S.I.K., M.Si. selaku Kepala Satgas Pangan Polisi Republik Indonesia memberikan sambutan nya. Helmy memberikan keterangan mengenai kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia.
“Sejak Maret 2020, Negara kita mengalami Covid-19. Covid-19 ini memberi banyak dampak diantaranya adalah kesehatan jiwa, ekonomi dan pelaku usaha. Hingga November 2021 sudah tercatat 4,2 juta yang positif terpapar Covid-19. Pemerintah tentu telah melakukan upaya, salah satunya ialah upaya pemulihan ekonomi,” terang Helmy.
Lebih lanjut, Helmy juga menyebutkan bahwa Satgas Pangan Polri sejauh ini telah melaknakan upaya sebagai langkah mitigasi terhadap pengedaran obat-obat hewan ilegal yang beredar di Indonesia.
“Satgas Pangan Polri juga melakukan langkah antisipasi pengedaran obat hewan ilegal. Tujuannya adalah kami Satgas Pangan ingin membantu para stakeholders untuk dapat menjamin kualitas pangan yang sehat dan aman untuk dikonsumsi,” lanjut Helmy.
Sambutan selanjutnya sekaligus pembukaan disampaikan oleh Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M.Si selaku Direktur Kesehatan Hewan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Nuryani menyampaikan, untuk mewujudkan keberlanjutan pangan, harus dilakukannya penyelenggaraan pangan secara mandiri.
“Bedasarkan UU RI No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Negara berkewajiban mewujudkan suatu ketersediaan dan keterjangkauan konsumsi pangan yang cukup, aman, bermutu, bergizi dan seimbang baik tingkat nasional maupun daerah. Oleh karena itu perlu dilakukan penyelenggaraan pangan secara mandiri, kita harus memproduksi pangan secara mandiri dan memenuhi standar persyaratan mutu,” pungkas Nuryani.
Sesi pemaparan materi webinar dimulai oleh Achmad Dawami selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) yang membawa materi mengenai kinerja peternakan broiler dan produksi di tahun 2022. Dawami mengungkapkan, pada tahun 2022 memiliki potensi surplus supply DOC FS sebesar 732 juta ekor atau setara dengan 830 ribu ton karkas.
“Dengan melihat potensi pada tahun 2022, apakah langkah pemerintah dan stakeholders dalam pengendalian supply demand dengan cutting HE dan apkir PS dini akan tetap dilakukan atau tidak saya tidak tahu,” papar Dawami.
Baca juga : Koperasi Wira Sakti Utama Gelar Rapat Anggota Tahunan
Selanjutnya, Desianto Budi Utomo selaku Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menjelaskan tentang potret bisnis pakan ternak 2021. Desianto membeberkan bahwa terjadi beberapa masalah di industri pakan perunggasan antara lain masalah bahan baku, logistik, struktur biaya pakan, struktur biaya budidaya ternak, dan pemasaran livebird.
“Masalah yang terdapat pada industri perunggasan saat ini contohnya dari segi struktur biaya pakan adalah biaya struktur pakan mencapai 80-85% dari bahan pakan,” jelas Desianto.
Masih dalam acara yang sama, Eddy Wahyudin selaku Wakil Ketua Umum Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), mengucapkan, harga telur maupun daging di tahun 2022 akan memberi keuntungan di kalangan peternak apabila tidak terjadinya penambahan populasi atau surplus seperti yang terjadi di tahun 2021. Apabila itu terjadi, Eddy berharap perusahaan-perusahaan peternakan untuk melakukan upaya ekspor.
“Kami berharap agar perusahaan-perusahaan peternakan melakukan upaya ekspor dalam rangka memasarkan hasil produksinya dan tidak lagi bertumpu pada pasar becek yang notabene merupakan pasar peternak rakyat,” pungkas Eddy.
Di pemaparan terakhir, Drh. Irawati Fari selaku Ketua Umum ASOHI, menceritakan, situasi bisnis obat hewan di sepanjang tahun 2021 mengalami pasang surut yang disebabkan oleh Covid-19 yang berdampak pada ketidakseimbangan supply demand obat hewan. Sementara itu, Irawati mengatakan, predisik bisnis obat hewan di tahun 2022 khususnya pada segmen perunggasan akan mengalami pertumbuhan sekitar 5-6%.
“Di kondisi seperti ini, perusahaan obat hewan harus taat aturan, serta harus lebih kreatif dan inovatif dalam menjalankan manajemen usahanya atau bisa disebut dengan survival strategy,” pungkas Irawati.
Di pemaparan terakhir, Victor Stefano selaku Research Analyst Danareksa Sekuritas dan Pengamat Perusahaan Publik Peternakan, mengatakan bahwa potensi bisnis perunggasan di tahun 2022 akan mengalami tren positif dilihat dari tingginya konsumsi daging ayam yang ditinjau dari tingginya PDB dan stabilnya harga livebird yang berdampak pada keberlanjutan supply.
“Pertumbuhan PDB memiliki nilai korelasi sebanyak 0,5 dengan pertumbuhan pendapatan industri perunggasan,” kata Victor.