Segerombolan ayam pedaging dalam satu frame
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Pandemi COVID-19 yang melanda dunia sejak awal tahun 2020 membuat sektor perekonomian terpukul, tak terkecuali sektor industri peternakan dan perunggasan.
Berangkat dari hal tersebut, Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) mengadakan sebuah webinar dengan tema “Dampak Pandemi COVID-19 pada Bisnis Peternakan” yang digelar secara daring melalui aplikasi Zoom, Selasa (24/11).
Dalam acara tersebut, ASOHI mengundang perwakilan dari pemerintah yaitu Dirjen PKH Nasrullah, serta para ketua asosiasi peternakan di antaranya Achmad Dawami (Ketua Umum GPPU), Desianto B. Utomo (Ketua Umum GPMT), Eddy Wahyudin dan Samhadi (Pinsar Indonesia), Yudi Guntara Noor (Ketua DPP HPDKI), Teguh Boediyana (Ketua PPSKI), Sauland Sinaga (Ketua Umum AMI) dan Irawati Fari (Ketua Umum ASOHI), yang masing-masing memberikan pemaparan mengenai situasi bisnis pada tahun 2020 dan proyeksinya pada 2021 mendatang. Dalam acara tersebut juga turut mengundang Juru Bicara Penanganan COVID-19 Prof. Wiku Adisasmito, serta pengamat ekonomi Faisal Basri.
Baca Juga: Pandemi COVID-19 Melanda Bisnis Perunggasan Merana
Nasrullah mengimbau kepada anggota yang terdaftar dalam ASOHI agar dapat berperan secara aktif dalam rangka mencari negara baru untuk pasar ekspor.
“Kita harus secara aktif mencari barang-barang apa yang diinginkan oleh negara tujuan ekspor. Juga harus dikembangkan dengan memerhatikan mutu dan keberlanjutan pasokan serta selalu mempertimbangkan efisiensi usaha agar usaha yang dijalankan bisa semakin kompetitif,” ujar Nasrullah.
Lalu jika melihat perjalanan harga ayam ras di tahun 2020 yang terdampak COVID-19, Achmad Dawami bercerita bahwa pada triwulan kedua memang sudah mulai terlihat ada peningkatan, namun pada saat triwulan pertama memang ada penurunan harga yang tajam akibat kepanikan masyarakat.
“Triwulan pertama kita semua dikagetkan dengan PSBB ketat yang diterapkan oleh pemerintah. Akibatnya terjadi panik massal, dan perilaku panic buying maupun panic selling. Perilaku tersebut justru membuat produk peternakan terutama yang live product seperti DOC dan livebird mengalami drop yang luar biasa. Harga drop jauh di bawah biaya pokok peternak,” ujar Dawami.