Oleh : Budi Wahono*
Di Indonesia, beberapa hewan ternak selain dipelihara untuk konsumsi (telur, daging dan susu) juga dipelihara untuk kebutuhan hobi, hias, serta kontes. Seperti halnya kambing, sapi, ayam dan burung. Selain itu juga ada ternak entok, yang pada beberapa tahun ke belakang sering mengadakan kontes di berbagai daerah.
Pasalnya entok yang dulu lebih dikenal masyarakat berwarna hitam atau putih, saat ini telah dikembangkan dan disilangkan oleh para breeder, sehingga muncul entok dengan variasi warna baru, seperti lavender, metalik dll. Selain itu juga muncul berbagai motif baru, dimana yang dulu entok hanya dikenal dengan motif jali, sekarang telah muncul berbagai motif lain seperti jaligon, milenial, bondol milenial, jali doble blirik, riple, loney dan mata merah.
Kendati demikian, karena kontes entok ini tergolong masih baru, maka belum ada sebuah pakem penilaian yang digunakan dan disepakati bersama. Hal ini tak lepas karena belum adanya wadah yang menaungi peternak dan penghobi entok kala itu. Persoalan tersebutlah yang memantik terbentuknya Asosiasi Peternak Entok Nusantara (ASPEN). Tepatnya pada tanggal 3 April 2021, telah dilaksanakan musyawarah nasional untuk pembentukan sebuah wadah asosiasi. Dan saat ini ASPEN beranggotakan seluruh peternak dan penghobi entok di seluruh wilayah Indonesia, mulai dari Sumatra, Jawa, Sulawesi, Bali hingga Kalimantan.
Kemudian, dengan berbagai event atau kontes yang telah digelar, penulis melihat bahwa animo dari peternak dan penghobi entok ini semakin meningkat. Pada tahun 2020 kontes entok mulai digelar, di Blitar dan dilanjutkan di Kendal dan Malang. Bahkan mulai tahun 2022 telah terlaksana kontes entog  tingkat Nasional  seri ASPEN, yang diantaranya di Tulungagung (Oktober 2022), Jombang (Maret 2023), Blitar (Mei 2023), serta Jogja (Agustus 2023). Dan ke depan juga akan terus digelar kontes entok, seperti di Jogja, Magelang dan Kediri. Selain itu, dengan terbentuknya ASPEN juga membuat perkembangan animo dari peternak dan penghobi ini semakin kencang.
Dalam perjalanannya ASPEN dibentuk untuk mewadahi seluruh peternak dan penghobi entok agar lebih tangguh dan sejahtera. Tangguh dalam arti dapat menjawab berbagai tantangan dalam proses pemeliharaan, seperti penyakit, kesulitan pakan, pemasaran dll. Yang pada akhirnya ketika anggota bisa berhasil dalam proses pemeliharaan, maka akan dapat meningkatkan taraf kesejahteraan dalam hidupnya.
Di sisi lain, tak bisa dipungkiri bahwa basic dari penghobi entok ini adalah kalangan menengah ke bawah, dan belum bisa seperti hewan hobi atau hias lain yang telah masuk dikalangan menegah ke atas, sehingga harganya pun bisa sangat mahal. Hal inilah yang menjadi tantangan bagi perkembangan di entok ini. Karena merupakan bidang yang baru maka antara penghobi dan peternak ini masih tercampur, sehingga harga entok hias pun belum bisa terlalu naik.
Di sisi lain,  karena memang sedang merintis dan basic pecintanya adalah menengah ke bawah, maka kita pun tidak bisa menarik registrasi kontes yang terlalu tinggi. Sedangkan pakan khusus entok ini juga belum diproduksi secara massal oleh pabrikan, sehingga untuk mencari sponsor dari pabrikan juga masih cukup sulit. Efeknya hadiah serta uang pembinaannya pun belum bisa banyak dan harga jual entok hias pun belum bisa tinggi. Mungkin saat ini angka entok hias di kisaran 3-5 juta, belum sampai puluhan seperti ternak hobi atau hias lain. Sementara itu, bagi para peternak entok pedaging (konsumsi) persoalan tingginya harga pakan menjadi salah satu tantangan yang masih dirasakan. Karena pakan pabrikan atau biasanya starter broiler digunakan oleh peternak pada umur 0-30 hari, baru setelah 30 hari – panen (sekitar 3 bulan) menggunakan pakan alternatif seperti eceng gondok, rumput-rumputan dll.
Melihat berbagai tantangan tersebut ASPEN terus melakukan berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan harga jual entok, dimana salah satunya adalah kontes. Dengan kontes ini, diharapkan masyarakat bisa lebih kenal, familiar dan tertarik dengan entok hias ini. Yang pada akhirnya juga akan meningkatkan permintaan dan diikuti oleh kenaikan harga entok hias. Selain itu, ASPEN juga terus melakukan pendekatan terhadap berbagai pihak, terutama pemerintah. Dimana entok ini bisa dijadikan salah satu alternatif untuk meningkatkan ekonomi keluarga. Karena entok merupakan salah satu ternak yang mempunyai harga jual stabil, permintaannya besar dan proses pemeliharaannya pun cenderung mudah. Terakhir sebagai Ketua Asosiasi Peternak Entok Nusantara (ASPEN), penulis mengajak seluruh anggota untuk tidak menyerah dan terus memperkenalkan entok sebagai ternak yang potensial baik untuk konsumsi maupun hobi atau hias. Dimana entok bisa menjadi ternak penghasil pangan yang potensial sekaligus penggerak ekonomi di pedesaan, karena permintaannya besar dan harga jualnya stabil. *Ketua Asosiasi Peternak Entok Nusantara 
Artikel ini merupakan rubrik Suara Asosiasi pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Agustus 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com