Dalam dunia perunggasan, penyakit aspergillosis mungkin bukan nama baru. Jamur ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya sangat serius.
Penyakit yang juga dikenal dengan sebutan brooder pneumonia, mycotic pneumonia atau pneumomycosis ini disebabkan oleh jamur Aspergillus, terutama Aspergillus fumigatus. Meski terdengar sederhana, infeksi jamur ini bisa berdampak serius pada performa ayam jika tidak dicegah sejak dini.
Untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam mengenai penyakit ini, Tim Poultry Indonesia mewawancarai drh. Agung Puji Haryanto, S. KH selaku Dosen Program Studi Peternakan di Universitas Djuanda secara daring pada Kamis, (6/11).
“Aspergillosis itu umumnya menyerang ayam muda, terutama di bawah umur 5 hari. Kalau ditemukannya di umur 15 hari keatas biasanya bentuknya sudah kronis. Pada broiler, kasus banyak ditemukan di bawah 7 hari, tapi kalau kondisi kandangnya jorok dan lembap, di umur 18 hari pun masih bisa muncul”.
Untuk ayam layer, kasus aspergillosis biasanya muncul pada fase awal pemeliharaan, yakni di bawah umur 5 minggu. Namun, penyakit ini bisa kembali menyerang di umur 18 hingga 35 minggu apabila kondisi kandang tidak bersih dan banyak debu.
“Saya bahkan pernah temukan kasus di umur 30 minggu, tapi ini cukup jarang terjadi, biasanya memang menyerang ayam dengan usia muda. Jadi kebersihan kandang itu mutlak penting,” ujarnya.
Penyebab dan Faktor Pemicu
Aspergillosis berkembang dari kombinasi faktor lingkungan, pakan, dan manajemen. Agung menyampaikan bahwa jamur Aspergillus tumbuh subur di kondisi lembap dan bersuhu tinggi, dua hal yang sering ditemukan di kandang dengan ventilasi buruk atau litter yang tidak dikelola dengan baik.
“Kontaminasi jamur bisa datang dari mana saja, dari sekam, pakan, bahkan debu di sekitar kandang. Kadang kita tidak sadar, pakan disimpan di gudang yang kelembapannya tinggi. Begitu kadar air bahan baku di atas 14%, jamur bisa tumbuh. Karena itu penyimpanan harus benar-benar kering, sirkulasi udara lancar, dan gudang juga perlu desinfeksi, bukan cuma kandangnya”.
Menariknya, penyakit ini tidak ditularkan dari induk ke anak, melainkan melalui lingkungan dan bahan yang terkontaminasi. Spora jamur sangat kecil, ringan, dan bisa terbawa angin ke seluruh area kandang, bahkan berpindah dari satu kandang ke kandang lain.
Meski banyak peternakan yang kini menggunakan sistem closed house, bukan berarti aspergillosis hilang begitu saja. Menurutnya, penggunaan teknologi seperti kandang closed house apabila tidak disertai dengan manajemen pemeliharaan yang baik maka tentu masih banyak dijumpai penyakit.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2025. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2025, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.











