POULTRYINDONESIA, Tangerang — Sesuatu yang ditakutkan dari kasus stunting bukan semata terkait tinggi badan anak. Namun lebih dari itu, hal yang paling dikhawatirkan dari stunting adalah tumbuh kembang (tumbang) sel-sel otak yang tidak maksimal. Hal ini dikemukakan oleh Prof. drh. M. Rizal M Damanik, MRep.Sc, PhD, Deputi Bidang Pelatihan, penelitian dan pengembangan (Lalitbang), Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dalam acara bertajuk Festival Ayam dan Telur , di ICE BSD, Tanggerang, Rabu (9/11).
Menurutnya jika lewat 2 tahun, maka bayi stunting memang tidak mati tapi pertumbuhannya terhambat. Kedepannya anak akan sulit fokus dan konsentrasi ketika di sekolah, sehingga tidak berprestasi dan akan sulit mencari lapangan pekerjaan.
“Secara fisik, memang tulang tungkai kaki anak dengan kasus stunting hanya tumbuh sekitar 30 centimeter, yang seharusnya 50 centimeter. Itu sebabnya anak stunting pasti pendek, tapi anak pendek belum tentu stunting, karena pertumbuhan tungkai kakinya tidak maksimal,” terangnya dalam seminar yang terselenggara dalam rangkaian ILDEX 2022 ini.
Baca Juga: EmTech Bahas Konsep Zero Point Six pada Hatchery di ILDEX Indonesia 2022
Lebih lanjut, menurutnya salah satu upaya mengatasi stunting dengan mencegah lahirnya bayi stunting baru. Caranya adalah menjaga kondisi kesehatan dan gizi ibu hamil, salah satunya dengan senantiasa mengonsumsi protein hewani.
“Protein asal hewan lebih mudah diserap, dan kandungan asam aminonya lebih lengkap. Ayam dan telur lebih murah dibandingkan dengan daging merah. Tapi kalau daging sapi, ayam, dan telur digabung lebih bagus lagi. Dalam literatur dijelaskan, dengan pemberian satu butir telur sehari pada bayi usia 6-9 bulan dapat mencegah stunting. Konsumsi telur dan daging ayam sangat bermanfaat bagi keluarga sehat, termasuk pada 1.000 hari pertama kehidupan karena itu merupakan masa-masa yang sangat krusial,” tegasnya.