Dalam menjalani kehidupan, ada kalanya dihadapkan pada pilihan yang bahkan sulit untuk menentukannya. Setiap individu yang tumbuh, baik secara fisik, mental dan kematangan berpikir, pasti semakin menuju ke arah yang semakin dewasa. Kedewasaan pasti akan memunculkan sebuah pemikiran dan keinginan bahwa ia akan melalui kehidupannya sesuai dengan apa yang ia inginkan. Namun di sisi lain, terkadang keinginan ini berbanding terbalik dengan apa yang dicita-citakan oleh orang tua.

Besar dalam keluarga berada tak lantas membuatnya tumbuh menjadi anak manja dan serba meminta. Justru kemandiriannya muncul sejak ia belia sampai dewasa, hingga akhirnya ia membuktikan bahwa dirinya bisa berjaya.

Keadaan ini dialami oleh seorang pria perperawakan kalem, dari Desa Urug Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, yaitu Ata Iskandar. Anak ketiga dari empat bersaudara ini tumbuh dengan pemikiran sangat matang dan penuh kemandirian. Ia yang hidup sebagai anak kepala desa kala itu memilih untuk tumbuh dengan caranya sendiri.
Hal itu Ata alami saat lulus Sekolah Menengah Pertama (SMP). Orang tuanya saat itu menginginkan Ata untuk melanjutkan ke Sekolah Menengah Atas (SMA), dengan harapan nanti juga akan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi seperti saudaranya yang lain. Namun kenyataannya tidak demikian. Ata tetep pada pendiriannya untuk melanjutkan ke Sekolah Teknik Menengah (STM) dengan harapan ingin cepat bekerja setelah lulus nanti.
Ata yang sempat mengalami perselisihan dengan orang tuanya, ternyata mampu membuktikan kalau ia juga bisa menjadi orang sukses. Semasa di STM, Ata sudah membuktikan kalau ia mampu belajar dengan baik dan tidak pernah bolos sekolah, meskipun ia harus menempuh jarak 65 kilometer setiap harinya untuk menuntut ilmu.  
Ata bercerita, sewaktu umur 6 tahun, laki-laki yang lahir di Kabupaten Bogor, 5 April 1987 ini sudah terbiasa menggembala kerbau dan kambing sejak SD. Selepas pulang sekolah, ia selalu mencari rumput untuk gembalaannya. Ketika menempuh pendidikan SMP pun, ia masih gigih mencari penghasilan sendiri dengan menjadi tukang ojek keliling kampung, yang berlanjut sampai STM. Ata kecil yang hidup menjadi anak orang terpandang kala itu tidak pernah merasa gengsi dan malu untuk melakukan apapun. Sifat kemandirian yang sudah muncul sejak kecil ini lah yang mengantarkannya menjadi wirausaha di bidang peternakan ayam seperti saat ini.
Berkecimpung di usaha peternakan
Ata mulai berbudi daya broiler dengan populasi awal sebanyak 3.000 ekor. Saat itu tepatnya selesai lulus STM pada tahun 2006. Modal awal usaha merupakan hasil jerih payahnya sendiri yang ia tabung sejak kecil. Awal mula beternak, ia bermitra dengan beberapa perusahaan. Hal tersebut dilakukan sampai awal tahun 2017. Sampai pada akhirnya pada bulan September 2017, ia beralih menjadi peternak mandiri dengan populasi sebanyak 32.000 ekor.
Pengalaman menekuni bisnis ayam yang lebih dari 10 tahun ini membuatnya banyak belajar. Ata yang pernah mempunyai kandang dengan sistem open house mengalami banyak perubahan ketika sudah beralih ke sistem kandang closed house. Menurutnya, dengan memakai sistem closed house, banyak perubahan yang ia rasakan, mulai dari pemeliharaan yang lebih efisien sampai dengan hasil produksi yang jauh berbeda, terlebih dengan harga yang tidak menentu seperti saat in,i sistem kandang closed house sangat lah membantu.
Baca Juga: Prof. Dr. Ir. Dwi Sunarti, MS, Terus Berkarya untuk Kemajuan Perunggasan Indonesia
Selain beternak, ternyata banyak juga usaha yang dilakukannya, mulai dari jasa angkut ekspedisi ternak yang ia mulai sejak tahun 2015, sewa alat berat seperti ekskavator dan bulldozer, sampai dengan membuka pangkalan LPG yang berada di tiap desa di kecamatan di mana ia tinggal. Dengan berbagai usahanya tersebut, lagi-lagi Ata mampu membuktikan kalau usaha itu tidak akan menghianati hasil. Menurutnya, jika tekun dan bersungguh-sungguh apa yang menjadi cita-cita akan bisa tercapai.
 Tak hanya sampai di situ, Ata yang kala itu masih berusia 25 tahun sudah dipercaya oleh warga sekitar untuk bisa menjadi pemimpin di desanya. Sejak tahun 2012 sampai tahun 2018, Ata menjabat sebagai Kepala Desa di Desa Urug, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Ata juga pada saat dinobatkan menjadi kepala desa termuda di Jawa Barat. Ketika menjabat, banyak perubahan positif yang ia tinggalkan seperti mengajak warganya yang belum mempunyai pekerjaan untuk bisa melakukan kegiatan yang bermanfaat seperti mulai belajar beternak.
Melihat industri perunggasan saat ini
 Sebagai peternak mandiri, Ata melihat industri perunggasan ini sedikit agak kurang sehat. Ia menggarisbawahi agar pemerintah harus sedikit lebih tegas untuk bisa mengontrol supply-demand ayam, terutama broiler. Pemerintah sebagai pemegang regulasi harusnya bisa merangkul semua pihak. Menurutnya, antara perusahaan dan peternak mandiri harus jelas pembagiannya supaya iklim bisnis lebih sehat. Ia menambahkan jika situasi ini dibiarkan akan membuat para peternak mandiri ini bisa tergerus dan akan habis sedikit demi sedikit.
Meskipun begitu, ke depannya ia tetap bisa optimis untuk terus bertahan dan terus berkembang. Ata berharap, untuk para peternak mandiri agar bisa mengikuti perkembangan zaman, seperti berpindah ke sistem kandang closed house, yang kemudian bisa membangun RPA dan cold storage. Menurutnya ini yang akan bisa menyelamatkan para peternak mandiri.
Saat ini Ata masih memiliki cita-cita untuk terus mengembangkan bisnis peternakannya di sisi hilir, seperti membuat pabrik food processing dan juga mempunyai rumah makan ayam, dan juga resto cepat saji. Ia juga berpesan untuk para generasi saat ini bahwa budi daya peternakan ini kalau ditekunii masih sangat menjanjikan dan prospeknya masih bagus ke depan.
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Desember 2020 dengan judul “Ata Iskandar, Kemandiriannya Tertanam Sejak Belia”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153