POULTRYINDONESIA, Surabaya — Merespon kendala distribusi jagung yang kerap terjadi, langkah terobosan dilakukan kelompok peternak ayam petelur di kawasan Blitar Raya yang tergabung dalam Rumah Kebersamaan BKT NT (Blitar, Kediri, Tulungagung, Malang, dan Trenggalek). Dimana Rumah kebersamaan BKT NT berhasil memobilisasi pengiriman jagung dari Nusa Tenggara Barat (NTB) ke Jawa Timur menggunakan kapal tongkang sebagai solusi atas masalah distribusi darat yang selalu muncul setiap panen raya jagung.
Untuk informasi, kerja sama bisnis antara Rumah Kebersamaan BKT NT dan petani jagung NTB sebenarnya sudah terjalin sejak 2024. Saat itu, atas perkenalan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), Rumah Kebersamaan BKT NT  mulai menyerap jagung dari daerah Bima, Dompu, dan Sumbawa. Hingga kini, hampir 7.000 ton jagung telah berhasil diserap untuk memenuhi kebutuhan pakan peternak layer (ayam petelur) anggota BKT NT.
Namun, setiap menjelang Idul Adha, pengiriman jagung lewat jalur darat selalu terhambat karena banyaknya truk dan tronton yang dialihkan untuk mengangkut sapi dari NTB ke Jawa. Akibatnya, jagung sulit dikirim dan biaya pengiriman melonjak hingga dua kali lipat dari tarif normal.
Menghadapi tantangan itu, Rumah Kebersamaan BKT NT, dengan dukungan Bapanas, Pelindo Sumbawa, dan pengurus kapal Pelra, memutuskan mencari alternatif jalur laut. Pada 18 Mei 2025, pengiriman jagung menggunakan kapal tongkang secara simbolis dilepas di Pelabuhan Bima, disaksikan Kepala Dinas Kelautan, Perikanan, dan Pertanian Kabupaten Bima. Kemudian, pada 24 Mei 2025, dilakukan simbolis penerimaan muatan di Pelabuhan Kalimas Perak, Surabaya.
Dalam keterangan tertulis pada Minggu (25/5/2025), Eti Marlina, Ketua Rumah Kebersamaan BKT NT, menyatakan bahwa strategi penggunaan kapal tongkang ini terbukti efektif. Dari sisi biaya, ongkos lebih murah dibanding jalur darat, sementara waktu tempuh kapal tongkang kayu berkapasitas 200–500 ton hanya memerlukan 3–4 hari.
“Dengan pola ini, kami berharap mampu memenuhi kebutuhan minimal 800 ton jagung per hari untuk seluruh anggota. Kami juga berharap pemerintah daerah NTB dapat mempermudah akses kapal tongkang kayu untuk bersandar di pelabuhan-pelabuhan seperti Sumbawa, Lombok, dan Bima. Dengan begitu, jalur laut bisa semakin rutin digunakan, menjaga kelancaran distribusi, sekaligus menekan harga agar tetap kompetitif dengan jagung lokal di Blitar Raya,” ujar Eti.
Sementara itu, Anang Pasi Triasmara, Ketua Koperasi PPN Cabang Blitar, mengapresiasi dukungan dari seluruh pihak yang memungkinkan realisasi pengiriman ini terjadi. “Kami berterima kasih karena tanpa bantuan pemerintah, ini tidak bisa dijalankan. Pemerintah daerah di Bima dan Jawa Timur, serta pemerintah pusat saling membantu. Ini merupakan pengiriman perdana setelah perjuangan kami selama tiga tahun,” ungkap Anang.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, Makmun yang turut hadir dalam acara simbolis penerimaan di Surabaya, menyebut inisiatif ini sebagai bentuk efisiensi konkret di tengah tingginya kebutuhan jagung sebagai pakan di sentra produsen telur nasional. “Alhamdulillah, teman-teman peternak di Blitar memulai pola distribusi baru. Biasanya memakai truk tronton, sekarang kapal laut. Ternyata jauh lebih murah,” ujarnya.
Menurut Makmun, produksi jagung NTB saat ini mencapai 1,2 juta ton, sementara Jawa Timur sebagai lumbung telur nasional terus mengalami peningkatan kebutuhan bahan baku pakan. “Petani jagung dan peternak ayam harus terus berkolaborasi. Jika distribusi via kapal ini berjalan lancar, ke depan diharapkan bisa hadir kapal logistik khusus jagung dan gabah, seperti halnya kapal ternak hasil kerja sama dengan Kementerian Perhubungan,” jelasnya.
Di kesempatan yang sama, Maino Dwi Hartono, Direktur Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan Bapanas, menyampaikan bahwa ketersediaan jagung nasional tahun ini diperkirakan mencukupi. Berdasarkan data BPS, produksi jagung nasional mencapai sekitar 16 juta ton. Dirinya berharap sepanjang kondisi normal, semoga stok aman hingga akhir tahun. Maino juga menyinggung bahwa Bapanas terus mendorong kolaborasi kementerian, TNI, dan seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung kemandirian pangan nasional.
“Alhamdulillah, mobilisasi jagung tahap pertama dari NTB berjalan lancar. Program baik seperti ini tentu ingin kita kembangkan tidak hanya untuk Jawa Timur, tetapi juga ke peternak unggas di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Lampung. Secara biaya, mobilisasi menggunakan kapal tongkang lebih ekonomis dibanding kendaraan darat, yakni sekitar Rp 650/kg, sementara kendaraan darat Rp 800–900/kg. Kapasitas kapal tongkang pun lebih besar. Ini menjadi win-win solution bagi peternak unggas,” tegas Maino