Meski tergolong low pathogenic, H9N2 telah beradaptasi dan kerap menyebabkan gangguan respirasi kronis.
Musim hujan selalu menjadi fase yang menantang bagi industri perunggasan nasional. Di satu sisi, suhu yang lebih sejuk kerap dianggap menguntungkan bagi performa ayam. Namun di sisi lain, peningkatan kelembapan, kualitas udara kandang yang menurun, serta dinamika manajemen yang tidak selalu ideal justru membuka celah bagi berbagai penyakit, terutama penyakit respirasi. Salah satu yang kini kembali menjadi sorotan adalah Avian Influenza (AI) subtype H9N2.
Untuk mendalami topik ini, Tim Poultry Indonesia mewawancarai drh. Akbar Ramandito, selaku Research Farm Supervisor PT CPI secara tertulis yang diterima pada Rabu, (28/1). Dalam kesempatan tersebut ia menyampaikan Avian Influenza merupakan penyakit infeksius pada unggas yang disebabkan oleh virus Influenza A dari famili Orthomyxoviridae. 
“Virus ini memiliki karakteristik utama berupa genom RNA bersegmen delapan, yang menjadikannya sangat dinamis secara genetik. Dengan genom bersegmen, virus AI memiliki kemampuan tinggi untuk bermutasi dan beradaptasi. Inilah yang membuat AI, termasuk H9N2, cukup sulit untuk dikendalikan,” jelas narasumber.
Berdasarkan klasifikasi patogenisitasnya, H9N2 masuk ke dalam kelompok Low Pathogenic Avian Influenza (LPAI). Namun, penyematan istilah “low pathogenic” kerap menimbulkan salah kaprah di lapangan. Banyak peternak menganggap virus ini tidak berbahaya karena jarang menimbulkan kematian tinggi. Padahal berdasarkan berbagai publikasi ilmiah dan pengalaman lapangan yang ia miliki, menunjukkan bahwa dampak ekonomi dari serangan H9N2 justru sangat terasa akibat penurunan performa produksi.
Kasus di lapangan, H9N2 telah menunjukkan adaptasi yang sangat baik pada unggas komersial, khususnya ayam broiler dan layer. Virus ini bereplikasi efisien di saluran pernapasan atas, menyebabkan kerusakan epitel respirasi dan menurunkan imunitas lokal. Saat imunitas sudah turun, jalan bagi infeksi patogen sekunder seolah terbuka lebar.
“Di lapangan, H9N2 hampir tidak pernah berdiri sendiri. Kasus yang kami temui biasanya berkombinasi dengan E. coli, Mycoplasma gallisepticum, dan Infectious Bronchitis (IB). Kombinasi infeksi ini cukup sulit dikendalikan jika penanganannya hanya bersifat parsial,” ungkap Akbar. 
Pada ayam broiler, infeksi berdampak pada terhambatnya pertumbuhan dan memburuknya konversi pakan (FCR). Sementara itu, pada ayam layer, H9N2 sering menyebabkan penurunan produksi telur secara bertahap, disertai penurunan kualitas kerabang serta meningkatnya jumlah telur abnormal. Mortalitas umumnya relatif rendah, namun dampaknya terhadap kerugian ekonomi jangka panjang cukup signifikan dan sering kali tidak langsung disadari oleh peternak.
Waspada di Musim Hujan
Peningkatan kasus Avian Influenza (AI) pada musim hujan bukanlah sebuah kebetulan. Secara ilmiah, virus memiliki stabilitas yang lebih baik pada suhu relatif rendah dengan tingkat kelembapan tinggi. Kondisi lingkungan khas musim hujan di Indonesia dengan curah hujan tinggi, sirkulasi udara terbatas, serta litter yang mudah basah menyediakan lingkungan ideal bagi kelangsungan hidup virus.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Kesehatan pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754  atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.