Infeksi Salmonella atau Salmonellosis merupakan penyakit menular yang termasuk food borne disease atau penyakit bawaan pangan asal hewan. Kejadian pada manusia seringkali diakibatkan oleh tertularnya produk asal unggas seperti telur dan daging yang terkontaminasi Salmonella.
Dalam menjaga keamanan pangan asal hewan khususnya pada unggas. HIPRA Indonesia meluncurkan produk terbarunya dalam pencegahan infeksi Salmonella melalui rangkaian kegiatan peluncuran dan seminar ‘Avisan® Secure Online Launching’ yang diselenggarakan secara daring melalui aplikasi Zoom, Rabu (8/9).
Drh. Olelia selaku Area manager HIPRA Indonesia menyebutkan bahwa properti imunologikal pada Avisan® Secure dapat menstimulasi imunitas aktif terhadap Salmonella Enteritidis dan Salmonella Typhimurium. “Avisan® Secure telah terbukti dapat mengurangi kolonisasi pada organ dalam seperti hati, saluran pencernaan, saluran telur dan indung telur, sehingga berefek pada berkurangnya kejadian transmisi vertikal dan ekskresi pada feses. Program vaksin yg ditunjang dengan higienitas dan biosekuriti yang baik turut berperan penting pada program kontrol insidensi infeksi salmonella baik pada layer maupun breeder,” ungkap Olelia.
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Ditjen PKH Kementan RI, drh. Syamsul Ma’arif., M.Si turut menyambut baik kegiatan peluncuran produk Avisan® Secure. “Kontribusi PT HIPRA Indonesia dalam pencegahan penyakit bawaan pangan asal hewan melalui produksi vaksin inaktif vaksin Salmonella Avisan® Secure,” ucap Syamsul. Masih menurut Syamsul, pemberian vaksin Salmonella pada ternak khususnya unggas memberikan dampak baik pada penurunan kasus Salmonella pada ternak akan mengurangi resiko kesehatan pada manusia. “Maka dari itu, upaya pencegahan dan pengendalian Salmonella dilakukan melalui manajemen peternakan unggas melalui program vaksinasi. Adanya produk Avisan® Secure yang dipasarkan oleh HIPRA Indonesia diharapkan dapat berkontribusi dalam memerangi resiko bahaya Salmonella di Indonesia khususnya pada produk pangan asal unggas,” tutup Syamsul.
Pengendalian Salmonella
Pada acara seminar tersebut, Dr. drh. Denny Widaya Lukman, MSi selaku Akademisi FKH IPB University memaparkan update mengenai Salmonella sebagai penyebab penyakit bawaan pangan di dunia. Ia mengatakan bahwa CDC Amerika Serikat melaporkan bahwa terjadi peningkatan kejadian Salmonella tifoid. “Di Amerika Serikat ditemukan lebih dari 63.000 orang per tahun yang terinfeksi Salmonella yang telah resisten terhadap antibiotik dan terinfeksi multi drugs resistance (MDR) Salmonella,” ungkapnya.
Salmonella terbagi menjadi dua yakni, Salmonella tifoid yang menyebabkan demam tifoid atau paratifoid yang disebabkan oleh S.typhi dan S.paratyphi dan Salmonella non-tifoid yang menyebabkan gastrienteritis atau non-typhoid salmonellosis serta foodborne disease atau bersifat zoonosis, yang disebabkan oleh Salmonella Typhimurium dan Salmonella Enteritidis.
Kasus Salmonella Enteritidis banyak ditemukan pada konsumsi telur di wilayah Amerika, Eropa dan Australia. Wabah ini terjadi dikarenakan konsumsi telur mentah dan tidak matang, yang terkontaminasi oleh Salmonella. Sebagai pencegahan dilakukan program vaksinasi dan penerapan sistem jaminan keamanan pangan sejak dari kandang, dan perlunya dilakukan penerapan praktik higiene dan sanitasi dengan Good Farming Practice dan adanya NKV. Selain itu, perlu dilakukan penerapan biosekuriti yang ketat di peternakan.
Turut memberikan informasi terkini di lapangan, dalam kesempatan yang sama Tony Unandar selaku Private Poultry Consultant di Indonesia pada materinya mengenai ‘Salmonella Impact in Poultry Production – Science and Practice Observations’ mengatakan bahwa adanya Salmonella dalam proses produksi perunggasan dapat terkontaminasi dari bahan baku, proses di feedmill, kemudian pakan yang terkontaminasi dari lingkungan eksternal seperti burung liar, rodents, manure, dan pengaruh internal ataupun eksternal lingkungan kandang lainnya. “Hal ini dapat terjadi di Breeder Flocks, maupun pada Broiler atau Layer Flocks yang kondisinya akan berulang dan menginfeksi keseluruhan flocks karena didukung oleh lingkungan yang sama,” tutur Tony.
Secara patogenesis, Salmonella dapat menginfeksi melalui tiga cara yakni masuk kedalam tubuh melalui oral intake, gut colonization dan penyebaran sistemik kedalam organ internal termasuk oviduct. Jika dibiarkan, akan mengakibatkan telur yang dihasilkan dari kegiatan budi daya layer dapat terkontaminasi Salmonella dan adanya infeksi ke dalam sistem internal organ dimana infeksi Salmonella telah menyebar dan berada di kloaka. Hal ini pun yang dapat mengakibatkan telur terkontaminasi oleh Salmonella.
Tony menambahkan, hal paling riskan dalam terjadinya kontaminasi Salmonella yaitu pada saat proses pembentukan telur pada saluran reproduksi. Jika Salmonella telah menyerang saluran oviduct, maka telur yang dihasilkan sudah bisa dipastikan telah terkontaminasi. “Keberadaan Salmonella dapat terkontaminasi dari faktor internal (tubuh ternak yang telah terkontaminasi) dan eksternal (kontaminasi dari lingkungan),” tambah Tony.
Masih menurut Tony, pada ayam muda Salmonella juga masih dapat ditemukan. “Terdapat beberapa tempat yang dapat terkontaminasi Salmonella yaitu pada box telur, tempat penyimpanan telur di breeder farm, lingkungan hatchery, dan alat transportasi (truk) saat DOC saat pengiriman ke farm,” lanjut Tony.
Inovasi vaksinasi
Menurut WHO, penyakit Salmonellosis pada manusia berkaitan dengan produk asal Unggas. Salmonella Enteritidis dan Salmonella Typhimurium merupakan dua jenis serotipe yang ditemukan pada manusia dan juga ditemukan pada unggas. Oleh karena itu, sangat relevan bagi industri unggas untuk berfokus dalam pengendalian Salmonella Enteritidis dan Salmonella Typhimurium. Salmonella merupakan patogen kompleks, sehingga membutuhkan vaksin yang kompleks sebagai perlindungan dan pengendalian pada unggas.
Santiago De Castro selaku Corporate Product Manager, HIPRA hadir dalam peluncuran produk Avisan® Secure di Indonesia. “Dalam pengendalian Salmonella, HIPRA melangkah maju dengan Avisan® Secure. HIPRA berkomitmen untuk mendukung pengendalian Salmonella dengan membawa perubahan yang aman dan efektif melalui Avisan® Secure Oil adjuvant – double emulsion (W/O/W technology) Montanide-888,” tutur Santiago.
Perbedaan utama Avisan® Secure adalah teknologi emulsi ganda yang unik dari Water in Oil in Water (W/O/W). Dimana pada tetesan vaksin terdapat lapisan ganda yang teremulsi secara sempurna. Pada fase pertama vaksin Avisan® Secure, terkandung air sebagai fase kontinu yang pertama kali akan dirasakan oleh otot unggas dalam proses pemberiannya. Melalui air ini, dapat menghilangkan reaksi setelah injeksi. Oleh sebab itu, respon imunologis akan aktif setelah vaksin disuntikan.
Selanjutnya, pada fase kedua terdapat kandungan minyak yang bertanggung jawab meningkatkan respon imun selular dan humoral. Pada fase ketiga, disusun kembali oleh kandungan air dan antigen. Dengan cara ini terdapat dua fase dari pelepasan antigen, yang dapat memodulasi dan meningkatkan durasi respon imun.
Avisan® Secure merupakan pilihan terbaik, dengan pengalamannya lebih dari 15 tahun dalam pengendalian Salmonella. Avisan® Secure mengandung Salmonella Enteritidis PT4 inactivated dan Salmonella Typhimurium DT104 inactivated. Pemberian di
tiap dosisnya dapat mengurangi ekskresi feses, kolonisasi organ, serta transmisi vertikal dari Salmonella Enteritidis dan Salmonella Typhimurium. Pemberian vaksin di tiap dosisnya juga tidak menimbulkan dampak pada performa unggas.
“Kami hadirkan program vaksinasi dari HIPRA untuk industri perunggasan Indonesia yang efektivitas dan keamanannya telah dikenal di seluruh dunia. Avisan® Secure merupakan produk unggulan HIPRA dalam menangani dan mengendalikan Salmonella,” tutup Santiago.
Pada sesi terakhir, Amke Wijatman selaku Business Manager HIPRA Indonesia secara resmi meluncurkan vaksin Avisan® Secure. “Kami berharap Avisan® Secure dapat menjadi bagian dalam pengendalian Salmonella pada industri perunggasan Indonesia,” harap Amke. Adv










