Oleh : drh. Amira Nadia Prastuti, M.Sc.*
Telur adalah salah satu hasil pangan asal hewan yang tidak bisa dilepaskan dari masyarakat di Taiwan. Selain rasanya yang enak dan bergizi tinggi, telur pun dapat dijadikan menjadi berbagai macam olahan makanan. Hampir setiap hari masyarakat Taiwan mengkonsumsi telur sebagai menu sarapan pagi. Kebiasaan ini sudah lama melekat erat di masyarakat Taiwan.
Sebagai bahan pokok yang digemari oleh masyarakat Taiwan, kelangkaan telur yang terjadi di awal tahun 2022 menjadi masalah serius yang harus segera dicarikan solusi. Berbagai langkah strategis telah diambil agar pasokan telur Taiwan segera stabil.
Berbagai olahan telur pun banyak dijumpai di tengah masyarakat Taiwan. Mulai dari telur 1000 tahun (Chinese : 皮蛋; pinyin: pídàn), telur yang direndam dalam teh (Chinese : 茶葉蛋; pinyin: cháyèdàn), omelet telur (Chinese : 蛋餅; pinyin: dàn bǐng ) hingga bermacam-macam jenis kue. Semua jenis makanan berbahan dasar telur ini, dapat ditemukan dengan mudah di restoran, supermarket, minimarket dan toko sarapan pagi terdekat.
Selain itu, telur juga banyak digunakan untuk campuran nasi goreng atau digoreng sebagai lauk, seperti telur mata sapi atau telur dadar yang banyak tersedia di warung makan Taiwan. Sebagai pelajar asing di Taiwan, penulis juga hampir selalu mengkonsumsi telur setiap harinya. Karena telur merupakan sumber protein hewani dengan gizi yang lengkap serta aman, halal, murah dan mudah didapatkan. Contohnya, telur yang direndam dalam teh (cháyèdàn) yang tersedia di minimarket Family Mart atau 7-eleven di sekitar kampus yang dijual dengan harga NT$10 per butir telur atau setara dengan Rp4.950 per butir.
Dampak kekurangan pasokan telur
Dengan tingginya konsumsi telur di Taiwan, tentu diperlukan juga pasokan telur yang mencukupi. Melansir laman www.poultryworld.net/, menyatakan bahwa permintaan telur per hari negara Taiwan sekitar 22 juta butir telur. Namun pada awal tahun 2022, pasokan telur per hari negara Taiwan hanya mencapai sekitar 18-20 juta butir telur. Sehingga negara Taiwan mengalami kekurangan pasokan telur hingga mencapai 2-4 juta butir telur per harinya.
Kurangnya pasokan telur di negara Taiwan tentunya dapat berimbas terhadap harga telur yang melambung tinggi hingga mencapai NT$70 per 600 gr. Padahal, berdasarkan Council of Agriculture (COA) Taiwan sejak 22 Desember 2021, harga telur telah dipatenkan pada harga NT$34, 5 per 600g. Hal ini bertujuan untuk menstabilkan harga komoditas telur.
Selain itu, dampak dari kurangnya pasokan tersebut membuat restoran, supermarket, minimarket dan toko sarapan pagi yang berjualan menu masakan berbahan dasar telur mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Banyak restoran dan toko sarapan pagi yang mengurangi dan bahkan meniadakan sementara menu makanan yang berbahan dasar telur. Selain itu, rak telur di supermarket dan minimarket pun sering kosong.
Lebih lanjut, beberapa supermarket dan minimarket bahkan membatasi pembelian jumlah telur maksimal yaitu 20 butir telur setiap orangnya. Masyarakat mengalami kesulitan untuk mendapatkan telur hingga harus mengantri 30 menit hingga 3 jam hanya untuk mendapatkan telur. Rak-rak telur pun selalu ludes terjual dalam waktu 3 jam. Selain itu, juga ditakutkan adanya “panic buying” oleh masyarakat yang justru menambah permasalahan kurangnya pasokan telur.
Faktor penyebab kurangnya pasokan telur
Beberapa hal disinyalir dapat menjadi faktor yang berpengaruh terhadap kekurangan pasokan telur di Taiwan. Suhu dingin yang melanda Taiwan di awal tahun, ketidakstabilan iklim serta adanya dampak dari virus flu burung (HPAI) menjadi faktor teknis pemeliharaan yang dapat berpengaruh terhadap performa produksi telur di Taiwan. Kemudian, kenaikan harga bahan pakan secara internasional dan kenaikan permintaan telur karena momentum hari raya Imlek juga menjadi faktor makro yang harus diperhatikan.
Terkait kenaikan harga bahan pakan, seperti yang diketahui, negara Rusia dan Ukraina merupakan salah satu produsen gandum terbesar di dunia. Negara Rusia dan Ukraina menyumbang sebanyak 30% dari total produksi gandum dunia. Gandum tersebut, selanjutnya akan digunakan sebagai bahan pakan utama pembuatan pakan ayam. Dikarenakan konflik yang terjadi saat ini, maka terjadi pengurangan produksi gandum dunia yang berefek kepada kenaikan harga bahan pakan ayam.
Disisi lain, harga pakan ayam yang terus mengalami kenaikan beberapa waktu terakhir, membuat para peternak ayam petelur di Taiwan mulai mengurangi produksi atau bahkan berhenti beternak. Hal ini disinyalir karena peternak tidak mampu bertahan karena kerugian yang didapatkan. Fenomena ini secara langsung menyebabkan kurangnya pasokan telur yang tidak dapat dihindari. Selain negara Taiwan, ada beberapa negara di dunia yang juga mengalami kenaikan harga telur, seperti Inggris dan Prancis.
Lebih lanjut, berdasarkan data dari COA Taiwan, peternakan ayam petelur di negara Taiwan mayoritas terkonsentrasi di bagian tengah dan selatan. Sedangkan untuk Taiwan bagian utara biasanya memenuhi kebutuhan pasokan telur melalui pengiriman dari bagian tengah dan selatan Taiwan. Namun, kini di daerah penghasil telur pun terjadi kekurangan pasokan telur, sehingga terjadi kenaikan harga yang lumayan tinggi.
Hal ini terjadi karena mayoritas telur dari daerah-daerah penghasil telur telah disalurkan ke daerah lain untuk membantu mengatasi kekurangan pasokan telur. Dengan adanya Tahun Baru Imlek yang jatuh pada tanggal 1 Februari 2022 dan libur panjang selama 9 hari, tentunya terjadi peningkatan permintaan telur di pasaran. Hal ini disebabkan karena libur Tahun Baru Imlek biasanya dimanfaatkan sebagai berkumpulnya para anggota keluarga di negara Taiwan.
Selain itu, pada saat libur Tahun Baru Imlek pengiriman telur ke supermarket, minimarket serta toko pun terhenti. Pengiriman yang terhenti tentunya akan menyebabkan kekosongan telur di supermarket besar seperti PXmart, A-mart dan Carrefour. *Master of Science in Veterinary Medicine, National Pingtung University of Science and Technology, Taiwan
Tulisan ini merupakan potongan dari artikel rubrik Internasional majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153
Menyukai ini:
Suka Memuat...