Ayam golden pheasant
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Selain ayam hias asli Indonesia, ternyata ada juga ayam hias dari mancanegara yang digemari oleh masyarakat Indonesia. Fajar Rohmad seorang penghobi ayam pheasant asal Sleman, Yogyakarata yang Poultry Indonesia hubungi melalui sambungan telepon, Kamis (14/1) ini misalnya, ia mulai beternak ayam pheasant yang berasal dari Negeri Tirai Bambu sekitar tahun 2010. Ia melihat keIstimewaan ayam yang satu ini adalah penampakan visualnya, dalam artian ayam ini enak untuk dilihat, bulunya menarik sangat berwarna-warni dan beragam, serta disetiap jenisnya memiliki bentuk yang berbeda-beda.
Menurut Fajar, ayam pheasant ini sangat berkembang. Ia dulu sempat kesulitan mencari anakan, sekarang anakan pheasant sudah banyak dijumpai. Semakin hari ia melihat jenis dari ayam ini semakin banyak dan harganya juga semakin mahal. Untuk peminat sendiri menurutnya seluruh daerah Jawa sudah merata, kemudian di Sumatra, Kalimantan, Makassar, hingga Papua. Namun untuk kontesnya memang sampai saat ini belum ada pihak yang pernah menyelenggarakan kontes untuk ayam pheasant.
Fajar sendiri sudah memiliki sekitar 200 ekor indukan dan anakan dengan berbagai jenis. Dari sekitar 9 jenis yang ia miliki, menurutnya yang paling digemari di Indonesia adalah jenis Golden, Yellow, dan Lady Amherst. Untuk harganya sendiri menurutnya bisa dilihat dari tingkat kelangkaan dan visualnya. Misalnya saja jenis Golden dan Yellow bisa dijual dengan harga Rp6,5 hingga 7 juta per ekor, ada juga jenis lainnya dijual dengan harga Rp10 hingga 35 juta per ekor.
Selain pheasant ada juga ayam hias asal luar negeri yang cukup digemari di Indonesia yaitu ayam ekor panjang atau yang juga disebut onagadori. Menurut Budi Prasetio, seorang penghobi ayam ekor panjang dari Cibinong yang Poultry Indonesia wawancarai di kediaman,nya, Jumat (8/1) mengatakan bahwa ayam dari Negari Sakura ini masuk Indonesia pada tahun 1998 di Surabaya dan di TMII (Taman Mini Indonesia Indah) Jakarta.
Baca Juga: Dwi Prasetyo Hobi Pelihara Ayam Bangkok
Menurut anggota Komunitas Ayam Ekor Panjang Nasional atau KAEPN yang sudah memelihara sekitar 5 tahunan ini, selain memang secara visual bagus yaitu ekor yang panjang, keunikan ayam ini jika dikawinkan dengan sesama ekor panjang pun belum tentu hasil anakannya juga ekornya panjang. Terlebih jika disilangkan dengan ayam jenis lain, 70% pasti ekornya pendek.
Masih menurut Budi, untuk manajemen pemeliharaan ayam yang satu ini yang paling utama harus ditangkringkan, bisa menggunakan tripot atau menggunakan kandang seperti almari supaya nanti kotorannya jatuh ke bawah agar tidak mengenai ekornya sehingga ekornya tidak kotor dan bulunya tidak rusak. Ketinggiannya bisa dibuat 1,5-2 meter di atas permukaan tanah.
Untuk harganya sendiri, pada umur 1-3 bulan bisa dihargai Rp300.000 sampai dengan Rp15 juta. Sementara untuk penghobinya masih seputaran Jawa. Namun pengalamannya, isa juga pernah mengirim sampai ke Kalimantan, Sumatra Barat, Palembang, serta Bali.
Mengenai perkembangan ayam ekor panjang, setelah diadakan Kontes yang cukup besar di Kediri, Jawa Timur, ayam ekor panjang ini pecintanya meningkat cukup banyak, karena semakin banyak yang mengenal dan digemari. Chusnul, Sandi, Zen, Yafi
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi Februari 2021 dengan judul “Lebih Dekat dengan Ayam Hias”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153