Oleh : Prof. Ir. Yuny Erwanto, S.Pt., M.P., Ph.D., IPM*
Lebih dari sekadar soal rasa, ayam kampung hari ini dihadapkan pada tumpang tindih pasar, fluktuasi harga, serta ketergantungan pada bibit impor, yang menuntut arah pengembangan lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Di tengah dominasi usaha peternakan ayam ras, ayam kampung kerap dipandang sebagai kuda hitam yang menyimpan peluang besar karena memiliki pangsa pasar tersendiri. Namun, realitas di lapangan tidak sesederhana itu. Dalam berbagai diskusi perunggasan, istilah “ayam kampung” hampir selalu mencuat dan sering memicu perdebatan panjang. Istilah ini terdengar sederhana dan akrab di telinga masyarakat, seolah mewakili satu jenis ayam. Padahal, di lapangan, realitas ayam kampung jauh lebih kompleks, mulai dari keragaman genetik, performa produksi, struktur biaya, hingga tumpang tindih pasar yang selalu terjadi.
Tumpang-tindih Pasar
Berdasarkan pengamatan penulis, ayam kampung di Indonesia setidaknya dapat dikelompokkan ke dalam empat kategori besar. Pertama adalah ayam kampung asli yang dibudidayakan masyarakat secara tradisional, dalam skala terbatas, dengan sistem pembibitan yang sangat sederhana. Dari sisi teknis, jenis ini memiliki performa paling rendah. Dengan pakan yang sama, nilai FCR ayam kampung asli berada di kisaran 3,3, bahkan dapat lebih tinggi. Umur pemeliharaannya pun relatif panjang, yakni sekitar 3,5–4 bulan untuk mencapai bobot konsumsi.
Dari aspek biaya, harga DOC ayam kampung asli tergolong mahal, rata-rata sekitar Rp10.000 per ekor. Kombinasi FCR yang tinggi, umur panen yang lama, serta bobot badan yang tidak seragam membuat ayam kampung asli kurang menarik secara ekonomi. Kondisi ini diperparah oleh perubahan pola hidup masyarakat. Dimana tidak semua orang kini nyaman dengan keberadaan ayam yang berkeliaran bebas di sekitar rumah, sehingga populasinya terus menyusut dan semakin sulit dijumpai.
Jenis kedua adalah ayam kampung hasil pengembangan atau ayam lokal unggul, seperti KUB, Sentul, Gunsi, dan galur lokal lain yang dikembangkan balai penelitian maupun perusahaan. Dari sisi teknis, jenis ini jauh lebih baik. Dimana FCR-nya berada di kisaran 2,7–2,8, bahkan pada manajemen yang baik bisa mendekati 2,5. Umur pemeliharaan relatif lebih singkat, sekitar 70–75 hari. Harga DOC berada di kisaran Rp8.800 per ekor. Secara produksi, ayam lokal unggul ini sebenarnya sangat layak. Namun tantangannya bukan teknis di kandang, melainkan di pasar. Dimana faktor daya beli dan pemahaman konsumen yang masih terbatas menjadi tantangan dalam pengembangannya.
Ketiga, ayam kampung super atau joper atau jowo super. Jenis ini merupakan hasil persilangan antara pejantan ayam bangkok dengan indukan ayam ras petelur. Joper sering menjadi pilihan rasional peternak karena performanya efisien. Dimana FCR joper berada di kisaran 2,2–2,5, dengan umur panen sekitar 60 hari. Harga DOC berkisar Rp5.500–6.000 per ekor. Dengan siklus pemeliharaan yang cepat dan risiko relatif terkendali, joper menjadi “jembatan” antara karakter ayam kampung dan efisiensi ayam ras.
Kemudian, jenis keempat dan justru yang paling menguasai pasar adalah ayam ras petelur jantan.
Inilah yang sering disebut sebagai ayam kampung “dalam tanda petik”. Dengan populasi ayam petelur nasional yang mencapai sekitar 300 juta ekor, jumlah ayam jantan hasil sampingannya pun sangat besar. Nilai FCR ayam ras petelur jantan mendekati joper, berada di kisaran 2,2–2,4, dengan umur pemeliharaan sekitar 60 hari. Namun yang paling menentukan adalah harga DOC-nya, yang sangat murah, hanya sekitar Rp1.500–2.500 per ekor bahkan hanya sepertiga atau seperempat dari harga DOC joper.
Di sinilah dilema pasar terjadi. Karena biaya produksinya paling rendah, ayam ras petelur jantan dapat dijual dengan harga jauh lebih murah. Pada saat yang sama, ayam kampung asli dan ayam lokal unggul semakin sulit bersaing ketika ditempatkan di pasar yang sama. Persoalannya, pasar ayam kampung di Indonesia bersifat saling beririsan (intercept).
Artikel ini telah terbit pada Majalah Poultry Indonesia edisi Januari 2026, Baca lebih lengkap klik disini.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia