Oleh : Rangga Zamahendra*
Solok adalah sebuah Kabupaten di Provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Kabupaten ini merupakan salah satu sentra produksi beras terbesar di Sumatra Barat. Lebih lanjut, selain menjadi sentra produksi beras, Solok mempunyai plasma nutfah unggas yang khas yaitu ayam kukuak balenggek. Ayam kukuak balenggek adalah ayam lokal Kabupaten Solok yang berasal dari Kecamatan Payung Sekaki dan Kecamatan Tigo Lurah. Nama ayam ini mungkin masih sangat asing di telinga sebagian penggemar ayam hias. Pasalnya, tak dipungkiri bahwa popularitas ayam kukuak balenggek masih berada di bawah ayam hias lain seperti ayam pelung, ayam ketawa dan lainnya.
Ayam kukuak balenggek sebagai ayam hias dari Ranah Minang nampaknya harus dipopulerkan kembali. Pasalnya, dengan berbagai keunikan yang dimiliki, eksistensi dari ayam ini sudah tidak begitu terdengar lagi.
Minimnya informasi dan publikasi mengenai ayam kukuak balenggek, nyaris membuat ayam tersebut tidak pernah terdengar sama sekali keberadaanya. Bahkan, ayam kukuak balenggek masih asing terdengar di ajang kontes ayam hias nasional. Dimana, seharusnya kontes ayam hias dapat dijadikan panggung untuk memperkenalkan ayam kukuak balenggek. Padahal ayam kukuak balenggek ini juga tidak kalah unik dan menarik jika dibandingkan dengan beberapa jenis ayam hias lainnya.
Balenggek atau “baindiak” adalah bahasa Minangkabau yang dalam bahasa Indonesia berarti irama yang bertingkat atau bersusun. Hal ini karena kokok ayam jantan kukuak balenggek memiliki irama yang bertingkat mulai dari 3 lenggek hingga 12 lenggek. Bahkan ada yang mampu berkokok hingga 19 lenggek. Pada ayam kukuak balenggek suara atau kokoknya terbagi atas tiga bagian, yaitu bagian depan, tengah dan akhir atau lenggek kokok. Dibandingkan dengan ayam jago biasa yang hanya memiliki kokok yang terdiri atas 4 suku kata dan suku kata yang terakhir lebih panjang dari tiga suku kata sebelumnya. Tetapi, pada ayam balenggek, kokoknya terdiri atas 6–15 suku kata, tergantung dari faktor genetis dan nutrisi yang diserapnya.
Dilansir dari laman www.sumbarprov.go.id, sejak tahun 1981, ayam kukuak balenggek sudah populer bahkan hingga mancanegara. Hal tersebut dapat terjadi karena kisahnya seorang Insinyur dari Belanda membawa sepasang ayam ini ke negara asalnya karena terkesan dengan suaranya yang berirama merdu. Beberapa tahun kemudian, terdapat seorang pejabat yang memberikan cinderamata kepada pangeran Askishinonomiya Fumihito dari Jepang berupa ayam kukuak balenggek karena dia sangat terkesan dengan keunikan ayam kukuak balenggek. Oleh karena itu, Pangeran Akishino pada tahun 1994 dari Jepang datang langsung berkunjung ke Sumatra Barat untuk mendengarkan kemerduan suara kokok dan menyaksikan dari dekat keberadaan ayam kukuak balenggek.
Ayam kukuak balenggek merupakan plasma nutfah kebanggaan Ranah Minang yang perlu dilestarikan dan dikembangkan. Pemerintah Kabupaten Solok sangat antusias dan senang menjadikan salah satu unggas yang langka ini sebagai maskot fauna di daerahnya. Ayam Kukuak balenggek resmi dijadikan sebagai fauna maskot Kabupaten Solok pada tahun 1996.
Berdasarkan hasil riset Firda Harlina (2019), populasi ayam ini terus menurun sehingga perlu upaya dari pemerintah setempat dan dukungan semua pihak untuk mempertahankan kemurnian genetiknya. Ayam kukuak balenggek perlu dilestarikan karena merupakan kekayaan sumber daya genetik ternak Indonesia atau plasma nutfah yang langka. Pemerintah daerah mempunyai kewajiban untuk melestarikan dan melindungi jenis ini. Tentu hal ini juga harus didukung oleh semua pemangku kepentingan, baik akademisi, praktisi, swasta hingga masyarakat Sumatra Barat. Terlebih ayam kukuak balenggek merupakan maskot Kabupaten Solok yang patungnya ada di taman kota depan Kantor Bupati.
Disisi lain, penulis melihat bahwa selama ini minat masyarakat untuk memelihara jenis ayam ini semakin menurun. Bahkan ayam jenis ini telah banyak dibawa keluar daerah sehingga populasinya terus berkurang. Kontes ayam kukuak balenggek secara berkala harus diadakan kembali untuk menggugah masyarakat dan pemerintah daerah Sumatera Barat untuk melestarikan sumber daya genetik ayam kukuak balenggek sebagai ternak unggulan Ranah Minang yang bernilai ekonomis tinggi. *Mahasiswa Jurusan Antropologi Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Andalas
Menyukai ini:
Suka Memuat...