POULTRYINDONESIA, Malang−Pengurus Besar (PB) Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan Indonesia (Ismapeti) dan Universitas Brawijaya (UB) menyelenggarakan webinar nasional dengan tema “Pelatihan Online Selfmixer Pakan Unggas Menggunakan Bahan Pakan Lokal”, Sabtu, (20/11). Kegiatan tersebut dilaksanakan melalui virtual zoom meeting dan dihadiri sekitar 65 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Tujuan dari webinar tersebut untuk mengetahui alternatif bahan pakan lokal dan melakukan formulasi secara mandiri menggunakan bahan pakan lokal untuk pakan unggas.
Baca juga : Memanfaatkan Maggot Untuk Pakan Ayam Kampung
Materi pertama disampaikan oleh Dr. Ir. Osfar Sjofjan. M,Sc., IPU,. ASEAN ENG mengenai pemilihan bahan pakan lokal sebagai pakan unggas. Menurutnya, sebelum memilih perlu ditentukan faktor yang mempengaruhi pemilihan bahan pakan lokal yang meliputi bahan pakan digunakan sebagai sumber apa, potensi dan ketersediaan bahan pakan lokal, kontinuitas, asal bahan pakan, pembatasan/kandungan anti nutrisi bahan pakan, palatabilitas, aksesibilitas bahan pakan, dan harga bahan pakan.
“Di Indonesia sudah banyak bermunculan bahan pakan alternatif seperti maggot, cacing sutera, azolla, dan sebagainya. Kualitasnya pun sudah bagus, hanya saja kuantitas atau ketersediaannya masih terbatas sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan sebagai bahan pakan,” ujar Osfar.
Ia juga menambahkan bahwa, Pemanfaatan bahan pakan lokal pada ternak ruminansia sudah cukup efektif, persentasenya mencapai 50-100%. Hal tersebut dikarenakan pada ternak ruminansia, bahan pakan lokal seperti limbah pertanian maupun limbah industri dapat langsung diberikan kepada ternak. Sedangkan, pada ternak non ruminansia seperti unggas, bahan pakan alternatif perlu diolah kembali. Persentase penggunaannya hanya 5-30% saja.
Penggunaan bahan pakan lokal sebagai pakan alternatif ternak unggas belum optimal.
Adapun tujuan pengolahan bahan pakan lokal sebagai pakan unggas yaitu meningkatkan palatabilitas, mengubah ukuran dan bentuk, meningkatkan nilai nutrisi, mengurangi racun dan kontaminan, mengisolasi zat nutrisi dalam bahan pakan, meningkatkan kecernaan nutrisi, meningkatkan daya simpan, membentuk bahan pakan baru, dan meningkatkan optikal density pada pakan.
Kemudian, materi kedua disampaikan oleh Prof. Dr. Ir. M, Halim Natsir, S, Pt., IPM., ASEAN ENG mengenai pencampuran pakan unggas secara sederhana. Menurutnya, pencampuran atau formulasi pakan dinilai sangat penting karena dapat meningkatkan efisiensi produksi, peternak lebih mandiri, dan meminimalisir biaya pakan yang berlebih.
Ia juga menambahkan bahwa dalam menyusun formulasi pakan yang perlu diperhatikan yaitu jenis ternak, spesies, fase, dan tujuan. Lalu bahan baku, kontrol kualitas (QC), dan jaminan mutu (QA), analisis laboratorium, kandungan nutrisi, tren bahan baku. Kemudian Lingkungan, kondisi, politik, manajemen, dan pemasaran.
“Sebelum melakukan formulasi, kita harus memiliki banyak pengetahuan dahulu mengenai pakan dan karakteristik ternak. Jangan asal-asalan yang nantinya menyebabkan kerugian,” ujar Halim.
Setelah pemaparan materi, sesi berikutnya dilanjut dengan sesi diskusi. Pertanyaan diajukan oleh peserta dan kemudian dijawab oleh pemateri. Acara tersebut diakhiri dengan pembacaan kesimpulan oleh moderator, penyerahan sertifikat kepada narasumber, dan sesi foto bersama.
“Untuk kegiatan webinar pada pagi hari ini, dapat disimpulkan bahwa penggunaan bahan pakan lokal sebagai pakan unggas alternatif masih sangat potensial tinggal bagaimana kita memaksimalkan sumber daya yang ada. Perlu adanya kerja sama di berbagai pihak baik penyedia bahan pakan lokal, industri pakan, maupun peternak untuk mencapai harga pakan yang terjangkau,” simpul Assifa selaku moderator sekaligus menutup acara webinar pada pukul 11.45 WIB.