Kompos dari limbah peternakan (sumber: extension.oregonstate.edu)
Oleh: Elinda Luxitawati*
Pengolahan limbah peternakan di Korea Selatan sudah teratur secara sistematis, bahkan para akademisi masih terus melakukan eksplorasi penelitian untuk menyempurnakannya. Masih ada kesempatan bagi Indonesia untuk terus belajar dari berbagai perkembangan positif negara-negara maju. Bicara masalah pengomposan di berbagai negara maju, terdapat 5 jenis metode pengomposan yang umum dikembangkan yaitu di antaranya bin composting, passive windrows, turned windrows, in vessel composting, dan aerated static piles (ASP).
Bin composting adalah sebuah metode pengomposan yang diterapkan untuk penanganan bangkai unggas, pengomposan kotoran ternak dalam jumlah yang sedikit dan umumnya digunakan untuk pengomposan sampah halaman berupa rumput, dedaunan, ataupun ranting. Metode ini dilakukan dengan sistem penyusunan petakan seri. Seluruh bahan kompos harus disusun secara berlapis hingga mencapai volume penuh. Ragam petakan didesain dengan bilah kayu, kombinasi bilah kayu dan kawat tenun, serta blok semen.
Passive windrows composting adalah pengomposan tanpa kontrol pengadukan yang dilakukan dengan menumpuk material kompos secara berbaris memanjang (windrow). Periode pengomposan berlangsung sekitar 6 sampai dengan 24 bulan. Metode ini membutuhkan porositas yang memadai, ukuran partikel yang seragam, dan pencampuran material yang benar-benar merata untuk meningkatkan kecepatan periode pengomposan. Desain windrow dalam ukuran kecil dapat mencapai lebar 3 meter (10 kaki) dan tinggi 1.5 meter (5 kaki), sedangkan ukuran besar dapat mencapai lebar 7 meter (24 kaki) dan tinggi 4 meter (12 kaki).
Baca Juga: Limbah Kubis untuk Probiotik Unggas
Metode pengomposan in vessel  adalah metode pengomposan pada drum, silo, dan juga saluran memanjang (channels). Pengomposan ini menerapkan sistem aerasi terkontrol berlaju tinggi, diperuntukkan pada skala besar (komersial) yang mampu mengoperasikan ratusan ton limbah peternakan per hari. Berbagai keuntungan dari pemilihan metode ini adalah tidak membutuhkan lahan yang luas, dan dapat melahirkan efisiensi periode pengomposan melalui tahapan mesophilic/thermophilic yang singkat. Selain itu, kontrol bau, kualitas produk yang lebih konsisten, tidak membutuhkan banyak pekerja dan kemudahan dalam kontrol penanganan adalah beberapa alasan yang wajib dipertimbangkan dalam memilih metode pengomposan ini. Di lain sisi, pengomposan in vessel membutuhkan biaya operasional yang tidak sedikit mengingat diperlukannya peralatan terkomputerisasi dan tenaga kerja yang terampil.
Terakhir yakni Aerated static pile (ASP) composting yang merupakan metode pengomposan dengan pemasangan selang aerator pada tumpukan material kompos yang kemudian dihubungkan dengan pengaturan timer untuk kontrol aerasi. Pengaturan waktu, durasi, dan keseragaman pergerakan udara adalah penting dalam pembuatan desain pengomposan ASP. Dari 4 metode pengomposan lainnya, metode ini adalah metode yang paling efisien, sebab hanya menerapkan teknologi sederhana serta tidak membutuhkan banyak pekerja dan biaya. *Mahasiswa pascasarjana, Kangwon National University, Korea Selatan
Artikel ini adalah kutipan dari artikel lengkap yang telah dimuat di Majalah Poultry Indonesia Edisi September 2020 dengan judul “Teknologi Pengomposan Limbah Peternakan Unggas di Korea Selatan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153