Oleh: Dr. Ir. Sutawi, M.P.
Pembaca setia Poultry Indonesia (PI) tentu akrab dengan “data”, karena semua artikel yang dimuat PI pasti memuat “data”. Menurut KBBI, “data” berarti: (1) keterangan yang benar dan nyata; (2) keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian. Menurut UU No. 16/1997 tentang Statistik, data adalah informasi yang berupa angka tentang karakteristik (ciri-ciri khusus) suatu populasi. Data dapat berupa fakta (kualitatif) atau angka (kuantitatif). Data merupakan bahan mentah sebuah informasi. Data baik menghasilkan informasi baik, data buruk menghasilkan informasi buruk. “Gold in gold out, garbage in garbage out”, masuk emas keluar emas, masuk sampah keluar sampah.
BPS berslogan “Data Mencerdaskan Bangsa”. Slogan ini menunjukkan harapan agar data BPS berguna bagi nusa dan bangsa. Bagi pemerintah, data digunakan untuk perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, dan evaluasi penyelenggaraan berbagai program pembangunan nasional. Bagi BMKG, data digunakan untuk prakiraan cuaca atau mitigasi bencana. Bagi rumah sakit, data digunakan untuk menentukan tindakan operasi atau pengobatan pasien. Bagi perusahaan, data digunakan untuk merumuskan strategi produksi atau pemasaran produk.
Data valid dan kira-kira
Masalah pokok data adalah validitas (sahih, benar, lengkap, akurat, dan mutakhir) dan reliabilitas (andal, dapat dipercaya). Bagi peneliti di laboratorium, memperoleh data valid dan reliabel barangkali tidak sulit, karena bisa dilihat di peralatan yang digunakan. Jika diperoleh data tidak valid dan reliabel, berarti metode penelitian tidak tepat atau peralatan bermasalah. Bagi peneliti lapangan yang berkaitan dengan bidang sosial ekonomi peternakan, memperoleh data yang valid dan reliabel adalah sebuah perjuangan. Responden penelitian lapangan umumnya tidak memiliki catatan tertulis yang valid dan reliabel, sehingga data yang diperoleh adalah data “kira-kira”.
Baca Juga: Era Data di Industri Perunggasan
Penulis beberapa kali bekerja mengumpulkan atau membahas data lapangan. Pertama, ketika berkuliah semester tiga tahun 1985 ada praktikum Ekonomi Pembangunan Peternakan. Mahasiswa ditugasi melaporkan potensi peternakan sebuah desa. Kedua, ketika menulis skripsi berjudul “Analisis Usaha Peternakan  Ayam-Mina” tahun 1988, dan ketiga, ketika menulis tesis berjudul “Permintaan Bibit dan Pakan Ayam Pedaging” tahun 1995. Pada kegiatan-kegiataan tersebut, penulis mewawancarai peternak-peternak untuk memperoleh data-data tentang sarana produksi, produksi, pemasaran, dan analisis usaha peternakannya. Semua peternak responden tidak mempunyai catatan tertulis yang valid dan reliabel, sehingga penulis menggunakan senjata pamungkas berupa pertanyaan “…kinten-kinten pinten Pak/Bu…?” (…kira-kira berapa Pak/Bu…?). Keempat, ketika menulis disertasi tentang “Daya Saing Agribisnis Ayam Pedaging” tahun 2011. Pada kegiatan ini, penulis memperoleh setumpuk data valid dan reliabel berupa print out catatan lengkap hasil usaha ratusan peternak kemitraan ayam pedaging dari perusahaan.
Kelima, tahun 1997 penulis mendapat pekerjaan sensus sapi di Kabupaten Malang. Dananya Rp5 juta dengan cakupan wilayah 15 desa di lima kecamatan dan harus selesai dalam waktu sebulan. Kabupaten Malang terdiri 33 kecamatan dengan luas wilayah 2.977,05 km2, atau 4,5 kali luas daratan Provinsi DKI Jakarta 661,52 km2. Kabupaten Malang bagian selatan wilayahnya berbukit-bukit, berhutan-hutan, penduduknya jarang, jalan antarkecamatan dan antardesa masih banyak jalan berbatu bahkan jalan tanah. Penulis merasa ini pekerjaan “tidak masuk akal”, artinya berat pekerjaan tidak sebanding dengan ketersediaan dana. Sebelum penulis menolak pekerjaan itu, Kepada Dinas Peternakan mengatakan, “Memang pekerjaan ini berat Pak, tapi sudah dianggarkan dan harus dilaksanakan. Tidak boleh dikerjakan sendiri oleh dinas, harus pihak lain. Terserah bagaimana Bapak mengerjakan, yang penting datanya meningkat.” Akhirnya, pekerjaan itu penulis selesaikan dengan mengerahkan mahasiswa dengan metode seperti “quick count” yang dipakai pemilu sekarang.
Keenam, tahun 2014 penulis mengantar Tim Unpad survei pemotongan sapi potong di Jawa Timur. Tim menemui seorang staf ahli bupati yang pernah menjabat Kepala Dinas Peternakan Kabupaten di wilayah barat Provinsi Jawa Timur. Mantan Kadisnak itu menjelaskan bahwa data populasi sapi itu tidak valid dan reliabel. Data populasi sapi wajib naik setiap tahun, karena di Jawa Timur ada Program Intan Sejati (Inseminasi Buatan Sejuta Ekor Sapi). Indikator keberhasilan program tersebut adalah kenaikan populasi sapi. Nah, kalau data populasi sapi di suatu kabupaten menurun, maka kadis akan dimarahi bupati, dan bupati akan dimarahi gubernur.
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi September 2020 ini dilanjutkan pada judul “Data Konsumsi Daging Terkini”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153