POULTRYINDONESIA, Surabaya – Northern Soy Marketing (NSM) bekerja sama dengan U.S. Soybean Export Council (USSEC) mengadakan seminar bertema “Understanding U.S. Soy Quality” di Hotel The Westin Surabaya, Kamis (20/2).
Chair of NSM, Glen Groth mengungkapkan bahwa NSM merupakan gabungan petani kedelai dari tiga wilayah di barat tengah atas Amerika Serikat (AS), yaitu Dakota Selatan, Minnesota, dan Wisconsin. “Kami sudah memasarkan produk kedelai kami secara global, termasuk ke Indonesia, yang kami anggap sebagai pasar yang sangat strategis,” ujar Glen.
Baca juga : Operasi Pangan Pasar Murah: Upaya Pemerintah Menjaga Stabilitas Harga Pangan Menjelang Ramadhan
Ia menambahkan, pihaknya ingin lebih memahami kebutuhan konsumen di Indonesia, meskipun mereka sudah berusaha memproduksi kedelai dengan kualitas terbaik untuk memenuhi pasar. “Kami ingin memastikan bahwa produk kami selalu memenuhi harapan konsumen di Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Ibnu Edy Wiyono, Country Director USSEC, menjelaskan bahwa 98% petani di AS adalah petani keluarga (family farm), yang bertanggung jawab untuk mewariskan pertanian yang lebih baik di masa depan. “Mereka berinvestasi dalam konservasi tanah untuk memastikan pertanian tetap berkelanjutan,” jelas Ibnu.
Ia juga menyoroti bahwa di AS tidak ada ruang untuk memperluas lahan pertanian, berbeda dengan Brazil yang masih memiliki potensi ekspansi. “Oleh karena itu, kami berusaha untuk meminimalkan jejak karbon dari pertanian, dengan menggunakan metode global seperti life cycle analysis,” tambahnya.
Menurutnya metode life cycle analysis ini digunakan untuk menghitung dampak ekonomi sepanjang rantai pasok, dari hulu hingga hilir. Ibnu menjelaskan, Sebagai contoh, dalam industri perunggasan, jejak karbon dihitung mulai dari penggunaan bahan baku pakan, seperti bungkil kedelai, hingga dari sisi produksi kedelai itu sendiri.
“Hasilnya, kedelai dari AS memiliki jejak karbon yang paling rendah. Dan ini merupakan keuntungan besar bagi kami,” tegasnya.
Masih dalam acara yang sama, Dr. Robert Swick, selaku Profesor of Poultry Hub Australia, menyatakan bahwa industri perunggasan membutuhkan energi dan asam amino yang mudah dicerna, bukan hanya protein kasar.
“Soybean Meal (SBM) yang dipasarkan seringkali didasarkan pada kadar protein kasar dan serat kasar, padahal kualitasnya lebih bergantung pada SID lysine dan AME,” jelas Swick.
Ia juga menyoroti bahwa penelitian pada tahun 2024 menunjukkan SBM produksi AS memiliki kandungan protein yang lebih rendah dibandingkan SBM dari Brazil. Namun, ia menambahkan, SBM produksi AS memiliki kandungan SID lysine dan AME yang lebih tinggi.
“Meskipun kandungan protein kasar SBM AS lebih rendah, namun kandungan SID lysine dan AME-nya lebih tinggi, yang jauh lebih penting bagi ternak. Dimana oercobaan menggunakan model EFG pada ayam broiler menunjukkan bahwa secara ekonomi, performa ayam broiler yang diberi SBM AS jauh lebih baik dibandingkan dengan SBM dari Argentina maupun Brazil,” pungkasnya.