Sekumpulan broiler pada fase pemeliharaan
Oleh: drh. Seftian Syahri Putra*
Pencegahan merupakan tindakan yang paling utama dibandingkan pengobatan. Oleh karena itu, tindakan pencegahan semaksimal mungkin untuk dapat menghindari kerugian akibat penurunan produksi atau adanya peningkatan biaya pengobatan. Pencegahan dapat dilakukan secara sistematis dari dalam tubuh maupun di luar tubuh ayam. Beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah kasus koksidiosis yakni pemberian koksidiostat, vaksinasi, memperbaiki manajemen kandang dan pemeliharan, pemanfaatan probiotik dan prebiotik, serta pemanfaatan bahan herbal.
Pemberian koksidiostat
Koksidiostat banyak digunakan dengan resep dari dokter hewan untuk menekan pertumbuhan dan perkembangan Eimeria sp. Sediaan ini ada beberapa jenis, antara lain golongan ionofor (monensin, narasin, maduramisin, salinomisin, dan lain-lain) dan non-ionofor (amprolium, diclazuril, dan toltrazuril). Namun, pemberian koksidiostat yang tidak sesuai anjuran (tidak tepat dosis, pencampuran kurang homogen) dan terus menerus dapat menyebabkan resistensi sehingga penggunaanya harus bergantian.
Vaksinasi
Saat ini sudah sangat banyak teknologi vaksin yang berkembang untuk mengatasi koksidiosis. Vaksin koksidiosis yang ada dan beredar di pasaran terdiri atas vaksin aktif (live) dan rekombinan yang dapat diberikan dengan berbagai macam cara, mulai dari spray, melalui air minum atau pakan, hingga dengan menggunakan gel yang dapat dimakan. Tujuan vaksinasi adalah untuk mengurangi tanda-tanda klinis, kerusakan usus, dan mencegah produksi ookista oleh Eimeria sp. Menurut Lie et al. (2006), program vaksinasi yang dilakukan dengan baik dan benar dapat menurukan kejadian koksidiosis pada ayam sebesar 60%. Perlu diperhatikan pula bahwa pemberian koksidiostat juga harus dihindari jika ayam sudah divaksin. Hal ini ditujukan untuk mencegah tidak efektifnya vaksinasi karena kandungan vaksin menjadi rusak atau Eimeria sp dalam vaksin justru mati.
Memperbaiki manajemen persiapan kandang dan selama pemeliharaan
Kondisi kandang juga perlu diperhatikan, seperti suhu, kelembapan, sirkulasi udara, dan kepadatan kandang. Suhu yang terlalu tingi akan membuat ayam stres sehingga mudah terinfeksi atau menunjukkan gejala koksidiosis kembali, sedangkan jika suhu yang telalu rendah dapat menyebabkan kelembapan yang semakin tinggi sehingga dapat pula menyebabkan ayam stres dan ookista di lingkungan semakin dapat bertahan lama.
Kondisi stres dapat disebabkan pula oleh kepadatan yang terlalu tinggi. Selain itu, akibat kepadatan yang terlalu tinggi akan mempercepat penularan infeksi dari ayam sakit ke ayam sehat. Ookista yang keluar dari feses akan menumpuk di dalam litter atau sekam sehingga perlu diperhatikan manajemen pembersihan feses ayam. Jika jumlah litter yang bercampur dengan feses menggumpal sedikit, maka litter masih dapat dipilah dan dikeluarkan dari kandang, namun jika sudah terlalu banyak, litter tersebut dapat ditumpuk dengan litter yang baru.
Baca Juga: Potret Kejadian Penyakit Tahun 2019
Eimeria sp diketahui sangat resisten dengan berbagai desinfektan, hal ini karena Eimeria sp. memiliki bentuk yang lebih kompleks dibandingkan virus dan bakteri, sehingga diperlukan sediaan khusus untuk memberantasnya. Pada prinsipnya ookista tidak tahan terhadap suhu ekstrim panas >55 0C sehingga dapat dilakukan pemberian kapur yang merupakan bahan aktif yang bersifat basa. Saat bahan tersebut tercampur atau larut dalam air atau media yang basah seperti litter atau feses, maka akan dihasilkan panas yang tinggi sehingga efektif untuk memberantas ookista. Pemberian kapur ini biasanya dilakukan secara maksimal pada masa persiapan kandang.
Masa istirahat kandang menjadi salah satu hal yang juga perlu diperhatikan, karena pada saat itulah proses pembersihan secara total dapat dilakukan untuk mengeliminasi agen penyebab penyakit yang mungkin dapat menjadi faktor predisposisi penyakit yang mungkin akan muncul, masa istirahat kandang minimal dilakukan selama 14 hari atau bisa lebih untuk memutus rantai atau siklus hidup bibit penyakit, termasuk Eimeria sp.
Pemanfaatan probiotik dan prebiotik
Probiotik merupakan mikroorganisme atau bakteri hidup dalam jumlah tertentu yang diberikan untuk meningkatkan fungsi saluran cerna. Melalui pemberian probiotik diharapkan dapat meningkatkan imunitas tubuh dan barrier atau pelindung mukosa saluran cerna dan menghambat pertumbuhan bakteri jahat (patogen). Sebagai langkah untuk mendukung pemberian probiotik, prebiotik dapat pula diberikan. Prebiotik adalah senyawa sebagai zat makanan bakteri probiotik sehingga diharapkan interaksi keduanya akan lebih optimal untuk meningkatkan kesehatan saluran cerna. Pemanfaatan prebiotik sudah cukup banyak dilakukan untuk mencegah infeksi Eimeria sp dengan cara melindungi mukosa usus dan meningkatkan imunitas tubuh.
Pemanfaatan bahan herbal
Semenjak dilarangnya penggunaan antibiotic growth promoter (AGP) pada awal 2018, sangat banyak peneliti baik kalangan akademisi maupun swasta yang mencari alternatif obat untuk mengatasi koksidiosis dengan bahan herbal. Saat ini, sudah berbagai macam pula produk herbal yang sudah diproduksi untuk mengatasi penyakit ini. Peternak juga secara mandiri dapat memanfaatkan bahan- bahan herbal untuk diramu sehingga menjadi obat alternatif, misalnya penggunaan campuran bahan sambiloto, madu, jahe, dan temulawak menjadi jamu. Penggunaan bahan-bahan herbal tersebut terbukti efektif untuk mengatasi penyakit koksidiosis (dengan aturan atau dosis tertentu).
Pengobatan
Ayam yang sudah terinfeksi Eimeria sp dapat diberikan terapi menggunakan antikoksidia. Ada beberapa golongan antikoksidia yang dapat digunakan untuk mengatasi koksidiosis yaitu golongan sulfonamide, thiamine antagonist, dan toltrazuril. Prinsip obat golongan sulfonamide yaitu bekerja dengan cara memutus siklus hidup Eimeria sp pada fase aseksual. Sistem pemberian obat golongan ini yaitu 3-2-3 yang artinya 3 hari diberikan, 2 hari berhenti, 3 hari diberikan lagi. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian obat golongan ini yaitu hindari pemakaian ketika ayam mengalami gangguan ginjal karena dapat memperberat kerja ginjal.
Obat golongan kedua yaitu thiamine antagonist. Prinsip kerja obat ini sama dengan sulfonamide yaitu mengganggu siklus hidup Eimeria sp pada fase aseksual dan pemberian dilakukan selama 5 hari. Obat golongan ketiga yaitu toltrazuril yang bekerja dengan mengganggu siklus hidup Eimeria sp pada fase seksual dan aseksual sehingga cukup diberikan selama 2 hari. Selama pemberian antikoksidia, ada hal yang perlu dihindari yaitu pemberian antikoksidia bersama dengan produk yang mengandung vitamin B atau asam amino, hal ini dikarenakan vitamin B dan asam amino merupakan substrat bagi Eimeria sp, sehingga mendukung proses perkembangbiakan Eimeria sp. dan menyebabkan pengobatan justru menjadi tidak efektif.
Koksidiosis memang sangat merugikan bagi peternak. Pengendalian yang cepat dan tepat dalam mencegah atau mengatasi koksidiosis diharapkan mampu mencegah atau meminimalkan kerugian. Produksi yang optimal pada ayam dapat diwujudkan dengan pemenuhan salah satu syarat, yaitu ayam sehat, seperti terbebas dari infeksi Eimeria sp penyebab koksidiosis tersebut. *Staff Technical Education and Consultation di salah satu perusahaan obat hewan.
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2020 dengan judul “Segera Atasi Koksidiosis yang Merugikan”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153