Oleh: drh. Paulus Setiabudi, MM.,Ph.D*
Beragam upaya perlu disiapkan untuk menghadapi situasi dan kondisi, mengingat dampak ekonomi global yang mengakibatkan inflasi tinggi serta bagaimana kesiapan masyarakat menuju era endemi.
Alhamdulillah, puji syukur pada Allah SWT. Tuhan YMK, secara bertahap kita bisa melewati masa yang sulit dan mencekam dalam pandemi Covid 19,  bersyukur bisa merayakan Hari Raya Idulfitri bersama keluarga, sanak saudara, sahabat di daerah asal, setelah berjuang keras penuh pengorbanan dalam perjalanan mudik. Pergerakan ekonomi juga tampak bergairah di dorong pemerintah yang mencairkan THR dan gaji ke-13 bagi ASN, TNI POLRI serta pensiunan sekitar 34,3 triliun rupiah. Menurut KEMENPAREKRAF diperkirakan sekitar Rp 72 triliun perputaran uang dalam masa Idulfitri 1443 H. Ini.
Bukan hanya di negeri tercinta namun lebih dari 220 negara di dunia yang terdampak berat pada aspek kesehatan, ekonomi, kehidupan sosial, pendidikan, kegiatan ibadah dll. Menurut WHO yang dikutip oleh Worldometer data per Jumat 6 Mei 2022 jam 21.11 ada 515.973.597 kasus infeksi di dunia, yang meninggal akibat Covid 19 sebesar 6.272.484 dan data dari John Hopkins University (12.04.2022) angka vaksinasi mencapai 11,1 miliar. Dana belasan triliun USD sudah terkuras dari anggaran belanja berbagai negara untuk mengatasi dampak pandemi. Itulah realitas kehidupan yang harus kita sadari sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa pada Allah SWT. Tuhan YME. .
Penyakit menular akibat mikroorganisme yang disebut virus dan bakteri sudah ada sejak dahulu sebelum Sir. Doktor, dokter Alexander Fleming, lahir 6 Agustus 1881 di pedesaan Skotlandia, UK yang ilmuwan mikrobiologi dan juga ahli farmakologi penemu antibiotik pertama yang disebut Penisilin. Beliau yang telah menyelamatkan banyak manusia akibat infeksi bakteri gram positif dan gram negatif pada waktu perang dunia. Namun, kita tahu bahwa penyakit akibat infeksi virus tidak bisa diobati dengan antibiotik apa pun termasuk  golongan broad spectrum di abad modern ini, hanya bisa dicegah dengan  VAKSINASI yang teratur dan tepat, antibiotik yang diberikan dokter hanya untuk mencegah infeksi sekunder akibat bakteri
Bagi para ahli Animal health; dahulu pendidikan FKH  level S.1: mendapat ilmu Mikrobiologi selama 6 semester, ilmu Patologi Anatomi & Histopatologi 6 semester, bagi teknisi dan peternak unggas, masalah penyakit menular akibat berbagai virus merupakan hal yang umum dan biasa, maka harus mau hidup berdampingan dengan berbagai penyakit virus ( misal:  ND – Paramyxovirus Serotype 1 ; IB – Avian Coronavirus, Coronaviridae ; Gumboro – Infectious bursal disease virus, Avibirna virus ; AI – Influenza virus type A. Orthomyxoviridae ; ILT – Gallid herpesvirus type 1, Alphaherpesvirinae ; Marek’s – Gallid alphaherpesvirus 2 ; dll.) dan penyakit akibat berbagai bakteri (misal: E. Coli, Salmonella, Pasteurella, Clostridium, Haemophilus, Staphylococcus, Streptococcus, Mycoplasma, dll.) selain juga ada Protozoa – Coccidia, serta banyak virus dan bakteri pada berbagai hewan ternak misal: Asfivirus, Asfarviridae penyebab ASF pada babi, Bacillus Anthracis pada ternak dan manusia sehingga kita harus paham bagaimana menghindari dan mencegahnya. Maka dalam budi daya perunggasan, program Poultry Health yang utama adalah (a) Proper Vaccination (b) Strict Biosecurity (c) Poultry Management Practices. Itulah Segitiga Pengaman yang tidak bisa di tawar-2 lagi. Peternak tidak boleh alpa, harus teliti dalam menjalankan manajemen perkandangan dan budi daya sehingga bisa efektif dan efisien yang berdampak positif dalam biaya produksi.
Setiap tahun ada ratusan miliar dosis vaksin dipakai untuk ternak. Kasus HPAI   yang dahulu pernah terjadi di Indonesia tahun 2003, juga masih terjadi di  commercial laying hens di Nebraska sekitar 2,1 juta ekor di Knox county dan 1,75 juta ekor di Dixon county, serta commercial broiler flocks di Butler county yang menyerang 417.000 ekor & 570.000 ekor. HPAI juga menyerang commercial broiler breeder pullets di Pennsylvania, semua sudah di konfirmasi oleh USDA dan APHIS tanggal 27 April 2022. Juga outbreak ASF pada babi terus timbul di berbagai negara. Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) disebabkan oleh virus Foot Mouth Disease (FMDV) termasuk dalam famili Picornaviridae dan genus Aphtovirus (MacLachlan & Dubovi 2017).
Perlu dipahami bagi orang awam, penyakit tersebut. Umumnya bukan zoonosis. Menurut OIE, zoonosis adalah jenis penyakit yang dapat ditularkan hewan ke manusia. Penyakit ini umumnya disebabkan oleh berbagai jenis mikroorganisme, seperti bakteri, virus, jamur, atau parasit. Zoonosis bisa menular dari hewan liar, hewan ternak, maupun hewan peliharaan.  Zoonosis dapat menjadi masalah bagi kesehatan masyarakat karena hubungan yang dekat antara manusia dengan hewan, baik sebagai sumber pangan, hewan peliharaan, maupun penunjang kegiatan manusia.
Untuk pandemi Covid 19, WHO mengumumkan nama-nama baru untuk varian virus corona SARS-CoV-2 yang terdeteksi di berbagai negara. Melansir laman resmi WHO, varian-varian baru virus corona diberikan nama sesuai alfabet Yunani, seperti Alpha, Beta, dan Gama, Delta yang lebih mudah diingat dan varian Omicron, maka dalam kehidupan kita di era New normal, di tengah berkembangnya virus yang terus bermutasi genetik sehingga banyak varian, kita harus mau (a) ikut program vaksinasi, (b) disiplin prokes serta (c) pola hidup sehat agar imunitas terjaga tinggi. Masyarakat yang sehat, teredukasi dan berdisiplin kuat akan berdampak pada pembentukan SDM Unggul. *Staf Ahli Majalah Poultry Indonesia, pengamat perunggasan, dan pengajar Global Marketing Management
Tulisan ini merupakan potongan dari artikel rubrik Sudut Kandang majalah Poultry Indonesia edisi Juni 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153