Oleh : Desianto B Utomo*
Secara global, sampai tahun 2030 nanti, ramalan dari Rabobank juga menunjukkan bahwa tingkat pertumbuhannya perunggasan masih akan semakin besar, jika dibandingkan dengan komoditas ternak lainnya. Terutama di negara berkembang, suplai perunggasan menyumbang peranan yang sangat besar, karena sebagai sumber protein hewani yang dominan. Sedangkan untuk di negara maju, pertumbuhannya memang tidak setinggi di negara–negara berkembang, dan lebih berorientasi kepada food safety dibandingkan dengan food production. Sebaliknya, di negara – negara berkembang, masih berorientasi kepada food production dan food productivity.

Seperti yang sudah diketahui bersama bahwa berbagai lembaga survey dunia untuk bidang ekonomi seperti worldbank maupun lembaga lainnya optimis industri perunggasan akan terus berkembang sebagai penyuplai protein hewani baik untuk negara maju maupun negara berkembang.

Beranjak ke konsumsi protein hewani dalam negeri, komoditas perunggasan masih menjadi tonggak utama dalam pemenuhan sumber protein hewani bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan maupun di pedesaan. Apalagi dengan semakin maraknya wisata kuliner di penjuru daerah. Dengan berbahan dasar unggas, baik unggas lokal maupun ras sebagai menu utama, menjadi daya tarik tersendiri untuk peningkatan konsumsi komoditas perunggasan di Indoensia.
Seputar perunggasan dalam negeri
Peningkatan demand ketika puasa dan lebaran tahun ini terlihat ada peningkatan sekitar 15-2-% jika dibandingkan dengan tahun lalu sepertinya karena adanya pelemahan dari daya beli masyarakat maka peningkatannya tidak sebesar tahun lalu. Juga ketika dilihat dari serapan – serapan yang selama ini ada peningkatan selama bulan puasa atau menjelang munggah, dan menjelang lebaran.tetapi kelihatannya karena ada indikasi pelemahan daya beli masyarakat, walaupun permintaan produk unggas lebih dominan dibandingkan dengan produk lainnya maka permintaannya mungkin tidak sebesar tahun lalu, jadi prediksinya akan tetap tumbih namun tidak seperti tahun lalu.
Adanya peningkatan bahan pakan lokal berupa jagung maupun bahan impor seperti fullfat soyabean, maupun soybean meal, secara global sangat mempengaruhi harga pokok produksi (HPP) dari pakan. Seperti kita ketahui bahwa sebesar 80% cost structure dari harga pakan ditentukan oleh harga bahan pakan. Peningkatan harga bahan pakan disebabkan oleh terganggunya produksi di negara produsen. Seperti contoh, di brasil saat ini sempat mengalami gangguan iklim berupa kekeringan sehingga menurunkan produksi dan mengakibatkan harga naik. Seperti diketahui bersama, bahwa brasil merupakan salah satu produsen terbesar untuk bahan pakan dunia, sehingga ketika terjadi gangguan produksi maka akan mengganggu rantai pasok dunia.
Dampak yang lebih konkrit tentu sangat signifikan mengangkat harga soybean meal ke level stable high di atas Rp.10.000,00 bahkan untuk beberapa waktu harga SBM menyentuh angka lebih dari Rp.10.000,00 dan hampir mencapai Rp.11.000,00 pada akhir – akhir ini. Sementara itu, untuk harga produk derivatif dari jagung seperti Corn Glutten Meal (CGM), Distilled Dried Grains with Solubles (DDGS) juga meroket karena terjadi peningkatan permintaan dari feedmill yang signifikan karena pabrikan saat ini sedang mencari bahan substitusi untuk sumber protein.
Maka dari itu, bahan yang berasal dari produk derivasi jagung dengan kandungan protein yang sangat tinggi akan menjadi salah satu alternatif untuk subtitusi dalam rangka pengurangan penggunaan soyabean meal pada ransum ayam petelur. Konsekuensinya tentu akan mengerek harga pakan, sedangkan jika melihat dinamika para peternak terjadi di dalam negeri yang terus merugi, para peternak juga meminta untuk menunda kenaikan harga pakan. Kondisi dilematis ini memang sedang dialami oleh para pabrik pakan yang ada di Indonesia, dimana kenaikan harga bahan pakan dunia membuat para pabrikan harus menaikkan harga yang sesuai dengan daya beli para peternak.
Perlu persiapan yang matang
Penulis juga ingin menghimbau kepara para stakeholder terkait dengan terdeteksinya kasus AI baru di lapangan akhir – akhir ini mau tidak mau tuntutan bagi para peternak adalah untuk meningkatkan biosekuriti pada kandang atau farm masing – masing. Memang harus diakui bersama ketika para peternak memperketat biosekuriti di lapangan, terjadi kenaikan biaya produksi. Tetapi harus dicermati juga bahwa dengan adanya upaya biosekuriti dan pemakaian disinfektan di dalam rangkaian prosedur biosekiriti, merupakan salah satu langkah investasi untuk mengamankan ternak dari berbagai macam ancaman gangguan kesehatan yang menghantui. Maka mau tidak mau, untuk mencegah masuknya gangguan penyakit yang mungkin menyerang, para peternak harus mengaplikasikan biosekuriti tiga zona demi mengamankan aset berupa ternaknya.
Adapun beberapa langkah yang perlu disiapkan dan dilakukan oleh para peternak dalam rangka mempersiapkan kondisi yang tidak terduga. Langkah yang pertama yaitu mempersiapkan pola pikir Expect the unexpected, Expect the best but ready for the worst. Kita harus selalu siap atas segala kemungkinan yang tidak terduga, tetap optimis bahwa apa yang kita lakukan itu akan selalu mendatangkan hasil yang baik, tetapi harus selalu siap dengan skenario terburuk yang mungkin akan terjadi.
Untuk menghadapi berbagai macam skenario tersebut, para peternak harus bisa mengukur kembali kekuatan finansialnya. Hal ini diperlukan karena untuk memastikan bahwa usaha yang dilakukan bisa dijalankan secara terus – menerus, selain itu juga para peternak harus bisa membaca kondisi perunggasan nasional dalam rangka untuk mengamankan aset. Jangan sampai kejadian di beberapa waktu yang lalu bahwa terdapat beberapa pabrik pakan yang menuntut para peternak ke jalur meja hijau dan mengakibatkan status beberapa peternak menjadi tergugat dalam kasus Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) di pengadilan tata niaga.
Penulis ingin menghimbau kepada para peternak supaya bisa mengantisipasi berbagai macam skenario bukan hanya dari segi teknis pemeliharaan lapangan saja, akan tetapi faktor permodalan atau non teknis juga perlu diperhatikan. Maka dari itu, untuk sementara waktu para peternak bisa melakukan penghitungan ulang terkait dengan berapa jumlah populasi yang bisa dipelihara, sesuai dengan kemampuan dari para peternak itu sendiri. Selain itu, para peternak yang selama ini melakukan kegiatan budi daya secara mandiri, mungkin bisa mempertimbangkan untuk bergabung ke dalam sistem kemitraan supaya bisa saling berbagi keuntungan dan risiko agar kegiatan usahanya bisa berjalan secara terus – menerus.
Mungkin di masa – masa sekarang ini, pola kemitraan tersebut adalah pilihan terbaik karena dijalankan berdasarakan sebuah sistem saling berbagi, baik dalam bentuk keuntungan maupun risiko yang mungkin timbul dalam kegiatan usaha tersebut. Semoga para peternak tetap bisa jaya, dan seyogyanya dalam segala aspek kehidupan ada yang dinamakan seleksi alam, dan mereka yang akan bisa terus eksis di dunia perunggasan inilah yang menjadi the last man standing. *Ketua Umum Gabungan Perusahaan Makanan Ternak, Staff Ahli Majalah Poultry Indonesia
Artikel ini merupakan rubrik Sudut Kandang pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Baca selengkapnya pada majalah Poultry Indonesia edisi Mei 2023. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: 021-62318153 atau sirkulasi@poultryindonesia.com