Cemaran mikoitoksin pada pakan sangat mungkin terjadi terutama pada manajemen pengolahan dan penyimpanan pakan yang serampangan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Perkembangan jamur pada pakan merupakan hal yang tidak diinginkan, karena hasil dari metabolisme sekunder jamur yang tak kasat mata. Memang cemaran mikoitoksin tidak dapat dihilangkan 100%, tetapi upaya yang dapat dilakukan yaitu mengatur lingkungan sekitar agar jamur tidak dapat berkembang pada saat penyimpanan. Mulai dari humiditas, ventilasi, dan tentunya kualitas mulai dari bahan pakan, namun yang menjadi pertanyaan apakah hal tersebut sudah dilakukan di lapangan?
Faktanya, berdasarkan keterangan Prof. Dr. Ir. Budi Tangendjaja, MS, M.App.Sc, Ph.D selaku peneliti yang telah lama berkecimpung dalam dunia nutrisi dan teknologi pakan, ia masih menemukan bahwa pada pengolahan pakan self-mixing untuk peternakan layer, pakan tersebut diolah dengan tidak steril, seperti mengolahnya dengan tangan, kondisi tempat pengolahan yang kotor, bahkan untuk dari segi bahan bakunya sudah menunjukan adanya pertumbuhan jamur. Hal ini tentu akan mendukung penyakit tumbuh subur di lapangan.
“Bagaimana caranya menginginkan ternak dengan imunitas yang tinggi jika jagung yang dipakai untuk pakan berjamur, konsumsi pakannya rendah, dan kadar mikotoksinnya dalam pakan tinggi. Mencampurnya juga memakai tangan atau pakai sekop. Itulah yang terjadi di lapangan,” ungkapnya pada seminar ASOHI di Jakarta, Kamis (27/2). Penerapan manajemen pengolahan yang tidak ideal tersebut akan turut berpengaruh pada peningkatan biaya produksi.
Baca Juga: Ancaman Aspergilosis Selalu Sadis
Mikotoksin memang tidak bisa sepenuhnya dihilangkan pada bahan yang bersifat mudah rusak seperti pakan, namun masih ada beberapa cara untuk menekan jumlahnya hingga seminimum mungkin. Menurut Hossain et al. (2011), langkah detoksifikasi mikotoksin dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya secara fisik seperti menggunakan metode pengeringan dan autoklaf, kimiawi contohnya memakai zat yang bersifat asam maupun basa dengan ukuran tertentu, manipulasi diet pakan dengan penambahan essensial oil, mikroba tertentu, serta penambahan agen pengikat atau absorban.
Sebagai komponen prioritas dan mayoritas dalam proses pemeliharaan unggas, aspek sanitasi maupun standardisasi dari segi pengolahan pakan maupun penyimpanannya perlu dijalankan dengan sebaik-baiknya, sehingga dalam proses pemeliharaan, unggas tidak mudah terserang penyakit dan berada dalam performa maksimum. Jika hal tersebut terpenuhi maka peternak tidak perlu merogoh kocek lebih dalam untuk penanganan pakan yang terkena jamur, outbreak penyakit dalam kandang, kerugian akibat gagal produksi, serta menghasilkan produk protein hewani yang aman untuk dikonsumsi. PI
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi April 2020 dengan judul ” Kualitas Pakan Memengaruhi Kesehatan Unggas. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153