Mycoplasma tidak hanya menyerang saluran pernafasan, tetapi dapat menginfeksi saluran reproduksi khususnya pada sektor pembibitan yang berdampak pada kontaminasi mycoplasma pada DOC.
Mycoplasma tidak hanya menyerang saluran pernafasan, tetapi dapat menginfeksi saluran reproduksi khususnya pada sektor pembibitan yang berdampak pada kontaminasi mycoplasma pada DOC.
POULTRYINDONESIA, Jakarta — Mycoplasmosis atau lebih dikenal dengan Chronic Respiratory Disease (CRD) sudah menjadi perhatian utama dalam peternakan unggas yang harus dicegah dan ditangani dengan baik. Persoalan dan perkembangan kasus mycoplasmosis di Indonesia lebih jauh dibahas dalam OBRASS (Obrolan Ringan Akhir Pekan Seputar Unggas) yang diselenggarakan oleh Asosiasi Dokter Hewan Perunggasan Indonesia (ADHPI) melalui zoom meeting pada Sabtu (25/6).
Dr. drh. Nuryani Zainuddin, M. Si. selaku Direktur Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan menyampaikan dalam sambutannya bahwa perkembangan populasi unggas mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahunnya. Peningkatan populasi harus disertai dengan langkah antisipasi terhadap mikroorganisme yang membahayakan dan berpengaruh pada produktifitas ternak.
Biosecurity yang ketat perlu dilakukan mengingat negara kita termasuk dalam wilayah tropis yang sangat kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya mikroorganisme,” ucapnya.
 Materi yang pertama disampaikan oleh drh. Faidah Rachmawati, M. Sc., selaku narasumber. Ia menyampaikan mengenai penelitian Mycoplasma gallisepticum dan perkembangannya.
Baca Juga: Mencetak Generasi Siap Kerja Melalui Sekolah Vokasi
Mycoplasma gallisepticum menyebabkan CRD yang gejalanya meliputi gangguan pernapasan, keluarnya lendir dari hidung, depresi, ngorok dan kesulitan bernafas. Penularan CRD bisa terjadi secara horizontal maupun vertikal,” jelasnya.
Faidah juga menambahkan bahwa untuk mendiagnosa penyakit mycoplasmosis dapat dilakukan dengan identifikasi agen penyakit, deteksi asam nukleat, dan serological test. Penelitian yang sudah dilakukan terhadap mycoplasmosis meliputi deteksi antibodi secara aglutinasi, uji sensitivitas antibiotik, efikasi antibiotik, dan pengembangan ELISA.
“Harapan saya deteksi lebih dini terhadap mycoplasmosis dapat lebih dikembangkan dan riset yang akan dilakukan yaitu pengembangan alat deteksi antibodi dan antigen, serta terapi dan pengendalian dengan bakteriofaga,” pungkasnya.
Materi yang kedua disampaikan oleh drh. Erry Setyawan, MM., MAHM. mengenai mycoplasmosis dan gejalanya di lapangan. Menurutnya, mycoplasma tidak hanya menyerang saluran pernafasan, tetapi dapat menginfeksi saluran reproduksi khususnya pada sektor pembibitan yang berdampak pada kontaminasi mycoplasma pada DOC. Penyebaran mycoplasma dapat secara vertikal seperti pada ayam breeding ke ayam komersil, secara horizontal melalui vektor pembawa atau hewan lain dan vektor mekanis seperti benda, serta faktor predisposisi seperti sanitasi dan higienitas yang tidak baik dan multi usia.
“Multifaktor yang menyertai terjadinya mycoplasmosis terdiri dari patogen utama, agen immunosupresi, faktor lingkungan, pakan, dan faktor kompleksitas lainnya. Sehingga untuk langkah penanganan bukan hanya berfokus pada bakteri mycoplasma saja, tetapi secara menyeluruh,” jelasnya.
Sesi diskusi berikutnya diawali dengan penyampaian pendapat dari drh. Hadi Wibowo selaku Wakil Ketua Umum ADHPI. Ia menyampaikan bahwa perlu adanya spesifikasi diagnosa lebih lanjut mengenai mycoplasmosis.
“Penyakit pada pernafasan menjadi perhatian utama karena akan berdampak pada seluruh sektor produksi. Selain itu, lingkungan kandang yang buruk dan mengandung banyak NH3 maka Mycoplasma gallisepticum akan sangat mudah berkembang biak,” ujarnya.
Sepakat dengan Hadi, drh. Teguh Prajitno selaku peserta diskusi menyampaikan bahwa manajemen perkandangan dan pelaksanaan biosecurity sangat penting untuk dilakukan sebagai upaya pencegahan.
 Mycoplasma sangat mudah untuk menyebar dan bertahan di lingkungan. Biosecurity penting sekali dilakukan untuk mengurangi kemungkinan terbawanya mycoplasma ke dalam kandang,” jelasnya.