POULTRYINDONESIA, Surakarta – Menggandeng U.S. Soybean Export Council (USSEC), Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (PINSAR) menyelenggarakan seminar bertajuk “Alternatif Pengganti Jagung” di Solo, Jumat (20/9). Seminar ini merupakan serangkaian acara Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) yang rutin dilaksanakan setiap tahun.
Country Director U.S. Soybean Export Council (USSEC) Indonesia, Ibnu Wiyono melihat bahwa bungkil kedelai mempunyai peluang sebagai alternatif substitusi jagung, yang saat ini ketersediaannya sering kali membuat peternak kesulitan. Dirinya menyebutkan bahwa dalam dua tahun ke depan, Amerika akan menambah produksi kedelai sebanyak 8 sampai 11 juta ton, sehingga produksi bungkilnya menjadi terbesar di dunia. “Tentu hal ini menjadi peluang yang bisa kita manfaatkan,” tambahnya.
Pada kesempatan yang sama, Prof. Budi Tangendjadja menguraikan kondisi harga jagung di Indonesia 50% lebih mahal dibandingkan Vietnam dan Malaysia, sehingga membuat harga ayam dan telur di Indonesia lebih mahal dibandingkan dua negara tersebut. Menurutnya hingga saat ini harga jagung masih berkisar di angka Rp5.000/kg dan untuk harga telur di pasaran sekitar Rp22.000 hingga Rp24.000/kg dengan HPP rata-rata Rp18.000 sampai Rp19.000 di peternak. Harga pakan rata-rata per kilogram paling murah mulai dari Rp5.500-6.500/kg untuk yang pakai konsentrat dan Rp6.500-7.000/kg untuk pakan pabrikan complete feed meal. 
Bahan pakan alternatif yang bisa digunakan dari sumber energi dan protein alternatif tanpa mengurangi nilai nutrisi bisa bermacam-macam. Untuk sumber energi utama yang biasanya jagung, bisa diganti alternatifnya dengan gaplek atau singkong, sorghum, juga bungkil inti sawit hasil dari pengolahan minyak sawit. Untuk sumber protein dibagi dua berdasarkan sumbernya yaitu nabati dan hewani. Untuk sumber protein nabati bisa dari bungkil kedelai, corn gluten meal, rapeseed meal (canola dari kanada), Dried Distilled Grain with Solubles (DDGS), full fat soya bean, hingga bungkil biji bunga matahari. 
Sementara itu untuk protein hewani bisa berasal dari tepung ikan, tepung daging (MBM) atau poultry byproduct meal, tepung bulu, hingga blood meal. “Kalau dilihat suplai protein dunia itu kedelai paling utama. Setelahnya yakni saat ini untuk sumber protein ada pula DDGS sebagai sumber protein yang mulai dominan digunakan untuk substitusi. Penggunaannya menjadi nomor dua setelah bungkil kedelai dengan produksi 45 juta ton. Untuk biji-bijian sumber energi memang jagung yang paling tinggi. Jika jagung tidak ada, bisa gunakan gandum, setelahnya beras dalam bentuk menir,” Kata Budi.
Untuk mendapatkan formula ransum yang efisien dengan nilai nutrisi yang sesuai, Budi menggunakan aplikasi excel dengan parameter bahan pakan yang sudah diinput seperti nilai nutrisi, maksimal dan minimal penggunaan, serta harga. Setelahnya diformulasikan menggunakan metode least cost formulation. 
“Untuk menyikapi hal tersebut, peternak harus mencari alternatif bahan pakan dan formulasi ransum yang masih aman diberikan kepada ternak. Dalam hal ini peternak bisa mencari alternatif pakan selain jagung yang kaya akan energi seperti gandum, yellow grease, dan full fat soya, sehingga disaat harga jagung.