POULTRYINDONESIA, Jakarta – Gelaran pameran Indolivestock Expo & Forum akan kembali terselenggara pada 26 – 28 Juli 2023 di Grand City Convex, Surabaya. Berkaca pada kesuksesan di tahun sebelumnya, juga akan dianugerahkan berbagai penghargaan Indolivestock Awards, yang dalam proses penilaiannya PT Napindo Media Ashatama selaku penyelenggara pameran mempercayakan kepada Yayasan Pengembangan Peternakan Indonesia (YAPPI) yang telah berpengalaman dalam melakukan penjurian award secara professional dan telah bersertifikat.
Melalui siaran pers tertulis, Ketua Umum YAPPI, Desianto Budi Utomo menyampaikan bahwa sebagai suatu hal yang penting dalam peningkatan sumberdaya manusia, inovasi harus didorong kemajuannya untuk meningkatkan daya saing peternakan dan kesehatan hewan. Dalam hal. Ini pemerintah terus mendorong kalangan akademisi, peneliti dan pelaku usaha untuk terus menciptakan inovasi agar produk di bidang peternakan dan kesehatan hewan makin berdaya saing tinggi.
Menurut Desi, banyaknya inovasi tersebut dapat dilihat dari makin banyaknya karya inovasi didaftarkan sebagai Hak Kekayaan Intelektual (HKI) di Ditjen kekayaan Intelektual (DJKI) Kemenkumham RI. Namun demikian banyaknya karya yang daftarkan HKI-nya belum mencerminkan bahwa karya tersebut sudah diimplementasikan di dunia usaha dan membuat usaha makin berdaya saing.
“Untuk itu penganugerahan Indolivestock Award pada tahun 2023 ini akan secara khusus diorientasikan dalam hal penciptaan HKI dengan tema Inovasi bidang peternakan dan kesehatan hewan. Acara penganugerahan akan berlangsung di Grand City Convex Surabaya sebagai bagian dari Opening Ceremony Indolivestock Expo & Forum 2023 pada tanggal 26 Juli 2023,” jelasnya.
Adapun proses penilaian terhadap para calon penerima award dilakukan secara objektif dan terukur sehingga hasil penilaian dapat memberikan kepuasan kepada pihak yang terpilih sebagai penerima award maupun pihak yang tersisih. Untuk itu, proses penentuan bakal calon menjadi calon, kemudian dari calon menjadi penerima award didasarkan pada komponen penilaian yang terdiri atas komponen inovasi, implementasi, dampak, dan keberlanjutannya.
” Untuk kriteria penilain pertama adalah kebaruan, dimana inovasi harus menunjukkan adanya hal baru di luar kebiasaan yang sudah ada atau hal yang sudah dikenal sebelumnya, serta bersifat orisinil (genuine) dan memiliki keunikan (uniqueness) tersendiri. Selanjutnya terdapat indikator Hak Kekayaan Intelektual. Diutamakan sudah terdaftar yang dibuktikan dengan terbitkan sertifikat hak kekayaan intelektual dari Ditjen Kekayaan. Kemudian kita juga akan melihat indikator implementasi. Telah diterapkan di masyarakat dan menunjukkan adanya dampak positif bagi usaha peternakan dan masyarakat luas. Dan sebagai kriteria terakhir adalah keberlanjutan, yang menunjukkan indikasi kuat dalam hal kesinambungan dalam mengimplementasikan karya inovasi tersebut”.
Disisi lain, dalam rangka memperkenalkan dan mendiskusikan inovasinya, penerima award akan diundang menjadi narasumber dalam seminar “Hilirisasi Inovasi: Tingkatkan Daya Saing Peternakan dan Kesehatan Hewan” yang akan dilaksanakan di hari pertama pameran. Dalam seminar ini juga akan menghadirkan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan sebagai Keynote Speaker.
“Diharapkan seminar ini dapat memberi motivasi kepada para peneliti, akademisi dan dunia usaha untuk terus melakukan inovasi untuk meningkatkan daya saing peternakan dan kesehatan hewan,” ungkapnya.