Oleh : Prof. Dr. Ir Arief Daryanto., M.Ec*
Pada tahun 2022 terjadi peningkatan pesat dalam harga pangan dan kekurangan pasokan pangan di seluruh dunia. Krisis pangan yang terjadi di berbagai belahan dunia yang disebabkan oleh banyak faktor yang saling kait mengait, yaitu geopolitik, ekonomi, dan alam, seperti misalnya panas yang ekstrim, banjir dan kekeringan yang disebabkan oleh perubahan iklim. Krisis tersebut tentu menyebabkan kerawanan dan krisis ekonomi selama pandemi COVID-19 menyebabkan daya beli yang menurun dan rantai pasokan pangan yang patah (broken food supply chains).
Menyusul invasi Rusia tahun 2022 ke Ukraina, Food and Agriculture Organisation (Organisasi Pangan dan Pertanian) memperingatkan bahwa perang tersebut akan mengakibatkan berkurangnya pasokan pangan dan kenaikan harga. Sebagian besar kekhawatiran terkait dengan kekurangan pasokan tanaman komoditas utama, seperti gandum, jagung, dan benih minyak, yang dapat menyebabkan kenaikan harga. Invasi juga menyebabkan kenaikan harga bahan bakar dan pupuk terkait, menyebabkan kekurangan pangan lebih lanjut dan kenaikan harga.
Krisis pangan tidak hanya terjadi pada negara-negara berkembang tetapi juga menimpa negara-negara maju. Negara-negara maju yang biasanya memiliki persediaan pangan yang aman, seperti Inggris dan AS, mulai merasakan dampak langsung dari inflasi biaya akibat kerawanan pangan. Sedangkan tantangan utama yang dihadapi antara lain adalah adalah biaya pakan. Bahan pakan sebanyak 65 persen berasal dari lokal dan 35 persen impor. Harga jagung dan kedelai ditentukan secara internasional tetap cenderung meningkat bagi produsen Indonesia.
Baca Juga: Formula Pakan yang Tepat
Industri perunggasan menggunakan jagung (35-50 persen) sebagai bahan inti pakan unggas, ditambah dengan bungkil kacang kedelai (20-25 persen), dedak (10-15 persen) dan komponen bahan lainnya. Mengingat harga jagung, bungkil kacang kedelai meningkat di tingkat global, maka biaya pakan pun meningkat signifikan. Ditambah lagi dengan adanya krisis pangan dan ekonomi di dunia, maka harga impor GPS (great parent stocks) pun meningkat dan harga energi (LPG dan listrik) pun meningkat.Dengan daya beli yang menurun akibat krisis ekonomi dan biaya produksi yang meningkat, maka para pelaku usaha di industri perunggasan harus lebih memikirkan bagaimana meningkatkan produktivitas, daya saing dan efisiensi di sepanjang rantai pasokannya.
Usaha budidaya perunggasan merupakan suatu usaha yang dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan daging yang termurah dibandingkan daging-daging lainnya. Untuk mencapai hasil yang optimal diperlukan penerapan budidaya perunggasan yang baik (Good Farming Practice) yang merupakan panduan cara beternak yang baik dan benar, yang memperhatikan lingkungan dan memenuhi standar minimal sanitasi dan kesejahteraan ternak.
Kriteria keberhasilan usaha ternak modern ke depan meliputi antara lain (1) Kinerja teknik dan finansial: tingkat pertumbuhan, feed conversion ratio dan produktivitas, (2) Kesehatan dan kesejahteraan hewan: tingkat kematian, densitas, penyakit dan cekaman. (3) Kualitas manajemen: koordinasi penciptaan nilai tambah, ketelusuran dan keterlacakan (tracking and tracing), dan (4) Dampak lingkungan: foodprint, efisiensi, penggunaan energi dan air.
Lebih lanjut, kita dapat belajar pada negara-negara pengekspor seperti Thailand, Brazil dan Argentina yang telah berhasil meningkatkan daya saing perunggasan mereka. Mereka adalah eksportir utama produk daging ayam ras. Kunci keberhasilan mereka antara lain adalah (a) adanya iklim yang sesuai yang membuat biaya pengelolaan kandang menjadi lebih murah; (b) biaya tenaga kerja yang kompetitif; (c) adanya dukungan kuat produksi jagung dan kedelai lokal yang melimpah; (d) adanya produksi yang terintegrasi (contract farming) antara perusahaan inti dan peternak plasma (dapat menggunakan skema koperasi); (e) adanya perusahaan besar dengan manajemen yang baik, peralatan yang modern, inovatif dan berbasis pasar (market driven); dan juga (f) adanya iklim investasi yang kondusif. Model sistem contract farming atau sistem kemitraan memberikan nuansa pertumbuhan dan pemerataan (growth with equity) atau pertumbuhan ekonomi yang inklusif dalam industri peternakan unggas.
Usaha ayam ras merupakan industri biologis, siklus pendek dan resiko tinggi terutama di tingkat budidaya, baik dari harga input dan outputnya. Harga ayam hidup di kandang sering sangat fluktuatif yang merugikan para peternak.
Strategi negara produsen dunia
Koordinasi vertikal merupakan model strategi rantai pasok yang dilaksanakan oleh perusahaan skala yang lebih besar dengan menggunakan kerjasama atau kemitraan kontrak dengan para peternak yang bersifat saling menguntungkan. Koordinasi vertikal dalam industri perunggasan dapat didefinisikan sebagai proses produksi, hingga industri hilirnya berada pada satu komando keputusan manajemen. Koordinasi vertikal ini dapat bersifat secara parsial atau penuh. Perusahaan-perusahaan yang menerapkan model koordinasi vertikal dan kemitraan kontrak terbukti menghasilkan peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kualitas produk.
Koordinasi vertikal menciptakan economies of transportation, economies of scale, economies of scope, economies of agglomeration dan economies of density. Melalui integrasi vertikal, lebih mudah mengimplementasikan perubahan paradigma ā€œfrom volume to valueā€ diperlukan untuk meningkatkan diferensiasi produk industri perunggasan sehingga lebih berorientasi pada nilai tambah.
Alternatif lain yang dapat dilakukan selain koordinasi vertikal dan kemitraan kontrak adalah peternak dapat membentuk usaha bersama (koordinasi horizontal) atau secara mandiri dengan potensi risiko keuntungan/kerugian yang harus dipertimbangkan secara matang.
Berdasarkan pengalaman negara-negara eksportir daging ayam, kunci keberhasilan daya saing adalah adanya iklim yang sesuai, biaya tenaga kerja yang kompetitif, dukungan kuat produksi jagung dan kedelai yang melimpah, adanya iklim investasi yang kondusif, adanya perusahaan besar dengan manajemen yang baik, peralatan yang modern, inovatif dan berbasis pasar, dan adanya produksi yang terintegrasi (melalui contract farming). Model contract farming yang ada antara lain informal model, intermediary model, multipartite model, centralized model, dan nucleus estate model (inti plasma).
Koordinasi vertikal merupakan model strategi rantai pasok yang paling umum dan dilaksanakan oleh perusahaan skala yang lebih besar dengan menggunakan kerjasama atau kemitraan kontrak dengan para peternak yang saling menguntungkan. Koordinasi vertikal dalam industri perunggasan dapat didefinisikan sebagai proses produksi, hingga industri hilirnya berada pada satu komando keputusan manajemen. Koordinasi vertikal ini dapat bersifat secara parsial atau penuh. Perusahaan-perusahaan yang menerapkan model koordinasi vertikal dan kemitraan kontrak terbukti menghasilkan peningkatan efisiensi, produktivitas, dan kualitas produk. Koordinasi vertikal menciptakan economies of transportation, economies of scale, economies of scope, economies of agglomeration dan economies of density.
Perubahan paradigma ā€œfrom volume to valueā€ diperlukan untuk meningkatkan diferensiasi produk industri perunggasan sehingga lebih berorientasi pada nilai tambah. Alternatif lain yang dapat dilakukan selain koordinasi  vertikal dan kemitraan kontrak adalah peternak dapat membentuk usaha bersama (koordinasi horizontal) atau secara mandiri dengan potensi risiko keuntungan/kerugian yang harus dipertimbangkan secara matang. *Penulis merupakan Guru Besar Ekonomi Pembangunan, Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University
 
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Opini pada Majalah Poultry Indonesia edisi Juli 2022. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, sila mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153