Puyuh petelur pada tempat makan dalam kandang
Oleh : Domi Sattyananda, S.Pt*
Di sisi lain, jika para peternak ingin mengembangkan usaha puyuh ini, banyak yang mengeluhkan soal jaminan dari kualitas bibit. Bibit yang beredar di masyarakat kebanyakan bibit hasil silangan sendiri tanpa menggunakan metode yang terukur, sehingga sulit untuk mengetahui apakah puyuh tersebut sudah mengalami perkawinan sekerabat (inbreeding) atau belum. Jika ternak sudah mengalami perkawinan sekerabat, maka penampilan genetiknya dapat dipastikan mengalami penurunan dari tetuanya, sehingga tidak mampu menampilkan bobot yang diinginkan.
Selain itu, karena banyak pemula yang langsung terjun ke bisnis ini, banyak sekali yang tidak mendapatkan keuntungan dengan sebagaimana mestinya karena memang banyak dari peternak pemula kurang menguasai aspek teknis sehingga banyak yang merugi. Masih menurut Endang, peternak yang ingin mencoba mengembangbiakan sendiri, maka harus melihat dari galurnya, jangan sampai terjadi perkawinan sekerabat. “Banyak kerugian yang ditimbulkan dari perkawinan sekerabat seperti daya tetas berkurang, cacat, resistensi produksi telur, dan masih banyak lagi,” jelas Endang.
Selaku peneliti puyuh, Endang senantiasa mengacu pada peta jalan penelitian yang ada di Fakultas Peternakan Unpad bahwa untuk unggas lokal khususnya puyuh tujuan utamanya yaitu untuk konservasi, pengembangan sumber daya genetika, lalu peningkatan produktivitas dan kesinambungan usaha.
“Kegiatan penelitian kami dari tahun 2014 sampai 2020.  Tiga tahun awal itu kami melakukan pemodelan pembibitan puyuh petelur, lalu pada tahun 2017 memulai penelitian mengenai proses hilirisasi, sedangkan untuk yang terakhir adalah pengembangan bibit pedaging,” ucapnya.
Masih dalam acara yang sama, Slamet Wuryadi selaku praktisi puyuh dan pemilik dari Slamet Quail Farm, populasi ternak puyuh di Indonesia dari Sabang sampai Merauke pada hari ini tercatat sebanyak 14 juta ekor. Dengan kebutuhan pakan yang hari ini dibeli dari pabrik penyedia pakan puyuh, ternaya puyuh mampu menghasilkan perputaran uang dari pakan 2,1 miliar per hari.
Baca Juga: Efek Daun Pegagan Pada Telur Puyuh
“Angka tersebut dihitung dari belanja para peternak puyuh se-Indonesia. Dari angka populasi sebesar 14 juta itu mampu menyediakan telur puyuh sebanyak 10 juta butir per hari, dan jika diasumsikan harga per butir telur itu dijual dengan rata-rata harga di sekitar Rp280 per butir, maka marginnya adalah 2,8 miliar rupiah per harinya,” ucap Slamet.
Angka tersebut menjadi acuan bahwa sebetulnya beternak puyuh masih menjanjikan walaupun sedang berada di tengah-tengah pandemi. Selain itu menurut Slamet, antara jumlah produksi dan kebutuhan dari puyuh sendiri masih belum seimbang. Berbeda halnya dengan broiler di mana produksi seringkali lebih besar daripada kebutuhan, maka harga komoditas broiler lebih sering turun daripada naik. Sedangkan untuk puyuh kebutuhannya lebih tinggi daripada kebutuhannya itu sendiri. Hal tersebut tentu merupakan salah satu potensi untuk menggerakkan roda perekonomian terutama di daerah perdesaan yang tidak memerlukan biaya investasi terlalu besar seperti brolier.
Lebih lanjut Slamet menggambarkan antara permintaan dan produksi puyuh. Berdasarkan pengalamannya beternak puyuh dari tahun 1992 sampai sekarang, belum pernak telur puyuh dijual di bawah harga produksi.
“Kebutuhannya sangat tinggi sekitar 16,5 juta butir, sedangkan untuk produksinya sendiri baru mencapai 3,5 juta butir. Masih ada kekurangan sekitar 13 juta butir per minggu untuk wilayah Jawa Barat, DKI dan Banten,” pungkas Slamet.
Dengan semakin baiknya bibit yang disediakan oleh berbagai penyedia bibit, maka beternak puyuh akan semakin kompetitif dan mampu menghasilkan produktivitas yang tinggi untuk alternatif penyedia gizi masyarakat. Selain itu daging puyuh dan telur juga memiliki harga yang terjangkau sehingga memang memiliki nilai tambah tersendiri sebagai alternatif konsumsi masyarakat. *Wartawan Poultry Indonesia           
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel Majalah Poultry Indonesia edisi September 2020 dengan judul “Seputar Pemilihan Bibit dan Potensi Ekonomi Puyuh”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153