Ditengah derasnya modernisasi peternakan unggas, Big Dutchman jembatani peternak lokal dan teknologi terbaik dunia guna tingkatkan produktivitas dan keberlanjutan industri unggas.
Big Dutchman kembali menunjukkan komitmennya terhadap industri peternakan Indonesia dengan berpartisipasi aktif dalam pameran ILDEX Indonesia 2025 yang digelar di Jakarta pada 17-19 September 2025. Perusahaan keluarga asal Jerman yang telah beroperasi lebih dari 35 tahun di Asia Tenggara ini melihat potensi besar dalam sektor peternakan unggas di Indonesia, khususnya pada industri layer.
Coen Boonstra, Managing Director Indonesia sekaligus Sales Director Big Dutchman Asia, menjelaskan bahwa Indonesia saat ini menempati peringkat ketiga di dunia dalam produksi telur, meskipun sekitar 80% peternakan layer masih menggunakan sistem kandang terbuka dengan ventilasi alami.
“Kami percaya bahwa ke depan akan ada pergeseran menuju sistem closed house (kandang tertutup) dengan equipment yang lebih modern. Disinilah kami hadir untuk membantu para peternak di Indonesia,” ucapnya dalam wawancara bersama Poultry Indonesia, Jumat (19/9).
Berdasarkan data konsumsi telur per kapita orang Indonesia, angka tersebut masih jauh dibawah negara tetangga seperti Malaysia. Hal ini salah satunya berkaitan dengan kemampuan masyarakat yang didominasi kelas menengah dan kemajuan teknologi di Indonesia.
“Kami memproduksi dan menjual peralatan untuk peternakan unggas, termasuk solusi pengolahan limbah kotoran unggas, mesin penggilingan pakan, pembangunan kandang, serta solusi berbasis data cloud untuk mengekstrak dan menganalisa data dari kandang guna meningkatkan kinerja peternakan,” ujarnya.
Dalam pameran ILDEX tahun ini, Big Dutchman menghadirkan para ahli dari Denmark dan Malaysia untuk berbagi ilmu dan praktik terbaik kepada para peternak di Indonesia. “Kami coba hubungkan mereka dengan para pakar luar untuk membagikan berbagai sudut pandang dan untuk menjelaskan bagaimana kami bisa meningkatkan produksi mereka saat ini,” jelas Coen.
Beberapa teknologi yang disoroti pada ajang ini seperti sistem pengolahan limbah kandang CompoTower dan mesin penggiling pakan yang merupakan peralatan baru dari Big Dutchman dan kandang closed house MC 1000 untuk broiler serta UniVent untuk layer. Selama tiga hari pameran, antusiasme pengunjung terhadap peralatan ini terlihat tinggi.
“Di masa transisi dari kandang terbuka ke sistem tertutup yang lebih modern ini, kami melihat pentingnya untuk hadir langsung dan mendampingi peternak. Tujuannya adalah memastikan mereka memahami cara menggunakan peralatan dengan benar dan agar efisiensi di kandang bisa tercapai secara maksimal,” sambungnya.
Selain mengenalkan peralatan, Big Dutchman juga menghadirkan produk-produknya yang dirancang berdasarkan permasalahan peternak di lapangan. Salah satunya adalah C-L639, sebuah inovasi scraper cage di kandang layer yang dilengkapi dengan bilah pengikis di atas manure belt. Bilah ini berfungsi mendorong kotoran ke tengah agar dapat jatuh ke bagian basement kandang secara efisien.
Menurut Coen, inovasi ini pertama kali dikembangkan oleh Big Dutchman dan kini mulai banyak ditiru. “Kami mengembangkan sistem ini karena banyak peternak di Indonesia mengalami kesulitan dalam membuang kotoran unggas. Dengan sistem ini, kotoran yang sudah kering bisa disimpan lebih lama, sehingga proses pembuangannya menjadi jauh lebih efisien dibandingkan jika harus dikeluarkan setiap hari,” jelasnya.
Ia menambahkan, meskipun kini banyak produk tiruan beredar di pasaran, banyak di antaranya tidak didukung oleh riset dan pengembangan (R&D) yang memadai. Hal ini berisiko menghasilkan produk yang secara struktural tidak kuat dan gagal memenuhi fungsi yang seharusnya. Sebagai perusahaan asal Jerman yang membawa standar Eropa, Coen menyoroti perbedaan kualitas yang mencolok, terutama jika dibandingkan dengan produk-produk serupa buatan Tiongkok.
“Big Dutchman selalu menekankan tiga hal utama dalam setiap produknya: kualitas, otomatisasi, dan daya tahan. Meski begitu, kami tetap menyesuaikan dengan kebutuhan pasar Asia, termasuk Indonesia. Karena di Asia tenaga kerja cenderung lebih mudah didapat, sehingga tidak semua sistem harus se-otomatis di Eropa. Namun, faktor kualitas dan daya tahan tetap kami jaga,” lanjutnya.
Tak hanya berfokus pada produk, after-sales service menjadi aspek penting dalam strategi Big Dutchman. Dengan adanya kantor resmi yang sudah 18 tahun di Indonesia, kini terdapat sekitar 60 karyawan, dimana setengahnya merupakan teknisi lapangan yang siap membantu secara langsung. Gudang suku cadang pun telah tersedia di Indonesia untuk memastikan ketersediaan komponen penting secara cepat.
“Kami hadir untuk semua petani. Banyak yang mengira produk kami hanya untuk skala besar karena harganya mahal, padahal kami juga mengembangkan produk untuk peternak kecil dan menengah. Kami di sini untuk membantu operasional mereka berjalan lebih baik, baik itu berupa saran teknis atau dalam bentuk penyediaan peralatan. Keduanya dengan senang hati kami lakukan,” ujar Coen.
Dengan jaringan sales yang tersebar di Sumatra, Jawa, dan Sulawesi serta kantor pusat di BSD, Tangerang, Big Dutchman memastikan setiap peternak mudah mengakses informasi dan layanan. Informasi produk dan kegiatan juga tersedia melalui website resmi, Facebook, dan LinkedIn. Melalui teknologi berkualitas serta layanan teknis yang terus ditingkatkan, Big Dutchman optimis menjadi mitra strategis peternak dalam mewujudkan peternakan unggas Indonesia yang lebih modern. Adv










