Keseharian Kurnia Rahmat atau yang terkenal dengan panggilan Bima Aqila, selalu disibukkan dengan mengurusi keperluan kliennya yang membutuhkan layanan jasa keamanan. Saat ini, Bima memiliki sekitar 500 orang yang bernaung di bawah bendera Big Guard Indonesia Security Services. Namun siapa yang menyangka bahwa jauh sebelum menjadi direktur sebuah perusahaan penyedia jasa keamanan, pria kelahiran Oktober 1980 ini sudah jatuh cinta kepada ayam hias sedari kecil.
Dunia ayam hias merupakan dunia hobi yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Nilai jual seekor ayam hias memang bervariatif, antara ratusan ribu bahkan hingga ratusan juta. Namun dibalik nilai ekonomi dari ayam hias, terdapat keindahan yang seringkali tidak dapat dinilai oleh materi belaka.
Semasa kecil, Bima mengaku menyukai ayam kampung dan terus menekuni kegiatan pemeliharaan ayam kampung. Bahkan ia mengklaim bahwa dengan kegiatannya memelihara ayam kampung mampu menolong kondisi perekonomiannya untuk bisa menamatkan sekolah semasa SMA.
“Sebetulnya saya dari kecil sudah ada ketertarikan ke ayam. Hanya dulu sewaktu saya masih SD itu masih sebatas ayam kampung. Lalu beranjak ke kelas 1 SMP saya mulai tertarik ke ayam kate. Dunia ayam ini justru membantu untuk ekonomi saya semasa SMA dari jual beli ayam kampung,” kenang Bima kepada tim Poultry Indonesia, Selasa (17/1) melalui sambungan telepon.
Selanjutnya Bima bercerita bahwa apa yang ia capai saat ini telah melalui proses yang panjang. Ia bercerita bahwa semasa muda, ia pernah merasakan bekerja sebagai buruh operator pabrik.
“Sebetulnya dulu saya sempat bekerja sebagai buruh operator pabrik dari 2000-2008. Setelah itu saya melanjutkan menjadi marketing motor tetapi hanya bertahan satu bulan. Akhirnya saya diminta tolong oleh rekan saya untuk meneruskan perusahaan dari kawan kakak saya di bidang jasa keamanan di sekitar tahun 2009,” ungkapnya.
Semenjak itulah Bima melanjutkan merintis karier di bidang layanan jasa keamanan, dan pada tahun 2013 Bima mencetuskan sebuah pemikiran bahwa jika menjadi karyawan terus – menerus, maka dari segi finansial secara pribadi juga akan sulit untuk naik ke tahap selanjutnya.
“Saya berpikir di tahun 2013, karena dari tahun 2009 saya bekerja, dan kalau jadi karyawan terus, kapan saya bisa menutupi kebutuhan hidup saya. Akhirnya saya memutuskan untuk membuka jasa security sendiri hingga akhirnya berkembang sampai sekarang,” ujarnya.
Totalitas untuk ayam hias
Bima mulai masuk dan menekuni dunia ayam hias lebih dalam semenjak tahun 2013 dan ketertarikannya terhadap ayam hias dimulai dari memelihara hingga mengimpor ayam serama. Kala itu ia bercerita bahwa ia menemukan ayam serama dari lingkungan terdekat terlebih dahulu, dan akhirnya merambah ke media sosial seperti Facebook untuk mencari informasi terkait ayam hias, dan juga saling berbagi pengalaman antar penghobi ayam hias.
“Masuk ke ayam hias itu baru di tahun 2013 dan ayam hias pertama saya adalah ayam serama. Dari mulai mencoba impor dan sebagainya, akhirnya saya bertemu dengan teman-teman sehobi dari lingkungan terdekat terlebih dahulu, lalu bertemu di media sosial seperti facebook dan sebagainya. Dari situ banyak silaturahmi terutama di facebook, sampai akhirnya bertemu dengan kawan–kawan importir ayam hias dari media sosial tersebut,” sambungnya.
Setelah berjalannya waktu, pada tahun 2013 Bima akhirnya dipercaya menjadi ketua dari komunitas Sahabat Serama Indonesia Crew (SSIC). Dari situlah akhirnya Bima bersama rekan rekan komunitasnya mengikuti kontes sampai ke kediri
“Karena pada saat itu di Kediri kontesnya sudah sampai taraf regional ASEAN. Waktu tahun 2015 atau 2014 kalau tidak salah seringkali diadakan kontes di tingkat nasional bahkan sampai tingkat regional se – ASEAN,” jelas Bima.
Beranjak ke periode selanjutnya yaitu pada tahun 2016 akhirnya Bima bertemu dengan kawan-kawan di Asosiasi Pecinta Ayam Hias (APAH). Pada momen itulah ia mulai menaruh perhatian lebih untuk aneka ragam ayam hias, termasuk merak dan pheasant.
“Awalnya saya itu di komunitas serama, kemudian saya dari situ mulai berkenalan dengan penghobi juga dari ayam hias yang berbeda jenis, lalu akhirnya mendirikan Asosiasi Pecinta Ayam Hias (APAH) Indonesia. Untuk APAH sendiri memang merupakan gabungan dari beragam asosiasi atau komunitas pecinta ayam hias dari berbagai jenis, mulai dari ayam hias lokal maupun impor,” terangnya.
Awalnya dalam komunitas tersebut, Bima menjelaskan bahwa semangat yang diusung adalah menjadi asosiasi yang bermanfaat bagi anggota. Salah satunya diisi dengan kegiatan sosialisasi setiap bulannya, edukasi dan saling bertukar informasi terkait bagaimana manajemen kandang yang baik, kemudian pembuatan pakan probiotik, hingga pembuatan mesin tetas.
“Dari kegiatan itulah, banyak dari kawan–kawan yang lain ikut tertarik untuk bergabung dengan APAH karena dari kegiatan yang dilakukan oleh APAH ternyata dirasa bermanfaat bagi para penghobi. Akhirnya APAH di awal kemunculannya memutuskan untuk mencoba menggabungkan komunitas yang memang memiliki kesamaan visi dan misi dalam sebuah kontes. Selanjutnya dari kontes yang pertama kali diadakan tersebut, semakin banyak komunitas yang mau untuk bergabung kedalam APAH,” paparnya.
Pesan dari Bima sebagai ketua APAH untuk kawan–kawan yang memang memiliki hobi yang sama di bidang ayam hias, supaya tidak hanya sekadar bermimpi untuk menjadi pebisnis sukses di bidang ayam hias, akan tetapi yang paling penting adalah silaturahmi di bidang ayam hias.
“Kita sebagai penghobi disini memiliki kawan–kawan dari beragam golongan, mulai dari buruh, pekerja lepas, sampai ke akademisi juga ada. Banyak sekali peluang bisnis dan kerja sama yang bisa terjalin dari silaturahmi antar anggota. Jadi saya menghimbau agar tidak perlu ragu dan malu untuk bergabung dengan kami. Namun perlu diingat, tujuan utamanya adalah mendahulukan silaturahmi, jangan hanya datang untuk mencari peluang bisnis saja. Saya berbicara seperti ini karena memang sudah terbukti bahwa mereka yang hanya bertujuan untuk bisnis, akhirnya relatif tidak lama dalam menggeluti hobi ini,” kata Bima.
Tantangan Pemeliharaan
Menurut Bima, tantangan pemeliharaan tersulit untuk ayam serama itu bagaimana menjaga anatomi serama supaya bisa dikatakan normal untuk ukuran serama, contohnya seperti ekor bengkok, dan panggul miring. Untuk diketahui bahwa ayam serama memang terkadang memiliki postur yang cukup ekstrem.
”Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan tindakan operasi dengan pendekatan alternatif tradisional. Kami disini memang ada kawan–kawan yang bisa melakukan tindakan alternatif tersebut. Pada periode itu memang kami sebagai penghobi ayam serama belum mampu mengakses dokter hewan. Karena memang kami berpikir bahwa sifatnya lebih ke estetika, bukan penyakit yang serius hingga mengancam nyawa hewan maupun penyakit menular yang berbahaya,” ungkap Bima.
Serangan penyakit juga pernah menjadi pengalaman yang memilukan untuk Bima. Bagaimana tidak, ayam hias yang Bima pelihara sempat terkena wabah kolera dan membuat ratusan ayam mati. “Kami sebagai penghobi, rata-rata paham bagaimana mengantisipasi penyakit yang cukup umum seperti Newcastle Disease. Sedangkan waktu itu saya kurang menjaga kebersihan pakan dan air minum sehingga terkena wabah kolera, bahkan sampai ratusan ayam saya itu mati akibat penyakit tersebut dan hanya menyisakan indukan. Untuk kasus yang terjadi baru – baru ini sekitar tahun 2021 saya pernah kecolongan untuk merak yang saya pelihara terserang kolera. Maka dari itu, pada tahun 2022 itu saya mulai merintis lagi untuk merak dan pheasant,”
Bima menyadari bahwa edukasi kepada para peternak dan penghobi juga penting untuk menjaga nilai keekonomian dari ayam hias. Alasannya, ketika ayam hias itu terserang penyakit, maka peternak akhirnya akan menurunkan harga, dan Bima paham betul ketika hal tersebut terjadi maka akan muncul kondisi saling banting harga antar penghobi.
“Akhirnya kami juga mencoba di sosmed untuk memberikan edukasi kepada para peternak untuk menjaga kualitas ayam itu sendiri. Tujuannya, ketika ayam yang dijual itu memang bagus dari segi kualitas semisal ayamnya sehat, fisiknya bagus, maka tidak ada peternak yang saling banting harga akibat kualitas ayam yang dijual kurang baik. Akhirnya para peternak juga setelah diedukasi tersadar bahwa memang menjaga kualitas ayam itu sangat perlu untuk dilakukan untuk menjaga kestabilan harga,” tegas Bima.
Peran pemerintah menurut Bima juga diperlukan supaya dunia ayam hias ini bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian masyarakat terutama di pedesaan.
“Kami juga berharap kepada pemerintah karena dunia hobi ini bisa menggerakkan roda perekonomian di kalangan peternak. Tolong rangkul kami, karena kami disini bukan ingin meminta sesuatu, tetapi hanya ingin bermitra dengan pemerintah untuk sama – sama menyejahterakan lingkungan yang ada di sekitar kami,” ucapnya.
Menyukai ini:
Suka Memuat...