Rekomendasi biosekuriti pada peternakan
POULTRYINDONESIA, Jakarta – Kesehatan ternak tentu menjadi salah satu aspek penting untuk menghasilkan budi daya ternak dalam mencapai tujuan peningkatan produksi ternak dan peningkatan kesehatan ternak. Biosekuriti menjadi pertahanan utama dalam proses pengendalian dan pencegahan penyebaran penyakit yang ada di peternakan. Selain itu pentingnya desinfeksi pada kandang menjadi usaha untuk mencegah perpindahan dan penyebaran penyakit disuatu peternakan dengan menjaga kebersihan kandang dan peralatan lingkungan.
Baca juga : Penerapan Biosekuriti dengan Pemilihan Desinfektan yang Tepat
Sehubungan dengan hal tersebut, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia atau yang biasa disebut Pinsar Indonesia menggelar seminar nasional yang bertajuk “Biosekuriti dan Desinfeksi Farm di Tengah Pandemi” pada Kamis, (26/08). Acara yang dilaksanakan secara virtual tersebut didukung penuh oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, US. Soybean Export Council, serta Food and Agriculture Organization of the United Nations.
Ricky Bangsaratoe yang mewakili panitia pelaksana mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan dari peringatan Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) dan World Egg Day (WED) yang tahun ini akan dipusatkan di Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang sekaligus merayakan Hari Lahir dan Bulan Bakti Peternakan dan Kesehatan Hewan.
“Kami sangat bersyukur acara ini dapat diikuti oleh seluruh stakeholder peternakan di berbagai daerah di Indonesia. Hal ini tak lepas dari dukungan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang menjadi penghubung sehingga acara ini bisa terlaksana dengan baik. Dengan memiliki ayam yang sehat maka sebagai peternak kita dapat meminimalisir biaya kesehatan dan memaksimalkan keuntungan dan produktivitas yang tinggi, terutama di masa pandemi seperti sekarang ini,” terang Ricky.
Dalam kesempatan yang sama, drh. Arif Wicaksono, M.Si Selaku Koordinator Substansi Pencegahan Pemberantasan Penyakit Hewan, Ditkeswan yang hadir sebagai Narasumber seminar tersebut mengatakan bahwa prinsip biosekuriti adalah mencegah kuman atau mikroorganisme masuk, mencegah kuman menyebar, dan mencegah kuman tumbuh dan berkembang. Menurutnya elemen biosekuriti sendiri meliputi isolasi, yaitu mencegah penularan penyakit dengan pemisahan, selanjutnya adalah kontrol lalu lintas yang berarti membatasi pergerakan manusia, hewan, dan benda yang akan memasuki kandang, dan yang terakhir Cleaning dan Desinfection, yang merupakan usaha untuk mensterilkan sesuatu dengan pembersihan dan desinfeksi.
“Untuk pelaksanaan biosekuriti sendiri harus berpegang pada 5 hal, yaitu manajemen peternakan yang meliputi lokasi, kandang, peralatan dan bangunan. Kedua manajemen lalu lintas, yang meliputi fasilitas, personil, kendaraan dan alat, serta pengunjung. Ketiga adalah manajemen pemeliharaan yang meliputi sistem pemeliharaan, obat, pakan, dan peralatan. Yang keempat adalah manajemen limbah yaitu hewan mati dan limbah peternakan. Dan yang kelima adalah pengawasan dan pembinaan. Kelima elemen ini sangat penting diterapkan agar pelaksanaan biosekuriti bisa terlihat hasilnya,” terang Arif.
Baca juga : Cegah Penyakit Penerapan Biosekuriti Tiga Zona Harus Dilakukan
Alfred Kompudu, S.Pt., MM selaku National Technical Advisor, FAO ECTAD Indonesia, yang juga hadir sebagai narasumber menambahkan bahwa pembersihan adalah kunci utama dalam usaha peternakan, karena dengan pembersihan mampu membunuh kuman hingga 80%. Alfred mengatakan jika dalam pelaksanaan desinfeksi, harus memperhatikan beberapa hal, seperti harus menggunakan APD (Alat Pelindung Diri), memperhatikan waktu kontak desinfeksi (membutuhkan waktu kontak selam 10 menit), dan jika melakukannya sendiri harus membaca label yang tertera pada kemasan desinfektan, dan mengikuti petunjuk dan aturan yang tertulis di dalamnya.
“Sudah banyak hasil nyata yang didapatkan peternak yang menerapkan biosekuriti dengan baik. Dari hasil penelitian kami, di peternakan ayam petelur sudah berdampak pada penurunan penggunaan antibiotika sebanyak 40%. Penggunaan desinfektan juga turun sebanyak 30%, dan henday (total produksi telur/hari) rata-rata naik 4%, dari 86% menjadi 90%. Sedangkan untuk peternakan ayam pedaging sendiri para peternak yang menerapkan biosekuriti yang ketat mencatatkan hasil bahwa mereka mendapatkan keuntungan sebesar Rp 1.048/ekor/siklus. Tak hanya itu untuk peternakan itik pun juga mengalami dampak yang bagus. Mereka bisa menghemat biaya pakan pada itik pedaging dan petelur, serta meningkatkan keuntungan sebesar Rp 1.782/ekor/tahun. Ini menandakan bahwa biosekuriti menjadi kunci untuk produktivitas yang lebih baik,” tutur Alfred.