Gerbang utama sebelum masuk ke dalam peternakan yang sudah dilengkapi oleh penyemprot untuk disinfeksi
Oleh : Domi Sattyananda, S.Pt*
Dalam kegiatan budi daya ayam ras, tentu peternak dituntut untuk bisa memelihara ternaknya dengan efisien pada semua lini proses produksi. Efisiensi dapat dicapai ketika pemeliharaan yang dilakukan oleh peternak dilakukan dengan memerhatikan kondisi ternak yang dipelihara. Intinya semakin nyaman ternak, maka efisiensi dalam beternak akan mudah dicapai. Kenyamanan ternak sangat erat kaitannya dengan kesehatan dari ternak itu sendiri. Ternak yang tidak sehat tentu tidak akan dapat menampilkan performa yang optimal karena pakan yang dikonsumsi, akan dikonversi untuk melakukan penyembuhan terlebih dahulu sebelum mengonversi pakan tersebut menjadi massa tubuh.

Industri peternakan unggas memiliki peran penting dalam penyediaan sumber protein hewani. Akan tetapi seiring dengan industrialisasi yang menuntut peternak untuk dapat menghasilkan ayam dengan cepat namun tetap efisien, kesehatan ternak tetap menjadi kunci utama agar kegiatan budi daya menghasilkan keuntungan yang optimal.

Kesehatan ternak menjadi kebutuhan yang vital di dalam proses budi daya. Oleh karena itu perlu adanya sebuah sistem kesehatan yang terintegrasi. Selain program kesehatan yang diberikan peternak seperti vaksinasi, penambahan suplemen vitamin, serta penanganan dan pengobatan bagi ternak yang sakit, perlu juga tindakan pencegahan penyakit melalui biosekuriti.
Kegiatan biosekuriti memiliki tiga prinsip dasar yang harus dilakukan agar tujuan dari penerapan biosekuriti itu sendiri bisa tercapai yakni isolasi; pembatasan lalu lintas OBH (Orang, Barang, dan Hewan); serta sanitasi yang meliputi pembersihan dan desinfeksi. Kegiatan biosekuriti sebetulnya sangat mudah diaplikasikan baik di peternakan skala kecil, menengah sampai skala besar, dengan tidak membutuhkan biaya yang banyak. Namun memang membutuhkan tenaga ekstra, konsistensi dan disiplin yang tinggi dalam kesuksesan penerapan program biosekuriti.
Mengapa biosekuriti penting?
Pandemi avian influenza yang dialami oleh Indonesia pada pertengahan tahun 2003 mengajarkan para pelaku usaha perunggasan untuk siap siaga dalam menghadapi setiap ancaman kesehatan di peternakan. Bukan hanya untuk melindungi ternak, namun juga untuk melindungi segenap pekerja yang bekerja di lingkungan peternakan unggas. Bahkan, berbagai penyakit yang menyebabkan gangguan kesehatan di manusia, berawal dari hewan sebagai agen penyebaran penyakit, sehingga penerapan biosekuriti yang ketat bisa menjadi solusi untuk menyelamatkan dampak ekonomi yang mungkin ditimbulkan dari serangan penyakit tersebut.
Terutama ketika pandemi COVID-19 mewabah di seluruh dunia pada saat ini, fasilitas peternakan dengan biosekuriti yang sesuai dengan standar sebetulnya lebih aman daripada kawasan lain seperti gedung perkantoran. Hal itu karena untuk masuk ke area breeding farm misalnya, setiap barang maupun manusia yang masuk sudah melewati prosedur desinfeksi yang sangat ketat dari ujung rambut sampai ujung kaki. Oleh sebab itu prinsip biosekuriti sejatinya bisa diterapkan di mana saja, apalagi di masa pandemi seperti sekarang.
Baca Juga: Vaksinasi dan Biosekuriti Kunci Sukses Menjaga Kesehatan Unggas
Berdasarkan buku yang berjudul ASEAN Bioescurity Management Manual for Commercial Poultry Farming, biosekuriti didefinisikan sebagai seluruh prosedur kesehatan dan pencegahan yang dilakukan secara rutin di sebuah peternakan, untuk mencegah masuk dan keluarnya kuman yang menyebabkan penyakit unggas. Biosekuriti yang baik akan berkontribusi pada pemeliharaan unggas yang bersih dan sehat dengan mengunakan sumber-sumber yang telah ada di peternakan, mengelola ternak unggas secara semestinya, menggunakan obat lebih sedikit, serta mengurangi kontaminasi.
Kegiatan biosekuriti menjadi penting karena menjadi dasar atau garda terdepan untuk melindungi ternak bahkan para pekerja yang bertugas di lingkungan kandang. Titik kritis dari biosekuriti itu sendiri adalah bagaimana agar ternak yang ada di lingkungan kandang tidak terkontaminasi dengan agen patogen. Di mana kontaminasi tersebut bisa berasal dari berbagai macam situasi dan kondisi, termasuk dari barang dan manusia yang bekerja di dalam kandang. Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa idealnya biosekuriti harus diterapkan pada siapapun yang masuk ke lingkungan peternakan tanpa kecuali. Tamu biasa, pemilik kandang, bahkan tamu penting sekelas presiden sekalipun harus patuh terhadap prosedur biosekuriti yang ada.
Potongan artikel Majalah Poultry Indonesia edisi Desember 2020 ini dilanjutkan pada judul Penerapan Konsep Dasar Biosekuriti”. Untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut silahkan mengirim email ke: sirkulasi@poultryindonesia.com atau hubungi 021-62318153