POULTRYINDONESIA, Jakarta – Tren harga daging ayam ras mulai menunjukkan penurunan pada akhir Januari 2026. Sejumlah wilayah mencatat penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH), meskipun beberapa daerah masih merasakan tekanan harga.
“Pergerakan harga ayam ras secara nasional sudah mengarah turun, walau koreksinya masih terbatas. Secara nasional, harga daging ayam ras sudah mulai menurun meskipun penurunannya masih tipis,” ujar Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti pada Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Jakarta, Selasa (27/1/2026).
BPS mencatat penurunan IPH daging ayam ras terjadi di sekitar 38,61 persen wilayah Indonesia. Pada akhir Januari 2026, rata-rata harga nasional tercatat sebesar Rp40.168 per kilogram di tingkat konsumen. Meski demikian, harga tersebut masih berada sedikit di atas Harga Acuan Penjualan (HAP) Rp40.000 per kilogram. Secara bulanan, harga daging ayam ras nasional tercatat turun 0,28 persen dibandingkan Desember 2025.
Menurut BPS, perbaikan distribusi dan pasokan menjadi faktor yang menahan laju kenaikan harga di sejumlah daerah. Namun, tidak semua wilayah mengalami kondisi serupa. Beberapa kabupaten justru masih mencatat kenaikan harga ayam ras.
Kabupaten Bener Meriah di Aceh menjadi wilayah dengan kenaikan IPH tertinggi, yakni mencapai 37,05 persen. Harga ayam ras di daerah tersebut tercatat sebesar Rp45.417 per kilogram pada pekan keempat Januari, atau sekitar 13,5 persen di atas HAP. Kenaikan harga juga tercatat di Kabupaten Pesisir Selatan, dengan harga ayam ras yang bertahan di kisaran Rp45.000 per kilogram.
BPS menilai wilayah Indonesia bagian timur masih menghadapi tekanan harga ayam ras akibat distribusi yang terbatas dan pasokan yang belum sepenuhnya merata.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi II Bidang Perekonomian dan Pangan Kantor Staf Presiden (KSP), Popy Rufaidah menyoroti masih terjadinya ketimpangan harga pangan antarwilayah. “Ini menunjukkan bahwa tekanan harga belum merata di seluruh daerah, meskipun secara agregat pasokan nasional relatif aman,” katanya.
Ia menambahkan bahwa disparitas harga masih cukup lebar pada sejumlah komoditas strategis, seperti bawang merah, bawang putih, beras medium, cabai merah keriting, cabai rawit merah, serta daging ayam ras. Adapun gula pasir curah tercatat mengalami perbedaan harga pada tingkat sedang.
“Pengendalian harga memerlukan penguatan kebijakan di tingkat daerah. Penguatan koordinasi Tim Pengendalian Inflasi Daerah dan dukungan distribusi pangan lintas wilayah menjadi kunci. Selain itu, pemerintah juga harus memastikan stok dan mendorong percepatan intervensi pasar pada komoditas yang rentan bergejolak,” tambahnya.
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Poultry Indonesia