Brooding adalah masa penentuan apakah ayam kelak akan kuat, seragam, produktif dan mampu mencapai potensi genetiknya.
Dalam industri perunggasan modern, baik broiler maupun layer, brooding selalu menjadi topik yang tidak pernah habis dibahas. Banyak peternak menganggap fase awal ini sebagai rutinitas yang membosankan, pekerjaan yang “itu-itu saja”. Namun kenyataannya, fase brooding justru menentukan hingga 80% keberhasilan performa ayam pada periode produksi berikutnya.
Tanpa brooding yang benar, performa ayam akan kedodoran, biaya perawatan meningkat, dan hasil akhir sulit bersaing. Brooding bukan sekadar pemanas menyala dan pakan disiapkan. Brooding adalah investasi biologis, pondasi yang menentukan apakah produksi akan maksimal.
Menurut I Dewa Made Santana selaku General Manager Customer Care and Technical Service CPI saat ditemui di CPI Ancol, Jakarta Utara pada Senin, (5/12) saat fase brooding itu terjadi pembangunan terbesar dalam tubuh ayam, terutama pada sistem imun, pencernaan, organ vital serta pertumbuhan tulang dan fondasi otot, semua terjadi saat fase brooding.
“Saat brooding terbentuk lebih dari 70% sel imun ayam berada di saluran cerna, begitupun dengan sistem pencernaan dimana vili usus berkembang pesat pada 7 hari pertama, organ vital seperti hati, jantung, paru-paru, pankreas, semuanya berkembang intensif serta pertumbuhan tulang dan fondasi otot”.
Jika fase ini gagal, konsekuensinya tidak main-main feed intake harian akan rendah, FCR memburuk, pertumbuhan lambat, keseragaman kacau, ayam lebih mudah sakit, dan biaya produksi pasti membengkak. Tidak ada fase lain yang bisa “menebus kesalahan” pada brooding. Kerusakan di awal tidak dapat diperbaiki sepenuhnya.
Persiapan Kandang, Langkah yang Sering Diabaikan
Sebelum bicara tentang suhu, pakan, dan ventilasi, ada satu hal fundamental yang sering dilupakan peternak adalah persiapan kandang yang matang. Banyak peternak hanya sekadar membersihkan permukaan lantai dan dinding saja. Ada yang menyemprot desinfektan tanpa insektisida. Ada pula yang mengabaikan sisa-sisa bulu dan sarang laba-laba karena merasa “periode sebelumnya aman-aman saja”. Padahal, justru pada fase inilah seluruh siklus penyakit yang mungkin menempel dari periode sebelumnya harus diputus.
“Persiapan kandang yang ideal itu cakupannya banyak sekali, mulai dari membersihkan total semua debu, bulu, sarang laba-laba, dan kotoran, mencuci kandang hingga benar-benar bersih, termasuk peralatan. Dilanjutkan dengan menyemprot insektisida, lalu membiarkan residunya bekerja selama 24 jam penuh. Selain itu juga melakukan desinfeksi berulang, minimal 2–3 kali sebelum ayam masuk. Menutup kandang (down time) minimal 14 hari agar patogen benar-benar menurun populasinya”.
Artikel ini merupakan potongan dari rubrik Tata Laksana pada majalah Poultry Indonesia edisi Maret 2026. Baca selengkapnya di Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2026, dan untuk berlangganan atau informasi lebih lanjut, hubungi: https://wa.me/+6287780120754 atau sirkulasipoultry@gmail.com
Dapatkan informasi lainnya mengenai Industri Perunggasan di Indonesia dengan bergabung bersama kami di WhatsApp Channel Satwa Media Group.










